PT PBM Sarana Bandar Nasional (Pelni Logistics), anak usaha Pelni, memperkuat kapasitas depo peti kemas sebagai tulang punggung operasional. Dalam waktu dekat, perusahaan akan memperluas tiga depo utama yang berlokasi di Surabaya, Makassar, dan Batam untuk mendukung kelancaran arus logistik nasional.
Direktur Utama Pelni Logistics Sukendra menjelaskan, luas depo kontainer idealnya berada di kisaran 15.000 meter persegi. Langkah perluasan infrastruktur tersebut guna mengatasi keterbatasan ruang akibat meningkatnya aktivitas kontainer.
"Di Surabaya, kami dapat tambahan area seluas 3.000 meter persegi," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/1).
Baca juga : Bantuan Terus Mengalir, Pelni Bebaskan Biaya Pengiriman
Sukendra menyampaikan masalah terbesar di depo itu ada pada pengelolaan kontainer rusak. Kontainer yang masih layak pakai dan yang rusak harus dipisahkan. Sementara kontainer rusak itu ada dua jenis. Yakni, masih bisa diperbaiki dan yang sudah tidak bisa dipakai lagi.
"Semua ini membutuhkan ruang tersendiri agar tidak mengganggu operasi utama,” ujar Sukendra.
Menurutnya, perluasan depo tersebut akan digunakan khusus untuk menampung kontainer bermasalah, sehingga area utama dapat difokuskan untuk aktivitas kontainer yang sehat, seperti stuffing dan stripping, yakni proses pengisian dan pengosongan kontainer.
Baca juga : Pelni dan ASDP Diminta Siaga Hadapi Nataru dan Tanggap Darurat Bencana
Selain itu, Pelni Logistics juga mulai mengadopsi teknologi otomatisasi di depo. Peralatan bongkar muat kini dioperasikan secara robotik tanpa operator langsung di lapangan, sehingga meningkatkan efisiensi dan akurasi operasional.
Dalam konteks rantai logistik, Sukendra menjelaskan pelabuhan di Indonesia memiliki peran yang berbeda sebagai loading port (pelabuhan muat) dan discharging port (pelabuhan bongkar). Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar berfungsi sebagai loading port terbesar karena menjadi pusat industri dan pengiriman barang ke berbagai wilayah.
“Makassar sekarang juga sudah berkembang pesat sebagai pusat industri di Indonesia Timur, sehingga menjadi salah satu loading port utama. Manado dan Batam juga mulai berkembang sebagai pelabuhan muat,” katanya.
Batam, lanjut Sukendra, memiliki peran strategis sebagai pelabuhan transit internasional. Banyak barang impor dari Eropa atau negara lain tidak langsung masuk ke pelabuhan-pelabuhan di daerah, melainkan melalui Singapura terlebih dahulu, lalu diteruskan ke Jakarta, Surabaya, atau Batam sebelum dikirim ke tujuan akhir di Indonesia.
“Pintu masuk impor dan ekspor itu terbatas. Kapal dari Eropa, misalnya, tidak langsung ke Ambon, tapi ke Singapura, lalu naik kapal feeder ke Jakarta atau Surabaya, baru diteruskan ke daerah. Karena itu, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Batam menjadi gerbang utama,” jelasnya.
Pemerintah, menurut Sukendra, juga mendorong Batam untuk berkembang seperti Singapura melalui skema Free Trade Zone (FTZ). Harapannya, sebagian arus perdagangan internasional yang padat di Singapura dapat dialihkan ke Batam, sehingga Indonesia memperoleh tambahan devisa dari aktivitas transit dan bongkar muat barang.
“Kalau Singapura sudah penuh, sebagian aktivitas bisa bergeser ke Batam. Itu yang ingin kita dorong bersama, agar Batam menjadi hub logistik internasional yang memberi nilai tambah bagi Indonesia,” pungkasnya.
Pada 2026, Pelni Logistics membidik volume general kargo mencapai lebih dari 427 ribu ton/m³, yang berasal dari layanan bongkar muat kapal tol laut, kapal penumpang, serta pengelolaan kargo non-captive. Sementara itu, untuk angkutan kendaraan, perusahaan menargetkan pengelolaan mencapai 14.464 unit, seiring meningkatnya mobilitas logistik dan distribusi kendaraan antarpulau
Anak usaha Pelni itu juga menargetkan kinerja bongkar muat peti kemas mencapai 56.482 twenty-foot equivalent units (TEUs) sepanjang tahun ini. Target ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam memperkuat peran sebagai pilar konektivitas logistik maritim nasional, khususnya dalam mendukung distribusi barang antarpulau. (E-4)




