JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menceritakan pengalamannya dihubungi seorang tokoh yang menilai penanganan bencana di Aceh relatif mudah dan tidak seberat saat tsunami melanda wilayah tersebut.
Menurut Tito, penilaian itu muncul karena yang terlihat di permukaan saat ini hanyalah tahapan akhir dari proses penanganan bencana yang sebenarnya telah berlangsung cukup lama.
“Jadi ada kemarin yang menantang, yang menelepon kepada kami seorang tokoh, bahwa permasalahan Aceh itu mudah. Beda dengan tsunami katanya. Cukup memperbaiki, membersihkan lumpur-lumpur, baru kemudian normalisasi dilakukan," kata Tito dalam rapat penanganan pascabencana Sumatera, dikutip dari YouTube Kompas TV, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: PLN: Kerusakan Listrik di Aceh Saat Ini Lebih Parah Dibanding Tsunami 2004
Tito tak menyebut gamblang siapa tokoh yang dimaksud.
Namun, ia menegaskan bahwa sejak awal penanganan bencana dilakukan secara terstruktur dengan melibatkan banyak pihak.
Tito pun menyampaikan apresiasinya kepada Kepala BNPB beserta seluruh jajaran TNI dan Polri yang terlibat di lapangan.
“Saya hormat kepada Kepala BNPB dan semua jajaran TNI Polri," ucapnya.
Baca juga: Bupati: Banjir Aceh Utara Lebih dari Tsunami tapi Pusat Seperti Tutup Mata
Tito pun menyampaikan kepada tokoh itu terkait kondisi di lapangan pada hari-hari awal bencana jauh dari kata mudah.
Dia menyebutkan bahwa tokoh itu baru tiba pada hari ke-46 penanganan bencana.
"Bapak datang ke hari ke-46, Pak. Kalau datang hari pertamanya atau hari kedua sama hari keempat, jauh. Kami sendiri hadir hari keempat, lewat Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, setop di jalan di jembatan Merdu ini enggak bisa lewat lagi ke Bireuen," beber eks Kapolri ini.
Ada silent warriorIa menambahkan, pada masa awal penanganan, ratusan jembatan dan ruas jalan putus sehingga akses antarwilayah terisolasi.
Kondisi tersebut baru bisa dipulihkan secara bertahap berkat kerja lintas kementerian dan lembaga.
Baca juga: Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Penanganan Banjir Sumatera
Menurutnya, pemulihan infrastruktur merupakan hasil kerja keras Kementerian Pekerjaan Umum, koordinasi Menko Infrastruktur, serta dukungan penuh dari TNI dan Polri.
Dia juga menyoroti banyaknya kerja-kerja besar yang tidak terlihat oleh publik maupun media.
“Yang mungkin enggak terlihat di media. Tapi itu dikerjakan dan maksimal. Saya mengatakannya silent warrior. Pejuang-pejuang yang enggak perlu tampil di permukaan tapi hasilnya ada," pungkas dia.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini



