Romantisme Pasar Seni ITB Kembali

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Kampus Ganesha ITB tahun 2005 silam, keterikatan saya dengan kampus yang mengajar dan membentuk pribadi saya di masa muda itu seperti terputus. Saya sibuk mengejar karier di Jakarta sebagai jurnalis televisi dan hanya sesekali kembali ke Bandung untuk menjenguk orang tua yang memang sejak tahun 1998 tinggal di Bandung. Namun, ikatan batin karena ditempa dengan semua kegiatan perkuliahan dan juga kemahasiswaan ITB sepertinya tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipisahkan dari saya. Bahkan setelah meninggalkan kampus 20 tahun lamanya.

Ingatan saya langsung kembali pada masa-masa kuliah di tahun pertama di ITB, ketika saya dengan teman-teman satu angkatan harus mempelajari, memahami dan lulus (!) sejumlah mata kuliah yang mungkin tidak bersinggungan langsung dengan jurusan kuliah kami. Tahap Persiapan Bersama atau TPB adalah program wajib bagi seluruh mahasiswa baru ITB di tahun pertama untuk mendapatkan pemerataan pengetahuan dasar sains (seperti matematika, fisika, dan kimia) yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa secara akademik dan mental mahasiswa ITB.

Belum lagi, masa tahun pertama penyesuaian belajar itu pun, dibarengi dengan masa orientasi mahasiswa baru di ITB. Maklum, saat itu kampus ITB masih didominasi dengan mahasiswa laki-laki, sehingga orientasi mahasiswa baru sangat erat dengan aktivitas yang lebih mengutamakan kekuatan fisik melalui kegiatan jalan, lari bersama, latihan baris berbaris dan juga sesekali kegiatan push up. Meskipun saat itu, kerap kali saya merasa malas ataupun lelah dengan berbagai kegiatan yang sangat menyita waktu, ketika mengingatnya saat ini, semua kenangan itu terasa manis dan menyenangkan.

Kampus ITB di Ganesha dengan pohon-pohon besarnya, seakan memberikan rasa aman dan perlindungan ketika hari-hari mulai terasa padat dan menyiksa dengan berbagai macam kegiatan ujian, praktikum dan juga penyusunan maket. Tidak terasa 4 tahun perjalanan belajar saya di kampus ITB berhasil saya selesaikan dengan predikat baik, dan saya lulus tanpa pernah dipanggil ‘ayam sayur’ oleh para "swasta", ungkapan yang merujuk pada senior yang setidaknya sudah atau sedang menjalani tahun ketiga di kampus saya. Saya pun lulus, dengan membawa kenangan jaket almamater berwarna biru tua dan jaket himpunan berwarna merah maroon.

Awal Oktober 2025, saya tiba-tiba mendapat telepon dari Bey Machmudin, penjabat Gubernur Jawa Barat tahun 2023-2025. Saya mengenal beliau saat saya masih berkarier di BUMN pada 2017 silam. Beliau meminta saya membantu publikasi, promosi dan komunikasi Pasar Seni ITB yang akan diselenggarakan 18-19 Oktober nanti. Maklum, karena meski gelar di ijazah tertera ‘Sarjana Teknik’ namun, sejak lulus kuliah, saya hanya pernah berkarier di bidang jurnalisme dan komunikasi. Bahkan, pada tahun 2020 saya membuat perusahaan komunikasi saya sendiri, Alika Communication.

Pak Bey mengetahui hal itu, karena kami pun kerap berkomunikasi saat kami berdua bertugas mengkoordinasikan komunikasi pemerintah saat penanganan COVID beberapa tahun silam. Pak Bey meminta saya terlibat dalam promosi Pasar Seni ITB. Awalnya saya ragu, karena waktu yang terasa mepet dan juga karena saya sudah berkomitmen dengan beberapa pekerjaan lain yang sepertinya sulit saya tinggalkan.

Tanpa saya duga, Pak Bey menggunakan berbagai upaya untuk meyakinkan saya. Beliau mulai dengan menggunakan narasi bahwa saya dan keluarga saya merupakan keluarga besar ITB sampai kapanpun. Maklum, ayah dan 2 saudara laki-laki saya juga merupakan lulusan ITB. Ayah saya bahkan menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan sarjana, magister dan doktoral seluruhnya di kampus ITB.

Saya masih bergeming. Namun, rupanya Pak Bey kemudian menggunakan jurus pamungkasnya kepada saya. “Apakah Alia sudah melupakan Salam Ganesha?” Lalu saya pun terdiam.

Salam Ganesha merupakan ucapan salam khas mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), yang sepertinya akan terus melekat sampai kapanpun bagi sebagian besar alumni ITB. Salam Ganesha merupakan janji para mahasiswa ITB yang seringkali kami ucapkan saat masih di bangku kuliah.

Langsung teringat dengan jelas di memori saya. Pertahanan saya pun luluh, saya berjanji akan membantu komunikasi dan promosi Pasar Seni ITB tahun ini. Apalagi, ajang ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang, tidak hanya alumni ITB, setelah hiatus 11 tahun lamanya.

Pasar Seni ITB tahun ini, saya harap menjadi kebangkitan kembali geliat seni budaya dan aktivitas mahasiswa yang membanggakan bagi seluruh warga Bandung, Warga Jawa Barat, Warga Indonesia dan juga keluarga besar ITB.

Kini, ketika saya berjalan melewati kembali gerbang megah Kampus ITB di Jalan Ganesha, aroma nostalgia langsung menyergap. Lapak-lapak seni mulai berdiri, karya mahasiswa terpajang di setiap sudut, dan tawa pengunjung mengalun di antara pepohonan tua yang masih kokoh berdiri. Semua terasa seperti reuni emosional antara masa lalu dan masa kini. Pasar Seni bukan sekadar ajang pameran karya, melainkan ruang perjumpaan lintas generasi. Di sana, saya melihat alumni, mahasiswa, dan masyarakat menyatu dalam semangat yang sama: merayakan seni dan kreativitas Indonesia.

Mungkin inilah makna terdalam dari "Salam Ganesha" itu sendiri--sebuah panggilan abadi untuk terus berkarya, berbakti, dan menjaga warisan almamater yang pernah membentuk jati diri para alumni ITB.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Konsumsi Listrik Per Kapita RI Tertinggal di ASEAN, DPR Soroti Dampaknya
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
LBH: Mens Rea Pandji Bukan Tindak Pidana
• 18 jam lalutribuntimur.com
thumb
Ada Badai di Gunung Slamet, Evakuasi Jasad Syafiq Ali Dilanjutkan Hari Ini
• 10 jam laludetik.com
thumb
Janice Tjen dan Katarzyna Piter Melaju ke Semifinal Hobart International 2026
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Api Hanguskan Dua Rumah di Desa Uloe Bone, Pemadaman Berlangsung Tiga Jam
• 4 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.