Bisnis.com, JAKARTA — Tren pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan berlanjut hingga pekan depan hingga menembus level Rp17.000 seiring dengan sedikit meredanya tensi geopolitik global.
Direktur Utama PT Forexindo Laba Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pelemahan mata uang dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik sentimen eksternal maupun internal. Sentimen eksternal di antaranya yakni dinamika tensi geopolitik, konflik perpolitikan di AS, dan data ekonomi AS.
Selain itu melemahnya nilai tukar rupiah juga terjadi seiring dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang mencatatkan all time high.
"Nilai tukar rupiah diperkirakan minggu depan bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga tembus Rp17.000 per dolar AS. Semakin, tinggi IHSG semakin lemah rupiah," ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Dia memaparkan sejauh ini tensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar karena otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran.
Kondisi ini meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera.
Baca Juga
- Nilai Tukar Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp16.895,5 kala Dolar AS Melaju
- Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (15/1) Dibuka Menguat ke Rp16.856 saat Dolar AS Tancap Gas
Sementara itu, pemerintah AS juga mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden Trump mengatakan dia telah berbicara pada Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez.
Trump menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif, dengan mengatakan bahwa diskusi yang mencakup minyak, mineral, perdagangan dan keamanan nasional membuat kemajuan yang luar biasa, saat AS membantu menstabilkan Venezuela.
Sentimen lainnya masih datang dari Trump juga mengatakan dia tidak berencana untuk memecat Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung, meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.
Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk Oktober menunjukkan, harga produsen jauh dari target 2 persen Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026.





