JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Kota Jakarta Timur menegaskan cekungan di Jalan Pulomas, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, bukan merupakan kawasan resapan air, melainkan lahan dengan peruntukan komersial sesuai data perizinan resmi pemerintah.
Kepastian tersebut disampaikan Lurah Kayu Putih, Tuti Sugihastuti, setelah terhadap data perizinan yang tercatat di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Jakarta Timur.
“Kami tadi sudah mengecek peruntukannya memang area tersebut perizinannya untuk komersil,” jelas Tuti saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Fakta di Balik Cekungan Pulomas yang Diuruk, Benarkah Area Resapan Air?
Dengan demikian, Tuti menegaskan, narasi yang beredar di media sosial dan menyebut lokasi tersebut sebagai kawasan resapan air tidak sesuai dengan data resmi pemerintah.
Selain menyoal status lahan, Tuti juga menyampaikan keberadaan cekungan tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga. Ia mengungkapkan, lokasi itu pernah menjadi tempat terjadinya kecelakaan fatal yang merenggut nyawa anak-anak.
“Pengurukan area terswbut dikarenakan membahayakan warga. Seperti insiden 2023, ketika ada empat anak yang berenang, dua meninggal dunia,” jelasnya.
Sebelumnya, area di Jalan Pulomas, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, yang diduga sebagai kawasan resapan air, menjadi sorotan publik karena diduga telah mengalami pengurukan.
Dugaan tersebut mencuat setelah sebuah video diunggah oleh akun Instagram @hermanyosephsimamora. Dalam video itu terlihat area yang disebut-sebut sebagai resapan air telah ditimbun tanah.
Sebagian lahan tampak telah tertutup tanah urukan, sementara sebagian lainnya masih tergenang air.
Baca juga: Pernah Tewaskan 2 Anak, Area yang Diduga Resapan Air di Pulomas Dinilai Berbahaya
Lokasi tersebut juga dibatasi pagar berwarna hitam yang ditumbuhi tanaman. Di sejumlah titik, pinggiran area yang tergenang air masih terlihat ditumbuhi beberapa pohon.
Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Rabu (14/1/2026) siang, kawasan tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 200 meter. Sebagian besar area telah tertutup tanah urukan dan ditumbuhi tanaman liar seperti rumput.
Dari hasil pengamatan di lapangan, kawasan tersebut juga tidak tampak terhubung dengan saluran air maupun aliran kali di sekitarnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


