EtIndonesia. Pemberontakan nasional di Iran kini memasuki fase paling panas dan menentukan dalam sejarah modern negara tersebut. Gelombang protes anti-pemerintah yang telah berlangsung selama berminggu-minggu berubah menjadi konfrontasi terbuka berskala nasional, ketika aparat keamanan dilaporkan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga sipil.
Alih-alih meredam perlawanan, kekerasan negara justru mendorong semakin banyak rakyat Iran turun ke jalan dengan keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya.
12.000 Tewas dalam Dua Hari, Internet Diputus Total
Seorang sumber tingkat tinggi pemerintah Iran mengungkapkan kepada media oposisi Iran International bahwa sedikitnya 12.000 orang tewas, menjadikannya pembantaian terbesar dalam sejarah modern Iran.
Mayoritas korban dilaporkan jatuh pada 8–9 Januari, periode ketika pemerintah Iran memutus total jaringan internet nasional, sehingga informasi dari dalam negeri nyaris sepenuhnya terisolasi.
Pemimpin redaksi Iran International menegaskan bahwa angka tersebut bukan estimasi, melainkan bersumber dari laporan internal resmi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang diserahkan kepada pimpinan tertinggi negara.
CBS: Korban Bisa Capai 20.000 hingga 30.000 Orang
Laporan CBS mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas dalam aksi protes anti-pemerintah berpotensi mencapai 20.000 orang, bahkan bisa jauh lebih tinggi.
Informasi ini berasal dari percakapan antara klimatolog Iran, Nasser Karami, dengan seorang saksi mata di Teheran. Saksi tersebut memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat tidak turun tangan, jumlah korban bisa melampaui 30.000 orang.
Dia mengaku menyaksikan langsung hingga fajar menyingsing, warga masih membersihkan darah yang mengering di dinding, tembok luar, dan aspal jalan, sebuah gambaran yang mengguncang banyak pihak.
Militer dan Polisi Mulai Membelot
Di tengah eskalasi kekerasan, sistem penindasan negara Iran mulai menunjukkan retakan serius. Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, mengunggah sebuah video yang menyatakan bahwa ribuan personel militer dan polisi menolak masuk dinas, demi menghindari keterlibatan dalam pembantaian terhadap rakyat.
Sumber-sumber internal menyebutkan bahwa pembelotan dan peralihan kesetiaan kini terjadi baik di kalangan militer maupun sipil. Sejumlah elite rezim bahkan secara terbuka mengakui bahwa usia kekuasaan Republik Islam Iran mungkin telah mencapai ujungnya.
Isu Pelarian Pemimpin Tertinggi Mencuat
Laporan lain menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tengah bersiap meninggalkan negara atau bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan operasi “pemenggalan kepala” yang menargetkan inti kekuasaan rezim.
Para analis menilai bahwa seluruh sistem kekuasaan Iran dibangun di sekitar figur Pemimpin Tertinggi. Jika figur ini tumbang, maka tidak ada institusi lain yang mampu mempertahankan fungsi negara secara normal.
Trump Kirim Pesan Langsung ke Rakyat Iran
Pada Selasa pagi, 13 Januari (waktu Pantai Timur AS), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pesan keras kepada rakyat Iran:
“Wahai para patriot Iran, teruslah berunjuk rasa. Ambil alih institusi kalian. Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan—mereka akan membayar mahal.”
Trump juga menyatakan bahwa dia telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menegaskan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Pada hari yang sama, Amerika Serikat secara resmi menetapkan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai kelompok ekstremis, sebuah langkah yang dipandang sebagai sinyal keras terhadap jaringan pendukung rezim Iran di kawasan.
Demonstrasi Terbesar Sepanjang Sejarah Iran
Diduga terdorong oleh pesan Trump, pada Selasa malam, 13 Januari, Teheran menyaksikan demonstrasi terbesar dalam sejarah Iran, dengan lebih dari satu juta orang turun ke jalan meneriakkan tuntutan agar diktator mundur.
Di saat bersamaan, gelombang evakuasi internasional pun terjadi. Amerika Serikat, Prancis, Selandia Baru, Jepang, Tiongkok, Irlandia, Taiwan, Singapura, Inggris, dan Jerman serempak mengeluarkan peringatan keras:
“Jika Anda berada di Iran, segera tinggalkan negara itu. Jika Anda tidak berada di Iran, jangan bepergian ke sana.”
AS Perkuat Kontak dengan Oposisi Iran
Menurut laporan Axios, utusan khusus AS, Steve Witkoff diam-diam bertemu dengan Reza Pahlavi pada akhir pekan sebelum 13 Januari.
Pertemuan ini membahas gelombang protes nasional dan dinilai sebagai peningkatan signifikan keterlibatan pemerintahan Trump terhadap oposisi Iran, dengan Reza Pahlavi mulai diposisikan sebagai figur transisi potensial pasca-runtuhnya rezim Islam.
Bagi rakyat Iran, sinyal ini dipandang sebagai kemungkinan kembalinya monarki ke panggung politik, meski dalam bentuk transisi.
Isyarat Militer AS Makin Jelas
Pada 13 Januari, para senator Partai Republik AS secara terbuka menyatakan dukungan bulat terhadap kemungkinan serangan ke Iran, dengan menyebutnya sebagai jalan perubahan rezim yang diharapkan para demonstran.
Tak lama setelah Gedung Putih merilis pernyataan “Memohon berkat Tuhan bagi militer AS”, saksi mata melaporkan aktivitas pesawat militer AS di sekitar wilayah Iran. Pesawat tanker udara dan pembom strategis dilaporkan lepas landas dari pangkalan AS di Qatar.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, tiba di Gedung Putih sekitar pukul 20:00 waktu Pantai Timur, menandakan koordinasi krisis tingkat tertinggi.
Trump mengatakan kepada wartawan pada sore hari yang sama: “Terakhir kali saya membombardir Iran, mereka sudah tidak punya kemampuan membalas. Mereka sebaiknya patuh.”
Tiongkok Menjauh, Iran Makin Terisolasi
Sementara itu, sumber dari Beijing menyebutkan bahwa Tiongkok menolak memberikan bantuan ekonomi maupun militer kepada Iran, karena khawatir terkena sanksi perbankan Amerika Serikat dan Eropa.
Seorang pejabat AS menegaskan bahwa jika Iran mulai mengeksekusi demonstran, maka respons Amerika akan sangat keras dan bukan gertakan.
Saluran Channel 14 melaporkan bahwa jika operasi terhadap Iran dilakukan, targetnya adalah langsung rezim, bukan sekadar operasi militer terbatas.
Iran di Ambang Keruntuhan
Pasukan AS di Timur Tengah kini berada dalam kesiapan penuh. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa persiapan operasi militer telah memasuki tahap lanjut.
Anggota DPR AS, Gabe Evans menegaskan bahwa gelombang perlawanan rakyat Iran adalah peringatan bagi semua rezim otoriter: “Rakyat pada akhirnya akan muak. Jika Anda tidak memberi kebebasan dan hak, mereka akan bangkit.”
Para analis sepakat: Iran kini berada di persimpangan sejarah—antara bertahan dengan kekerasan, atau runtuh oleh gelombang perlawanan rakyatnya sendiri.





