Fenomena Peristiwa Isra dan Mi’raj

fajar.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Muhammad Tariq
(Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir, UIN Alauddin Makassar)

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1).

Berangkat dari ayat tersebut penulis sangat penasaran dan kagum dengan peristiwa Isra dan Mi’raj yang menjadi sejarah luar biasa bagi umat beragama Islam.

Sebagaimana kisah peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang mempunyai kedudukan istimewa dalam sistem ajaran Islam. Negara Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, telah menjadikan peristiwa ini sebagai hari peringatan yang istimewa, itu terbukti karena dijadikannya sebagai hari libur nasional dan umat yang beragama Islam semestinya harus mengetahuj peristiwa fenomenal dan bersejarah ini.

Kalau kita ingin memahami secara epistemologi, Isra’ Mi’raj merupakan dua gabungan dari kata “Isra” dan “Mi’raj” yang bermaksud proses perjalanan dan naiknya Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT. Isra’ secara Bahasa bermakna “perjalanan” di malam hari, sementara menurut istilah adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha di Jerussalem, Palestina.

Sedangkan “Mi’raj” secara bahasa bermakna “tangga”, dan secara istilah bermakna perjalanan Nabi dari Bumi menuju langit ketujuh hingga sampai Sidratul Muntaha. Isra’ dan Mi’raj, sejak kelahirannya, merupakan salah satu pristiwa kontroversial dalam sejarah peradaban Islam. Sehingga, dalam perkembangganya, Isra Mi’raj menjadi salah satu persoalan teologis bagi umat Islam awal (generasi al-sabiqun al-awwalun).

Selain itu Isra Mi’raj merupakan momentum krusial bagi pengikut Nabi sekaligus kepercayaan dan komitmen umat kepada pemimpinnya, bahkan dicap kafir atau keluar dari barisan umat Islam jika tidak meyakininya. Tapi sebaliknya, bagi mereka yang yakin dan meyakini tentang kenabian Muhammad SAW, maka mereka berhak menyandang sebagai persatuan umat Islam.

Pada mulanya, Isra’ ialah merupakan kisah tentang perjalanan malam Nabi dari Masjid al-Haram Makkah ke Masjid al-Aqsha Palestina. Sementara Mikraj adalah proses Nabi Muhammad SAW naik dari Masjid al-Aqsha menuju Sidrat al-Muntaha, sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa.

Dengan situasi kemajuan manusia masa lalu, hal ini memicu berbagai perdebatan dan perselisihan di antara umat, baik internal maupun eksternal Islam. Berkat peristiwa Isra Mi’raj, umat Islam mendapatkan mandat langit untuk menjalankan salat lima waktu sehari semalam, sebagai wujud kebaktian dan kesetiaan kepada Tuhan, Penguasa Semesta.

Namun, secara umum Isra adalah perjalanan malam hari dari Mekkah ke Baitil Maqdis (Palestina) dan Mi’raj adalah naik ke langit sampai ke langit ketujuh dan bahkan sampai ke tempat yang lebih tinggi yaitu Sidrotul Muntaha dan Mustawa.

Isra dan Mi’raj dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ditemani Malaikat Jibril setahun sebelum beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah yaitu pada tanggal 27 Rajab (621 M). Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam memandang perjalanan Rasullah SAW ini apakah dengan ruh dan jasad ataukah dengan ruhnya saja.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya dan akhirnya kembali ke Makkah dalam waktu sangat singkat merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi sesudah Al-Qur’an. Peristiwa ini membuktikan bahwa ilmu dan kuasa Allah SWT meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi dan melampaui, segala yang terbatas dan tak terbatas tanpa terbatas waktu atau ruang.

Meyakini Isra Mi’raj

Kaum empiris yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu dapat saja menggugat: bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh pendekatan saintifik. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.

Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imani. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.” Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani dan keyakinan kita sebagai umat yang beragama Islam.

Ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagian suratnya maupun dalam ayat-ayatnya yang lebih terinci khusunya dalam QS. Al- Isra: 1. Semoga kita semuanya mendapatkan hikmah dari Allah SWT dengan terjadinya kisah peristiwa yang luar biasa ini. Amin Ya Rabbal Alamin. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
TNI Raih Predikat Pelayanan Prima pada Indeks Pelayanan Publik Tahun 2025
• 58 menit lalutvrinews.com
thumb
Peran Kemendagri Dinilai Krusial Percepat Penyediaan Lahan 83 Ribu Koperasi Desa Merah Putih
• 1 jam lalupantau.com
thumb
PELNI Logistics targetkan pendapatan usaha Rp568,44 miliar pada 2026
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Kewajiban yang Harus Dipenuhi Denada Bila Ressa Ternyata Anak Kandungnya
• 18 jam laluinsertlive.com
thumb
Tunda Bayar Tiga Tahun Berturut-turut di Bengkalis, Pengamat Soroti Tata Kelola APBD
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.