Peneliti UMI Prof.Sudirman Numba Memantapkan Kentang Industri sebagai Alternatif Pangan Non Beras

fajar.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Upaya diversifikasi pangan nasional terus diperkuat melalui riset dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi. Salah satu langkah strategis tersebut dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Sudirman Numba MS, peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI), yang secara konsisten memantapkan pengembangan kentang industri sebagai alternatif pangan non beras.

Penelitian ini dinilai relevan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional di tengah ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai pangan pokok utama.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas pasokan pangan. Ketergantungan yang tinggi terhadap satu komoditas pangan pokok, yaitu beras, berpotensi menimbulkan kerentanan apabila terjadi gangguan produksi, perubahan iklim ekstrem, maupun tekanan global. Dalam konteks inilah, kentang dipandang sebagai salah satu komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Prof. Sudirman Numba menjelaskan bahwa kentang memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya layak dikembangkan sebagai pangan non beras. Selain kandungan gizinya yang baik, kentang juga memiliki fleksibilitas tinggi dalam pengolahan, baik sebagai pangan segar maupun sebagai bahan baku industri pangan. “Kentang tidak hanya berfungsi sebagai komoditas hortikultura, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pangan industri yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Penelitian yang dikembangkan oleh Prof. Sudirman dan tim berfokus pada penguatan aspek hulu, khususnya penyediaan benih kentang industri yang bermutu. Selama ini, salah satu kendala utama pengembangan kentang industri di Indonesia adalah keterbatasan benih berkualitas serta ketergantungan pada benih impor. Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingginya biaya produksi dan rendahnya daya saing petani.

Melalui pendekatan ilmiah dan berbasis teknologi, penelitian ini mengkaji penerapan pengaturan jarak tanam dan pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk meningkatkan produksi dan kualitas umbi benih kentang. Teknologi ini terbukti mampu meningkatkan jumlah umbi benih generasi awal dengan ukuran yang sesuai standar perbenihan, sehingga mendukung keberlanjutan produksi kentang industri di tingkat petani.

Menurut Prof. Sudirman, penguatan sektor perbenihan merupakan kunci utama dalam membangun sistem produksi kentang industri yang tangguh. “Jika benih tersedia secara berkelanjutan dan bermutu, maka produktivitas dan efisiensi budidaya akan meningkat, dan pada akhirnya akan mendorong pengembangan kentang sebagai pangan alternatif,” jelasnya.

Penelitian ini tidak berhenti pada tataran laboratorium atau skala percobaan semata. Sebagai riset yang berorientasi terapan, hasil penelitian diarahkan untuk dapat langsung diimplementasikan di lapangan melalui pengembangan demonstration plot (demplot) dan keterlibatan petani mitra. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi yang dihasilkan benar-benar aplikatif, mudah diadopsi, dan sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat.

Keterlibatan petani dalam penelitian ini juga menjadi bagian penting dari proses alih teknologi. Melalui pendampingan dan uji lapang, petani tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra aktif dalam proses inovasi. Dengan demikian, hasil riset diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas petani dan penguatan ekonomi lokal.

Pengembangan kentang industri sebagai alternatif pangan non beras sejalan dengan kebijakan diversifikasi pangan nasional serta agenda pembangunan berkelanjutan. Kentang berpotensi menjadi sumber karbohidrat yang mampu melengkapi peran beras, sekaligus membuka peluang pengembangan industri pengolahan pangan berbasis umbi-umbian. Produk olahan kentang seperti tepung kentang, kentang beku, hingga produk pangan siap saji memiliki peluang pasar yang luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam konteks kelembagaan, penelitian yang dilakukan oleh Prof. Sudirman Numba juga mencerminkan komitmen Universitas Muslim Indonesia dalam mendorong lahirnya riset-riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. UMI terus mendorong dosen dan penelitinya untuk menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Ke depan, Prof. Sudirman menargetkan pengembangan model produksi kentang industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Model ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi petani, penangkar benih, serta pelaku industri pangan dalam mengembangkan kentang sebagai komoditas strategis nasional. Selain itu, penelitian lanjutan juga diarahkan untuk mengkaji aspek ekonomi, keberlanjutan lingkungan, serta peluang pengembangan kemitraan dengan dunia usaha dan industri.

“Diversifikasi pangan bukan hanya soal mengganti beras, tetapi membangun sistem pangan yang lebih beragam, tangguh, dan berkelanjutan. Kentang industri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam sistem tersebut,” tegas Prof. Sudirman.

Dengan riset yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan pengguna, pengembangan kentang industri sebagai alternatif pangan non beras diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan nasional. Melalui peran aktif perguruan tinggi, seperti yang dilakukan oleh UMI, riset dan inovasi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kemandirian pangan Indonesia. (fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Akan Percepat Perpres Ojol, Merger GOTO-Grab Berpengaruh
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
KPK sebut tak ada pihak lindungi Fuad Hasan jadi tersangka kasus haji
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Menteri PKP: Realisasi pembangunan rusun subsidi Meikarta tahun ini
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Pedestrian Deck Baru Akan Satukan Moda Transportasi Dukuh Atas
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
ASITA, PHRI, dan Bank Sulselbar Nilai Lontara Plus Jawab Kebutuhan Packaging Digital Wisata Makassar
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.