5 Kebiasaan Buruk dalam Keuangan yang Harus Dihilangkan Agar Tidak Bangkrut

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Alih-alih membuat target dan memaksakan diri untuk melaksanakannya, Anda bisa memulai dengan mengurangi kebiasaan keuangan yang buruk terlebih dahulu.

5 Kebiasaan Buruk dalam Keuangan yang Harus Dihilangkan Agar Tidak Bangkrut. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Awal tahun umumnya disambut dengan berbagai resolusi, salah satunya resolusi keuangan. Banyak orang merencanakan perubahan saat memasuki tahun baru demi target tertentu. 

Dalam resolusi keuangan, target yang umum ingin dicapai adalah mulai menabung dan mulai mengatur pengeluaran. Dua hal ini terdengar sepele, tetapi banyak orang gagal merealisasikannya hingga akhir tahun. 

Baca Juga:
5 Kesalahan Umum Berinvestasi Emas yang Wajib Dihindari Biar Tidak Rugi

Ada yang surut semangat di tengah perjalanan hingga kehilangan konsistensi, ada yang salah menerapkan strategi, ada juga yang kalah dengan godaan dan akhirnya melanggar resolusi yang dibuatnya sendiri. 

Agar mudah menjalankan resolusi, Anda dapat membuat resolusi yang sederhana. Alih-alih membuat target angka yang pakem dan memaksakan diri untuk melaksanakannya, Anda bisa memulai dengan mengurangi kebiasaan keuangan yang buruk terlebih dahulu. 

Baca Juga:
5 Kesalahan saat Menabung yang Sering Terjadi Tanpa Anda Sadari

Melansir OCBC NISP (15/1/2026), berikut ini adalah 5 kebiasaan buruk dalam keuangan yang harus dihilangkan untuk melatih kedisiplinan finansial tahun ini. 

5 Kebiasaan Buruk dalam Keuangan yang Harus Dihilangkan  1. Sering ‘Nombok’ dengan Pinjam ke Orang Terdekat

Data dari OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan bahwa 39 persen orang masih sering meminjam uang ke teman/keluarga dan digunakan untuk memenuhi gaya hidup. 

Baca Juga:
5 Kesalahan Finansial di Usia 20-an yang Harus Dihindari Agar Tidak Bangkrut

Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari masyarakat yang masih mengadopsi gaya hidup seperti peribahasa ‘lebih besar pasak daripada tiang.’ Jika Anda memiliki kebiasaan ini, upayakan untuk mulai menghentikannya. 

2. Gaji Baru Masuk dan Langsung Habis 

Indeks yang sama juga menyebutkan 14 persen masyarakat memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan.

Tak sedikit orang yang langsung kehabisan uang setelah menerima gaji. Bukan karena kebutuhan pokok dan kewajiban finansialnya banyak, tetapi karena hal-hal lain yang bersifat tidak urgent. 

Ini terjadi karena setelah menerima gaji, individu biasanya merasa memiliki banyak uang, lalu menggunakannya tanpa pikir panjang untuk berbelanja, membeli hal-hal yang kurang penting. Kemudian tanpa terasa, gaji tersisa pas-pasan. 

3. Membayar Tagihan Kredit dengan Nilai Minimum 

Membayar tagihan kartu kredit dengan nominal paling minimum mungkin terasa melegakan, tetapi hanya untuk jangka pendek. Padahal kebiasaan ini bisa
menjadi jebakan finansial untuk ke depannya. 

Data Financial Fitness Index 202 dari OCBC NISP menunjukkan bahwa 56 persen nasabah hanya membayar tagihan minimum kartu kreditnya. Jika dibiarkan, kartu kredit yang semula jadi alat bantu justru berubah menjadi beban jangka panjang.

Sebab nasabah menumpuk sisa utangnya, dan utang tersebut dapat bertambah nilainya jika transaksi yang digunakan memiliki bunga. 

4. FOMO (Fear of Missing Out) Berlebih

Tekanan sosial memang punya pengaruh yang besar terhadap keputusan finansial seseorang. Namun bukan berarti Anda harus selalu mengikuti apa yang sedang tren di pasaran dan di kalangan pergaulan Anda. 

Menurut data Financial Fitness Index OCBC 2025, 76 persen masih menghabiskan uang yang dimiliki unuk mengikuti gaya hidup teman. Mulai dari nongkrong bersama, liburan, hingga tren belanja. 

Kebiasaan tersebut membuat individu banyak mengorbankan keuangannya demi merasa tidak ketinggalan. Padahal, kebiasaan ini dapat membuat Anda kehilangan kendali atas tujuan finansial jangka panjang.

5. Jalan Pintas Cuan Instan 

Dengan maraknya cerita di sosial media terkait cara sukses instan, pastinya keinginan untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat seringkali menggoda. 

Apabila keinginan ini diwujudkan tanpa pemahaman risiko, seringkali berujung pada kerugian. Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menyebutkan 10 persen masyarakat melakukan spekulasi berlebihan untuk keuntungan yang instan.

Padahal, tidak ada cara instan untuk mendapatkan keuntungan. Baik dari bisnis ataupun investasi. Investasi mesti dilakukan secara hati-hati dan sesuai profil risiko. Keuntungan besar dan cepat selaras risiko tinggi, sebaliknya jika risikonya rendah berarti keuntungannya pun sedang. 

Jika Anda berencana untuk mulai berinvestasi tahun ini, pastikan Anda memahami betul risiko-risiko, kelebihan serta kekurangan atas aset investasi yang Anda pilih. Baik emas, reksa dana, ataupun saham. 

Karena uang yang Anda gunakan untuk berinvestasi adalah uang nyata. Kesalahan dalam berinvestasi bisa berujung pada kerugian materiil.

Itulah 5 kebiasaan buruk dalam keuangan yang harus dihilangkan. 

(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
”Broken Strings”, Keberanian Penyintas Memutus Rantai ”Child Grooming”
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Siapkan Payung atau Ponco, Prakiraan Cuaca Hari Ini 15 Januari 2026 Dirilis BMKG: Jakarta Hujan Seharian dari Pagi hingga Malam
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Hanya Pertahankan 2 Legiun Asing, Semen Padang Datangkan 8 Pemain Impor Baru untuk Putaran Kedua Super League 2025/2026
• 11 jam lalumerahputih.com
thumb
Fakta di Balik Cekungan Pulomas yang Diuruk, Benarkah Area Resapan Air?
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Mengungsi dan Bersiap: Pengalaman Warga Indonesia yang Terdampak Kebakaran Hutan di Australia
• 27 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.