Pohon karet kebo raksasa yang selama puluhan tahun berdiri di depan Gedung Balai Kota Bogor, kini tinggal kenangan. Pohon berdiameter sekitar 2,5–3 meter dengan tinggi mencapai 35 meter itu akhirnya ditebang setelah kondisinya dinilai membahayakan keselamatan masyarakat.
Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor merampungkan proses penebangan pohon bersejarah tersebut secara bertahap sejak September 2025. Prosesnya tidak singkat, mengingat ukuran pohon yang besar serta kondisi akar dan batang yang telah mengalami kerusakan parah.
Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Disperumkim Kota Bogor, Devi Librianti, menjelaskan bahwa usia pohon yang sudah tua serta posisinya yang miring menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan tersebut.
"Pohon ini sudah termasuk tua dan bersejarah, namun posisinya tidak strategis karena berada di pinggir jalan dengan kemiringan lebih dari 60 derajat. Akar dan batangnya juga sudah mengalami kerusakan cukup parah, jadi untuk keamanan bersama makanya kami tebang," katanya, Kamis (15/1).
Menurut Devi, hingga saat ini penebangan telah dilakukan hingga ke bagian akar. Namun, pekerjaan belum sepenuhnya selesai karena masih ada proses pembersihan yang harus dilakukan demi memastikan area tersebut benar-benar aman.
“Saat ini pohon karet kebo telah ditebang hingga ke bagian akar dan sedang dalam proses pembersihan sisa tunggul akar,” katanya.
Nasib kayu dari pohon karet kebo tersebut pun tak dapat dimanfaatkan. Devi menyebut, sebagian besar batang telah mengalami pelapukan sehingga tidak layak digunakan kembali.
“Untuk pohonnya sendiri dikirim ke tempat pembuangan sampah karena jenis kayunya mudah lapuk dan sebagian besar batang sudah mengalami pelapukan,” ungkapnya.
Meski pohon bersejarah itu telah hilang dari kawasan Balai Kota, Disperumkim memastikan lahan bekas penebangan tidak akan dibiarkan kosong. Area tersebut justru telah diproyeksikan menjadi ruang publik baru bagi warga Kota Bogor.
Disperumkim Kota Bogor bersama sejumlah pihak terkait telah merencanakan pemanfaatan lahan tersebut sebagai taman atau plaza yang dapat digunakan masyarakat secara luas.
“Area bekas penebangan pohon karet kebo direncanakan akan dimanfaatkan sebagai taman atau plaza. Proses pembangunannya akan dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Devi juga memastikan bahwa seluruh rangkaian penebangan hingga pembersihan tunggul akar berjalan relatif lancar. Meski demikian, sejumlah hambatan teknis tetap ditemui di lapangan.
Untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas warga dan arus lalu lintas, sebagian besar proses penebangan dilakukan pada malam hari. Namun, pada waktu-waktu tertentu, pekerjaan juga dilakukan di pagi hari.
“Secara umum proses penebangan berjalan lancar. Hambatan yang ada hanya bersifat minimal, seperti kondisi cuaca buruk dan kepadatan lalu lintas," ucapnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474506/original/057058400_1768480771-WhatsApp_Image_2026-01-15_at_19.36.12.jpeg)



