FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pengacara Roy Suryo Cs, Ahmad Khozinudin, menyentil Eggy Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) usai keduanya diketahui berkunjung ke Solo dan bertemu Presiden ke-7 RI, Jokowi.
Ahmad mengatakan, langkah tersebut sebagai kesalahan politik fatal yang membuat posisi keduanya serba salah.
Menurutnya, kesalahan terbesar ES dan DHL adalah mengikat komitmen dengan Jokowi.
“Salah satu kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh Eggi Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) adalah mengikat komitmen dengan Jokowi si pembohong yang pengecut dan licik, maju kena mundur kena,” ujar Ahmad kepada fajar.co.id, Kamis (15/1/2026).
Ia bahkan menyebut, Jokowi bukan hanya menipu ES dan DHL, tetapi juga rakyat Indonesia secara luas.
“Jangankan hanya ES dan DHL, Rakyat Indonesia saja ditipu oleh Jokowi. Jadi, menipu ES dan DHL bagi Jokowi ibarat melahap bubur dalam satu sendokan tinggal telan,” ucapnya.
Ahmad meyakini, kebocoran informasi terkait pertemuan di Solo bukanlah hasil kesepakatan kedua belah pihak.
Ia menuturkan, ES dan DHL justru berupaya mengunci rapat pertemuan tersebut agar tidak diketahui publik, termasuk oleh rekan-rekannya sendiri di Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA).
Hal itu, menurutnya, dapat dilihat dari tidak adanya pembahasan rencana kunjungan ke Solo di internal TPUA.
Bahkan, ia menyinggung pemecatan sejumlah anggota TPUA seperti Rizal Fadillah, Kurnia Tri Royani, Azam Khan, dan lainnya, yang disebut dilakukan dengan alasan tidak masuk akal.
“Tindakan ES dan DHL yang menyembunyikan rencana ke Solo ini jelas atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang pasti. Bahwa berkunjung ke Solo (Jokowi) adalah aib dan pengkhianatan yang besar, yang pasti tidak akan disetujui oleh anggota TPUA jika dibahas dalam rapat sebelum keberangkatan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap ES dan DHL saat kunjungan yang dinilai tidak biasa. Keduanya disebut datang secara sembunyi-sembunyi dan menghindari sorotan kamera, berbeda dengan kebiasaan mereka yang kerap tampil di depan publik dengan orasi keras.
“Cara berkunjung yang sembunyi-sembunyi ini, jelas juga atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang pasti. Bahwa berkunjung ke Solo (Jokowi) adalah aib dan pengkhianatan yang besar, yang pasti akan dimaki para aktivis dan rakyat jika sampai diketahui,” lanjutnya.
Pasca pertemuan tersebut, ES dan DHL juga memilih bungkam dan tidak memberikan keterangan kepada publik.
Padahal, menurut Ahmad, untuk agenda lain keduanya dikenal gemar menggelar konferensi pers. Sikap diam itu dinilai sebagai upaya mempertahankan mode senyap karena sadar akan risiko politik pertemuan tersebut.
Ahmad mengungkapkan, sebelum keberangkatan ke Solo, ES dan DHL telah mensyaratkan agar tidak ada dokumentasi maupun publikasi terkait pertemuan itu. Namun, kesepakatan tersebut justru berujung petaka.
“Namun apa mau dikata. ES dan DHL terlalu naif. Mereka bukan sedang membuat kesepakatan dengan orang yang dapat dipercaya. Mereka, membuat kesepakatan dengan pendusta yang licik meskipun pengecut,” ucapnya.
Tidak lama setelah pertemuan, informasi kedatangan ES dan DHL ke Solo disebut dibocorkan. Bocoran awal disampaikan oleh Kompol Syarif selaku ajudan Jokowi.
Selanjutnya, relawan Jokowi mengungkapkan detail pertemuan, mulai dari suasana saling memaafkan, berpelukan, hingga doa yang dipanjatkan oleh ES.
“Tentu saja target pembocoran pertemuan ini jelas adu domba dan pecah belah para pejuang yang membongkar ijazah Jokowi sekaligus pembusukan sosok ES dan DHL,” tandasnya.
(Muhsin/fajar)



