Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali meningkat. Dua gunung api aktif, yakni Gunung Marapi di Sumatera Barat dan Gunung Semeru di Jawa Timur, dilaporkan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, Selasa malam hingga Rabu 14 Januari 2026 siang.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat di sekitar kedua gunung tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi bahaya yang berbeda dari masing-masing gunung.
Marapi: Lontaran Batu Pijar dan Ancaman Lahar
Di Sumatera Barat, Gunung Marapi kembali erupsi pada Selasa, 13 Januari 2026 malam. Berbeda dari biasanya, erupsi kali ini disertai lontaran batu pijar dari puncak kawah yang terlihat menyala dalam kegelapan.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Marapi melaporkan, erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30,3 mm dan durasi sekitar 35 detik. Meski begitu, ketinggian kolom abu tidak teramati secara visual karena tertutup kabut dan kondisi cuaca.
Selain ancaman letusan, masyarakat yang bermukim di sekitar lembah dan lereng Gunung Marapi diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan atau lahar dingin. Curah hujan yang tinggi saat ini dapat memicu material vulkanik sisa erupsi turun menerjang aliran sungai.
Semeru: Awan Panas Sejauh 5 Km
Sementara itu di Lumajang, Jawa Timur, Gunung Semeru menunjukkan aktivitas yang lebih agresif pada Rabu 14 Januari siang. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memuntahkan awan panas guguran yang meluncur deras ke arah sisi Tenggara atau Besuk Kobokan.
Jarak luncur awan panas tercatat mencapai 5 kilometer (km) dari puncak. Saat ini, status Gunung Semeru masih bertahan di Level III atau Siaga.
Otoritas terkait telah menetapkan zona bahaya yang harus disterilkan dari aktivitas warga yakni radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru. Warga juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 Km dari puncak, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.



