DEPOK, KOMPAS.com - Tumpukan gerbong KRL Commuter Line tampak disusun rapi di salah satu sudut area Depo KRL Depok, Jalan Kampung Rawageni, Cipayung, Kota Depok.
Pantauan Kompas.com di lokasi pada Kamis (15/1/2026), tumpukan ini bisa dilihat dari jembatan Jalan Terusan Dipo.
Gerbong-gerbong KRL itu disusun berjejer dalam beberapa baris dan ditumpuk hingga dua tingkat. Pada setiap unit, terdapat nomor seri yang ditulis menggunakan cat semprot (pilok) berwarna merah.
Baca juga: Menjajal Pelican Crossing Tegal Mampang yang Kini Lebih Lama untuk Pejalan Kaki
Di salah satu sisi gerbong, terlihat nomor empat digit, di antaranya 6931, 6233, 6124, 6231, dan 6532.
KOMPAS.com/DINDA AULIA RAMADHANTY Tumpukan gerbong kereta yang sudah tidak terpakai lagi untuk operasional di Dipo Depok, Kota Depok, Kamis (15/1/2026).
Tumpukan gerbong tersebut diletakkan di atas lahan yang baru diuruk dan masih tampak basah. Hal itu terlihat dari jejak lumpur serta genangan air di sekitar area penyimpanan.
Di sisi tumpukan gerbong, terlihat dua unit alat berat, salah satunya berupa crane. Sejumlah petugas berseragam biru tampak memeriksa bagian bawah salah satu gerbong.
Pintu-pintu gerbong yang kini tak lagi beroperasi dibiarkan terbuka, memperlihatkan area tempat duduk penumpang saat kereta masih digunakan.
Selain itu, deretan “bangkai” kereta lainnya juga terlihat sekitar 7–10 meter dari barisan gerbong yang berada dekat jembatan.
KOMPAS.com/DINDA AULIA RAMADHANTY Tumpukan gerbong kereta yang sudah tidak terpakai di Dipo Depok, Kota Depok, Kamis (15/1/2026).
Tak jauh dari lokasi tersebut, sejumlah komponen kereta tampak disusun rapi, seolah barusaja melalui proses pengelompokan atau penataan.
Gerbong-gerbong yang selama bertahun-tahun melayani perjalanan para komuter itu kini telah dimakan usia dan memasuki masa konservasi.
Baca juga: Rano Karno: Penataan PKL Liar Harus Bijak, Tetap Mengacu Perda
Seorang warga setempat bernama Adi (32) mengungkapkan, dalam sebulan terakhir ia kerap melihat aktivitas alat berat yang mengangkut gerbong-gerbong KRL yang sudah tidak dioperasikan lagi di dalam area Dipo Depok.
Gerbong-gerbong tersebut diangkut dan disusun bertumpuk untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan yang tersedia di dipo, yang lokasinya bersebelahan dengan jalur rel kereta.
"Baru sebulanan kurang lebih buat gerbong yang numpuk itu, siang sore malem kayaknya mereka itu ngangkut-ngangkut keretanya," ucap Adi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis.
Ia menambahkan, sebelumnya juga sudah ada gerbong tidak terpakai yang disimpan di area yang sama, tetapi hanya disusun berjejer.
Tumpukan gerbong itu, menurut Adi, kerap menarik perhatian warga. Bahkan, tak jarang menjadi pemandangan unik bagi pengunjung dari luar daerah hingga luar negeri.