Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi RI Kuat, Pelemahan Rupiah Tak Akan Lama

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengkaim fundamental ekonomi Indonesia sehingga tren depresiasi rupiah tidak akan terjadi dalam waktu yang lama. 

Purbaya bahkan meyakini aliran modal asing, maupun milik investor dalam negeri yang disimpan di luar negeri, akan kembali ke pasar keuangan RI. 

"Orang Indonesia yang naruh uangnya di luar negeri juga akan balik. Kenapa? Dia akan berbisnis di sini karena orang Indonesia enggak bisa berbisnis di luar negeri, mereka enggak biasa bersaing sehat di sana," terang mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu, dikutip Kamis (15/1/2025).

Purbaya menekankan bahwa upaya stabilisasi nilai tukar rupiah merupakan urusan Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral. Namun demikian, dia menyebut rupiah akan kembali menguat sejalan dengan perbaikan ekonomi ke depannya. 

"Karena modal-modal asing akan masuk. Mereka akan masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi. Kita kan kemarin mungkin triwulan keempat [2025] 5,45% kali ya. Triwulan tahun-tahun ini mungkin kita bisa tumbuh ke arah 6%. Kami akan dorong ke arah sana," jelasnya kepada wartawan saat ditemui di IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). 

Bisa Tembus Rp17.000 per Dolar

Managing Director Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari memprediksi nilai tukar rupiah per dolar Amerika Serikat (AS) bisa semakin mengalami tekanan akibat kinerja neraca pembayaran. Dia memprediksi nilai tukar rupiah bisa tembus Rp17.000 per dolar AS utamanya akibat defisit transaksi modal dan finansial. 

Baca Juga

  • Tren Depresiasi Rupiah Berisiko Berlanjut, Jurus Purbaya dan BI Bakal Manjur?
  • Beda Arah Pasar Saham vs Pasar Uang, IHSG Rekor 9.000 Kala Rupiah Terpuruk
  • Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026

"Kita mungkin akan terus melihat tekanan depresiasi pada rupiah karena neraca pembayaran. Kami pikir, pada akhir 2026, kita mungkin akan berada di angka Rp17.000 [per dolar AS] atau di kisaran itu," terangnya pada media briefing, Senin (12/1/2026).

Menurut Pranjul, faktor yang membuat ketahanan eksternal RI rentan cenderung disebabkan oleh aliran modal asing keluar atau capital outflow baik di pasar saham maupun obligasi.  

Dia melihat hal tersebut berdasarkan kondisi aliran modal asing dalam bentuk portofolio sepanjang 2025, sekaligus capaian penanaman modal asing (PMA) jangka panjang atau foreign direct investment (FDI). 

Di sisi lain, dia memandang current account deficit (CAD) dari sisi perdagangan barang masih menunjukkan performa yang baik di 2025. Hal itu terlihat dari posisi cadangan devisa Indonesia yang dilaporkan masih berada di level US$156,5 miliar per akhir Desember tahun lalu. 

Kinerja neraca perdagangan pun masih menunjukkan tren positif, di mana surplus berlanjut hingga 67 bulan beruntun sampai dengan November 2025 lalu.  "Saya pikir apa yang terjadi di Indonesia bahwa perdagangan bukan suatu masalah yang mencolok saat ini. Surplus neraca dagang juga cukup kuat pada 2025," terangnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bantah Gelapkan Dana, Suami Boiyen: Kalau Tidak Untung, Apa yang Mau Dibagikan?
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Menteri KKP Lepas Ribuan Taruna ke Daerah Terdampak Bencana Sumatera, Ini Tugasnya
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Desain Layar iPhone 18 Mulai Terungkap, Model Pro Alami Perubahan Besar
• 4 jam lalumerahputih.com
thumb
Diteror usai Bicara soal Bencana Sumatera, Aktivis Greenpeace dan Kreator Konten Lapor Polisi
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
P2MI Tegaskan Perluas Akses Pendidikan bagi Pekerja Migran
• 13 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.