Dubes WHO Yohei Sasakawa Sorot Fakta Pahit Kusta: Diskriminasi Lebih Menyakitkan dari Penyakitnya

suara.com
11 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus kusta terbanyak; diskriminasi penderita dianggap masalah serius.
  • Yohei Sasakawa menekankan bahwa mengatasi stigma dan misinformasi sama pentingnya dengan pengobatan medis.
  • Menkes Budi menegaskan kusta tidak menular setelah pengobatan antibiotik kurang dari seminggu; perlu kolaborasi.

Suara.com - Di tengah kemajuan zaman, diskriminasi terhadap penderita kusta ternyata masih menjadi borok yang lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri. Ironisnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan penderita kusta terbanyak di dunia.

Kenyataan ini diungkapkan oleh Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa.

Pria berusia 87 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk isu ini, berkomitmen penuh melalui Sasakawa Health Foundation (SHF) untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga memerangi stigma yang melumpuhkan para penderitanya.

Menurut Sasakawa, perang melawan kusta tidak akan pernah berhasil jika hanya mengandalkan pendekatan medis.

Pertarungan sesungguhnya adalah melawan misinformasi dan anggapan kuno bahwa kusta adalah penyakit kutukan yang harus dijauhi.

Ia menekankan bahwa simpati dan penerimaan sosial adalah obat yang sama pentingnya dengan antibiotik.

"Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi dan memberi mereka simpati. Saya juga berharap kita bersama-sama dalam melakukan pendekatan demi menghilangkan kusta dengan baik," kata Yohei Sasakawa dalam acara Media Briefing di Wisma Habibie-Ainun, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Perhatian mendalam Sasakawa terhadap Indonesia sangat beralasan. Tingginya angka penderita diperparah oleh minimnya edukasi di tengah masyarakat.

Banyak yang tidak tahu bahwa kusta bisa disembuhkan total dan bukan penyakit yang mudah menular. Akibatnya, penderita tidak hanya menanggung sakit fisik, tetapi juga beban psikologis akibat dikucilkan.

Baca Juga: Bukan Penyakit Keturunan atau Kutukan, Ini Fakta Tentang Kusta

"Sebagaimana kita tahu kusta memiliki tanda-tanda medis dan juga mendapat masalah stigma karena banyak diskomunikasi yang harus diatasi," ujar Sasakawa.

Seruan ini disambut baik oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Menkes Budi secara lugas menyebut bahwa tindakan mengisolasi atau bahkan membuang anggota keluarga yang terkena kusta adalah buah dari disinformasi yang tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali. Ia pun membeberkan fakta medis yang seharusnya diketahui seluruh masyarakat.

"Jadi kalau teman teman itu mengisolasikan membuang saudaranya kalau kena lepra itu disinformasi itu. Gak ada scientifi evidencenya. Dan scinetfic evidencenya begitu kita kena bakteri lepra, kita meminum itu antibiotik kurang dari seminggu dia berhenti menular," jelas Menkes Budi.

Gerakan bersama untuk memerangi kusta dan stigmanya juga mendapat dukungan dari kalangan masyarakat sipil.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Sasakawa Foundation dan Kemenkes RI.

Menurutnya, isu ini bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga cerminan kualitas demokrasi dan hak asasi manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alvaro Arbeloa Puji Penampilan Vinicius Junior Meski Real Madrid Tersingkir dari Copa del Rey
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Anindya Bakrie Yakin Investasi 2026 Moncer: Indonesia Menang di Pertumbuhan dan Stabilitas
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Pasar Baja Hijau Global Diprediksi Terus Menguat, Tembus US$ 20 Miliar di 2030
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Realisasi Rumah Subsidi Capai 278.868 Unit, Mayoritas Penerima Gen Z & Milenial
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Peringati Natal 2025, Kapolda Metro Ajak Personel Perkuat Semangat Pengabdian
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.