Begini Asal Mula Nama Jalan Palmerah yang Ternyata Berakar dari Masa Kolonial

insertlive.com
8 jam lalu
Cover Berita

Palmerah telah menjadi ruang bagi padatnya ritme aktivitas warga Jakarta yang nyaris tak pernah berhenti.

Tak pernah lepas dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan, Palmerah berkembang sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan tinggi, mulai dari deretan pemukiman warga, gedung perkantoran, hingga akses transportasi umum Stasiun Palmerah.

Sebelum menjadi pusat bisnis, Palmerah sudah berdiri sejak masa kolonial Hindia Belanda dan menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Penamaan Jalan Palmerah sendiri diserap dari istilah Belanda, yakni Paal Merah. Paal adalah tiang-tiang patokan batas wilayah yang berada di sekitar pinggir jalan di wilayah tersebut, sedangkan Merah adalah warna dari tiang-tiang itu. Keberadaan tiang-tiang inilah yang menjadi dasar penamaan dari Palmerah.

Tiang pembatas tersebut berfungsi untuk menandai rute dari Batavia (Jakarta) ke arah Buitenzorg (Bogor) pada masa penjajahan Belanda.

Dulunya, Palmerah merupakan wilayah yang kerap dilalui oleh para pejabat yang bepergian ke Istana Bogor menggunakan kereta kuda mereka. Rombongan pejabat itu akan melewati jalan yang telah dipatok oleh tiang-tiang merah. Biasanya, mereka juga akan singgah sejenak sembari mengistirahatkan kudanya di Pos Pengumben yang berlokasi tidak jauh.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat menjadikan kumpulan tiang atau patok merah itu sebagai penanda dari kawasan tersebut, hingga akhirnya dikenal sebagai kawasan Palmerah.

Di tahun 1980-an, sebuah perusahaan kereta api bernama Staatsspoorwegen membangun jalur kereta api dan beberapa stasiun, termasuk Stasiun Palmerah. Pembangunan tersebut bertujuan untuk memberi akses mobilitas bagi warga Banten, tepatnya Batavia (sekarang Jakarta) ke Rangkasbitung.

Keberadaan jalur dan stasiun kereta api ini membuat wilayah Palmerah semakin berkembang dan ramai penduduk. Selain transportasi kereta api, Palmerah juga menjadi tempat berdirinya dua vila megah milik pejabat tinggi VOC, Andries Hartsinck.

Vila pertamanya dijuluki Landhuis Djipang atau Landhuis Depan. Lokasinya berada di Palmerah Selatan. Sementara vila satunya disebut sebagai Landhuis Grogol, berada di Palmerah Barat.

Di depan vila Landhuis Djipang terdapat menara lonceng yang kerap digunakan sebagai penanda jam kerja bagi para budak pada saat itu.

Hingga ke abad 20, vila-vila tersebut mengalami banyak perubahan dan beralih fungsi menjadi tanah hunian yang padat penduduk. Di tengah kepadatan itu, lonceng tersebut masih berdiri kokoh dan tersimpan di dalam menara beton di halaman kantor rukun warga.

Bangunan vila serta lonceng tersebut menjadi saksi sejarah dari wilayah yang kini menjadi pusat perkantoran dengan deretan gedung tinggi serta hiruk pikuk aktivitas warga di Jakarta, yaitu Palmerah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bursa Transfer Musim Dingin, Tottenham Amankan Pemain Top Conor Gallagher
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Mensesneg: Prabowo Ajak 1.200 Rektor-Guru Besar, Bahas Kondisi Negara-Geopolitik
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Hoffenheim bantai Monchengladbach, RB Leipzig atasi Freiburg
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Pratikno Tekankan Bantuan Buat Korban Bencana Sumatera Harus Tepat Sasaran
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Buntut Dugaan Penipuan Berkedok Penerimaan Akpol, Adly Fairuz Dijadwalkan Jalani Persidangan
• 4 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.