Overthingking sering muncul diam-diam saat kalender berganti dan angka tahun bertambah. Overthinking di awal tahun bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan, melainkan respons psikologis ketika hidup seolah diminta untuk dievaluasi ulang. Januari hadir sebagai simbol awal baru, namun justru di momen inilah pikiran terasa paling riuh, seakan semua keputusan, kegagalan, dan harapan harus diberi makna sekaligus.
Penelitian menunjukkan bahwa periode transisi waktu, seperti pergantian tahun, memicu peningkatan refleksi diri dan evaluasi identitas. Dai, Milkman, dan Riis (2014) menyebut fenomena ini sebagai fresh start effect, di mana titik waktu simbolik mendorong individu melakukan evaluasi hidup yang intens. Sayangnya, refleksi ini sering berubah menjadi overthinking ketika ekspektasi perubahan tidak sejalan dengan kondisi aktual. Apakah aku benar-benar butuh perubahan besar, atau hanya sedang terjebak ilusi “harus mulai ulang”?
Awal tahun juga memperkuat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Teori social comparison menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai dirinya melalui pencapaian orang lain, terutama dalam konteks yang tidak pasti (Festinger, 1954). Di Januari, ketika linimasa dipenuhi resolusi dan pencapaian, overthinking menemukan bahan bakarnya. Apakah perbandingan ini membantuku bertumbuh, atau justru menjauhkan aku dari diriku sendiri?
Dalam perspektif motion coaching, overthinking dipahami bukan sebagai kesalahan berpikir, melainkan tanda adanya energi mental yang terhenti. Riset tentang embodied cognition menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh saling memengaruhi; kejelasan kognitif sering kali muncul setelah adanya gerak fisik atau tindakan konkret (Barsalou, 2008). Motion coaching memanfaatkan prinsip ini dengan mengajak individu bergerak terlebih dahulu, secara fisik maupun perilaku, agar pikiran tidak terus berputar di tempat. Apa satu gerakan kecil yang bisa aku lakukan hari ini untuk memecah kebuntuan di kepalaku?
Overthinking juga berkaitan erat dengan ruminasi, yaitu pola pikir berulang yang pasif. Studi Moberly dan Watkins (2008) menemukan bahwa tindakan aktif dan terarah secara signifikan mengurangi ruminasi dibanding hanya berpikir atau menganalisis masalah. Inilah mengapa motion coaching tidak berhenti pada refleksi, tetapi menekankan aksi kecil yang sadar. Apakah aku benar-benar sedang mencari jawaban, atau hanya menunda dengan berpikir terus-menerus?
Tekanan untuk “harus jelas di awal tahun” sering kali bertabrakan dengan kapasitas emosi dan energi yang belum pulih sepenuhnya. Penelitian tentang self-regulation menunjukkan bahwa kontrol diri dan kejernihan menurun ketika individu berada dalam kondisi lelah secara mental maupun emosional (Baumeister et al., 2007). Dalam kondisi ini, overthinking muncul sebagai upaya otak untuk tetap merasa memegang kendali. Motion coaching justru mengajak untuk menurunkan tuntutan kognitif dan menaikkan kesadaran tubuh. Apa yang berubah jika aku berhenti memaksa diriku berpikir jernih, dan mulai merawat energiku terlebih dahulu?
Penting untuk disadari bahwa overthinking di awal tahun tidak selalu perlu dihentikan. Ia perlu diarahkan. Motion coaching memandang overthinking sebagai bahan bakar refleksi yang sehat ketika diikuti oleh gerak yang bermakna. Bukan menunggu motivasi besar atau kejelasan sempurna, melainkan membiarkan kejelasan tumbuh dari proses bergerak itu sendiri. Apakah aku berani melangkah meski belum sepenuhnya yakin?
Pada akhirnya, overthinking di Januari adalah tanda bahwa harapan masih hidup. Pikiran yang ramai menunjukkan adanya nilai, makna, dan arah yang ingin dijaga. Dengan pendekatan motion coaching, awal tahun tidak harus menjadi momen kepastian total, melainkan ruang latihan: bergerak perlahan, mendengarkan sinyal pikiran, dan membiarkan jawaban muncul seiring langkah. Karena terkadang, ketenangan bukan hasil dari berpikir lebih lama, melainkan dari keberanian untuk mulai bergerak.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468616/original/070361900_1767962750-WhatsApp_Image_2026-01-09_at_16.33.08.jpeg)

