Wall Street Melemah, Saham Teknologi dan Bank Tertekan

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/1), dengan tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan perbankan. Investor mulai meninggalkan saham-saham berisiko tinggi dan beralih ke sektor yang lebih defensif di tengah ketidakpastian kebijakan dan hasil kinerja emiten yang tidak sepenuhnya memuaskan.

Mengutip Reuters pada Kamis (15/1), S&P 500 (.SPX) turun 36,71 poin atau 0,53 persen ke level 6.927,03. Nasdaq Composite (.IXIC) jatuh 228,69 poin atau 0,96 persen ke 23.481,19. Sementara Dow Jones Industrial Average (.DJI) melemah 33,37 poin atau 0,07 persen ke 49.158,62.

Di mana, Indeks Nasdaq memimpin penurunan seiring aksi jual saham teknologi, sementara saham perbankan kembali tertekan setelah laporan keuangan kuartal terbaru menunjukkan hasil yang beragam.

Indeks perbankan S&P 500 mencatat penurunan signifikan, dipicu oleh anjloknya saham Wells Fargo setelah gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat.

Tekanan juga terjadi pada saham Citigroup dan Bank of America. Kedua bank tersebut tetap melemah meskipun membukukan laba di atas perkiraan analis, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek sektor keuangan ke depan.

Sektor keuangan yang sebelumnya mencatat penguatan kuat sepanjang 2025 kini menghadapi tekanan akibat kekhawatiran pasar terhadap rencana Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit. Kebijakan ini dinilai berpotensi menekan profitabilitas bank dan mempersempit ruang gerak bisnis keuangan.

"Setelah kenaikan yang bagus, dan pendapatan yang biasa-biasa saja atau medioker, Anda akan melihat aksi ambil untung dan konsolidasi," ucap Chief market strategist at JonesTrading in Stamford, Connecticut, Michael O’Rourke.

Di sektor teknologi, ia mengatakan investor mulai melakukan rotasi dari saham-saham megacap yang mahal ke saham bernilai dan sektor yang lebih defensif.

Sektor keuangan S&P 500 (.SPSY) dan sektor teknologi S&P 500 (.SPLRCT) melemah, sementara kelompok defensif seperti consumer staples (.SPLRCS) justru menguat. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 (.RUT), yang mengungguli S&P 500 sepanjang tahun ini, juga mencatatkan kenaikan.

Saham Broadcom (AVGO.O), Palo Alto Networks (PANW.O), dan Fortinet (FTNT.O) turun setelah laporan Reuters menyebutkan otoritas China memerintahkan perusahaan domestik untuk menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan AS dan Israel.

Di sisi lain, saham energi menguat seiring naiknya harga minyak pada awal perdagangan karena kekhawatiran gangguan pasokan Iran akibat potensi serangan AS. Harga minyak kemudian melemah setelah Trump mengatakan bahwa ia diberi tahu pembunuhan dalam penindakan keras terhadap protes nasional di Iran mulai mereda.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polsek Pesanggrahan Terus Beri Pendampingan Pemulihan Bagi Keluarga Almarhum Alvaro
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Marak Gambar AI Berbau Seksual, Serikat Guru AS Tinggalkan X
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Jejak Hidayah Choi Daehwan, Mahasiswa Korea yang Menemukan Islam di Bekasi
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Baleg DPR Tancap Gas, RUU Pemerintahan Aceh Ditarget Rampung 2026
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Waspada! BMKG Ungkap Potensi Hujan Sangat Lebat dan Petir di Sejumlah Kota Besar Kamis (15/1)
• 3 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.