Pakar Ungkap Penyebab Utama Penuaan: Bukan Usia, tapi Hormon!

mediaindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

PROSES penuaan pada manusia tidak semata-mata terjadi karena faktor usia, melainkan dipicu oleh menurunnya kadar hormon di dalam tubuh. Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti-Aging Universitas Udayana, Wimpie Pangkahila.

Ia menjelaskan bahwa penurunan hormon dialami baik oleh laki-laki maupun perempuan dan menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat terjadinya penuaan. Menurutnya, cara pandang terhadap penuaan perlu diubah.

“Manusia tidak menua karena usianya bertambah, melainkan karena kadar hormon menurun. Oleh karena itu, penuaan seharusnya dipandang sebagai kondisi yang bisa dicegah bahkan ditangani,” ujar Wimpie dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis.

Baca juga : Ini Tiga Hormon Penting di Masa Kehamilan

Hormon, lanjutnya, memiliki peran vital dalam mempertahankan fungsi kehidupan manusia. Proses reproduksi, termasuk kehamilan dan kemampuan fertilitas, sangat bergantung pada keseimbangan hormon. Tanpa hormon yang bekerja optimal, fungsi dasar tersebut tidak dapat berjalan dengan baik.

Namun demikian, ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya hormon bagi kualitas hidup. Ketidaktahuan ini sering kali membuat penurunan hormon tidak disadari sejak dini.

Wimpie mengungkapkan bahwa perubahan kadar hormon sebenarnya sudah dimulai sejak usia relatif muda dan akan terus berlangsung seiring bertambahnya usia. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang tidur, pola makan buruk, dan stres berkepanjangan, dapat mempercepat proses tersebut.

Baca juga : Penurunan Kadar Hormon Testosteron pada Laki-laki Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif

“Secara normal, hormon meningkat sejak lahir hingga dewasa, lalu mulai menurun sekitar usia 40-an. Tapi sekarang, karena pola hidup tidak sehat, banyak perempuan sudah mengalami menopause di usia 40 tahun. Ini jarang terjadi di masa lalu,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa penuaan merupakan proses kompleks yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi ketidakseimbangan hormon, paparan radikal bebas, gangguan sistem imun, kerusakan DNA, hingga faktor genetik. Sementara faktor eksternal antara lain pola hidup, asupan makanan, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, stres, serta kondisi sosial ekonomi.

Lebih lanjut, Prof. Wimpie membagi proses penuaan ke dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah fase subklinis yang terjadi pada usia 25–35 tahun, di mana hormon seperti hormon pertumbuhan, testosteron, dan estrogen mulai mengalami penurunan. Pada fase ini, perubahan fisik belum terlihat jelas, namun dapat diketahui melalui pemeriksaan medis.

“Banyak perempuan usia muda yang menggunakan kontrasepsi hormonal mengeluhkan penurunan gairah seksual. Ini terjadi karena kadar testosteron ikut menurun akibat pengaruh hormon dari kontrasepsi,” jelasnya.

Tahap berikutnya adalah fase transisi pada usia 35-45 tahun. Pada fase ini, kadar hormon dapat turun hingga 25%. Dampaknya antara lain peningkatan lemak tubuh, resistensi insulin, menurunnya elastisitas kulit, munculnya bintik pigmentasi, hingga risiko penyakit jantung. Pada perempuan dapat terjadi menopause, sementara pria mengalami andropause. Sejumlah penyakit degeneratif seperti diabetes, gangguan daya ingat, arthritis, dan kanker juga mulai bermunculan.

Sementara itu, fase klinis lanjut terjadi pada usia di atas 45 tahun. Pada tahap ini, penurunan hormon semakin signifikan, disertai berkurangnya kemampuan tubuh menyerap nutrisi dan vitamin, menurunnya kepadatan tulang, penyusutan massa otot, serta meningkatnya risiko penyakit kronis dan disfungsi seksual.

Wimpie menegaskan bahwa penurunan hormon yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai keluhan yang mengganggu kenyamanan hidup. Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

“Hormon yang paling menonjol kaitannya dengan penuaan dan fungsi seksual adalah testosteron, estrogen, dan progesteron. Namun hormon lain seperti tiroid juga berpengaruh. Ketidakseimbangan hormon dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk penyakit jantung,” pungkasnya. (AntZ-10)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapal Wisata KM Prestige Voyager Kandas di Raja Ampat, 28 Wisatawan China Selamat
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Emiten Snack MAXI Belanjakan Dana IPO Rp41,71 Miliar untuk Modal Kerja
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Kementerian PP-PA Apresiasi Penerbitan Buku ‘The Broken String’, Dorong Korban Kekerasan Seksual untuk Berani Bicara
• 23 jam lalumerahputih.com
thumb
IHSG Cetak Rekor Naik ke 9.075, Saham BUMI, BMRI, BBCA, BMRI Diserbu Investor
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Eva Manurung Akui Hubungan dengan Brondong Hanya Settingan: Demi Selamatkan Virgoun dari Bully Netizen
• 14 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.