GenPI.co - Pengamat Politik Citra Institute Efriza menilai Pilkada melalui DPRD, berisiko melahirkan pemimpin yang tak punya legitimasi kuat di mata publik.
“Pilkada tak langsung itu, saat pemimpin terpilih tak bisa memberi manfaat untuk rakyat,” katanya dikutip dari Antara, Kamis (15/1).
Dia menyampaikan kondisi tersebut, bukan kesalahan rakyat. Tetapi, kandidat yang dicalonkan tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Menurut dia, masalah utama bukan pada kemampuan rakyat dalam memilih. Namun, persoalannya pada kualitas kandidat yang diajukan para elite politik.
Efriza mengungkapkan Pilkada melalui DPRD juga berisiko menjauhkan rakyat dari proses demokrasi.
Dia menyebut sistem pemilihan kepala daerah secara tak langsung itu, membuka ruang ketidakadilan tata ruang Pilkada.
“Pilkada tak langsung, seperti ditarik ke Orde Baru. Ada ketidakadilan, jika dilaksanakan. Ada kesemrawutan pada pengurusan Pilkada,” ucapnya.
Efriza juga menyinggung portensi menguatkan praktik elitisme dan politik transaksional pada Pilkada melalui DPRD.
Sebab, akses kekuasaan nantinya semakin sempit dan terbatas di lingkaran para elite politik tertentu.
“Kecenderungan (biaya politik) akan lebih mahal, justru lebih besar. Sebab, hanya para elite politik saja yang punya akses,” ucapnya. (ant)
Video viral hari ini:




