Peduli Satwa Laut, Ekspedisi OceanX Indonesia Mission: Habitat Paus dan Lumba-Lumba Perlu Dilindungi

liputan6.com
21 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Ekspedisi OceanX Indonesia Mission berhasil memecahkan penelitian terhadap habitat paus dan lumba-lumba yang selama ini dinilai sulit dilakukan.

Misi ini dijalankan pada pertengahan 2024 melalui survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) pertama di perairan barat Sumatera. 

Advertisement

BACA JUGA: Jalan dan Drainase Diperbaiki, Warga Kota Palangka Raya Nikmati Infrastruktur Lebih Baik

Paus dan lumba-lumba adalah spesies laut dengan jangkauan jelajah luas, perilaku migrasi kompleks, dan tingkat keterdeteksian rendah.

Sehingga penelitian distribusi dan habitat terhadap dua hewan ini menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah laut lepas yang terpencil dan berbiaya tinggi untuk penelitian.

Hasil survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission ini baru saja dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia dan penulis utama studi Iqbal Herwata menyebutkan, penelitian ini bertujuan untuk memenuhi ketersediaan data ilmiah cetacean yang selama ini terbatas.

"Survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia," ujar Iqbal, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Konservasi Indonesia www.konservasi-id.org, Kamis (15/1/2026).

"Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti," sambungnya.

Penelitian ini dilaksanakan antara Mei hingga Juli 2024. Survei tersebut menghabiskan jarak tempuh sekitar 15.043 kilometer (setara jarak dari Bali ke Kanada).

Peneliti melakukan pengamatan dan mencatat 77 sighting dari 10 spesies cetacean, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia. 

Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan ini kini mencapai 23 spesies, atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui di Indonesia.

Analisis pola sebaran cetacean menunjukkan adanya tujuh klaster habitat yang berbeda. Perbedaan ini terbentuk akibat adanya perbedaan dasar laut dan tingkat produktivitas perairan barat Sumatera.

Temuan ini juga menegaskan bahwa dinamika oseanografi memiliki peran yang penting dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KBRI Tokyo Beri Dukungan Penuh Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia di ICC 2026
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Polisi Tangkap 2 Pelaku Eksibisionis dalam Bus TransJakarta
• 3 jam laluidntimes.com
thumb
Aturan Cukai Baru Terbit Pekan Depan, Skema Baru untuk Rokok Ilegal
• 7 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Wajib Masuk Playlist, Ini Lagu-Lagu Galau Ari Lasso Paling Relate dengan Kisah Cinta
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Kasus Asusila di Bus Transjakarta Soroti Pentingnya Peran Penumpang dan Kecepatan Respons Petugas
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.