Serangan ke Venezuela: Doktrin Trump dan Dampak Geopolitik

kompas.tv
8 jam lalu
Cover Berita
Demonstrasi di jalanan Teheran, Iran, Senin (29/12/2025). (Sumber: Fars News Agency via AP)

Oleh: Julius Sumant, Jurnalis Senior KompasTV

KOMPAS.TV- Di pengujung tahun 2025, pada abad di mana arus interdependensi dan liberalisasi global tengah kuat-kuatnya mencengkeram, tiba-tiba Amerika Serikat (AS) di bawah kepresidenan Donald Trump menyentak dunia: menyerang Venezuela, melumpuhkan pertahanan militer, dan menangkap presiden Nicholas Maduro dan ibu negara Cilia Flores.

AS memang bukan pertama kali ini saja menyerang wilayah territorial negara berdaulat lain dan menangkap pemimpinnya. Namun, perintah eksekutif Presiden Trump menyerang Venezuela memiliki dimensi politik yang berbeda dengan para pendahulunya. Doktrin Trump telah lahir.

Operasi 2 Jam 20 Menit

Sorotan utama tertuju pada operasi militer bersandi Absolute Resolve alias Operasi Resolusi Mutlak. Aset udara dan laut Komando Selatan militer AS (SOUTHCOM) dan satuan elit Delta Force AD AS yang digelar untuk operasi ini tak main-main. Dilihat dari capaian, target bernilai tinggi berhasil dieksekusi dan diklaim tanpa satupun korban jiwa dari personel militer AS. Praktis dalam 2 jam 20 menit operasi.

Sukses operasi tak hanya berasal dari kontribusi satuan Resimen Penerbangan Operasi Khusus AD AS “Night Stalkers” (SOAR 16th) dan satuan elit Delta Force yang menculik Presiden Maduro. 

Operasi khusus penangkapan Maduro didahului operasi militer berskala masif di bawah Komando Selatan yang membawahi sederet satuan tempur. Antara lain Grup Serang Kapal Induk Gerald Ford (CVN 78), Grup Serang Amfibi (salah satunya USS Iwo Jima), sederet kapal perusak, lebih dari 150 pesawat misi tempur dan pendukung, serta tambahan aset pendukung dari berbagai lembaga.

Ratusan pesawat tempur, intai, intelijen, dan pembom yang didukung tanker udara sudah bergerak lebih dulu dari 20 basis militer AS beberapa jam sebelum keluarnya perintah Presiden Trump jelang pergantian tanggal 2 ke 3 Januari 2026. Kekuatan udara gabungan Marinir, AL, AU dan Garda Nasional ini lebih dulu mengorkestrasi pertempuran pendahuluan dan pendadakan untuk memberi jalan misi operasi khusus Night Stalker.

Misi menggabungkan operasi pesawat tempur F-22 Raptor; F-35 seri A dan B; F-18; pesawat perang elektronik EA-18G Growlers dan EC-130H Compass Call; pesawat peringatan dini dan control E-2D Hawkeye dan E-3G Sentry; pesawat komunikasi dan data tempur E-11A BACN; pesawat intelijen signal CN-235 dan RC-135 Rivet Joint; pesawat antipermukaan; antikapal selam dan misi pengintaian P-8 Poseidon; sejumlah pembom termasuk B-1B Lancer; dan drone tempur.

Baca Juga: Trump: Iran Tak akan Eksekusi Mati Tahanan DemonstrasI Anti-Pemerintahan

Gabungan pesawat ini menggelar peperangan elektronik guna melumpuhkan sistem komunikasi, sistem radar dan sistem pertahanan udara Venezuela demi terciptanya superioritas udara di langit Caracas. Alhasil, belasan unit sistem Hanud S-300 buatan Rusia yang dianggap mumpuni dan radar JY-27A buatan China yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman tak satu pun berhasil mencegat serangan, apalagi menembak jatuh pesawat militer AS. 

Dari rekaman video amatir, terlihat ada unit S-300 yang hancur diduga akibat sasaran serangan rudal. Selebihnya malfungsi akibat peperangan elektronik.  Dengan tulang punggung sistem hanud utama telah rontok,  pertahanan udara Venezuela praktis hanya mengandalkan sistem rudal panggul S-Igla buatan Rusia.

Video amatir yang beredar memperlihatkan ada upaya serangan balik menggunakan rudal S-Igla namun berhasil dibungkam. Dilaporkan hanya terdapat kerusakan minor pada salah satu helikopter.

Dengan superioritas udara sudah di tangan, serombongan helicopter Chinook MH-47G dan MH-60M DAP tanpa halangan masuk ke wilayah udara Venezuela tetap dengan proteksi maksimum. Terbang pada kerendahan  sekitar 30 meter guna menghindari kemungkinan terpantau radar, operasi khusus berjalan dalam senyap dan berhasil menyuguhkan elemen pendadakan. 

Sebelumnya, satuan elit Delta Force dan Night Stalkers sudah berlatih keras menggunakan bangunan replika berukuran sama persis dengan tempat tinggal Maduro agar mampu presisi mengekstrasi Maduro dalam hitungan menit.
Di lokasi target penangkapan Maduro, dilaporkan ada perlawanan namun bisa dilumpuhkan dengan tak ada satu pun personel militer AS jadi korban. Sementara puluhan pengawal Maduro tewas di tempat. 

Operasi penangkapan Maduro tak menemui hambatan karena informasi detil mengenai gerak-gerik, kebiasaan, dan kelompok pengawalnya sudah dikumpulkan lewat operasi intelijen (diduga oleh CIA). Diduga pula, selain dari agen yang ditanam CIA, ada peran orang dalam, termasuk di kalangan militer Venezuela, yang menyuplai informasi sehingga operasi berjalan sangat presisi. Dalam waktu singkat, Maduro dan istrinya berhasil diangkut menuju USS Iwo Jima  di lepas pantai Venezuela di bawah proteksi pesawat tempur dan intai yang memberi perlindungan udara.

Baca Juga: Demo Iran Memanas, Kemlu RI Ungkap Kondisi WNI di Teheran: Diimbau Waspada!

Preteks Serangan AS ke Veneezuela

Operasi Resolusi Mutlak bukan sulapan dalam semalam. Ada preteks yang mendahului. Eskalasi hubungan Washington-Caracas yang memanas beberapa tahun terakhir ibarat sekam yang menunggu sulut api. Api sudah kerap membara sejak pendahulu Nicolas Maduro, Hugo Chaves, menduduki kursi kepresidenan. 

Hubungan Chaves dan Presiden George W Bush maupun penggantinya Barack Obama kerap memburuk diwarnai perang kata dan aksi saling balas mempersona-nongratakan pejabat diplomatik kedubes masing-masing.

Situasi ini terus memanas hingga Maduro menggantikan Chaves dan berlanjut dari kepresidenan Trump periode pertama, era Joe Biden dan memuncak kembali di periode kedua Presiden Trump. Ditarik ke belakang, hanya butuh setahun sejak dilantik, Presiden Trump menginisiasi Operasi Resolusi Mutlak dan menggelar persiapan kampanye militer berskala masif. 

Jalan pembuka AS menyerang Venezuela terbuka lebar pada Januari 2025. Saat itu Presiden Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang memasukkan geng kriminal dan kartel narkoba asal Venezuela, Tren de Aragua, ke dalam daftar “kelompok teroris asing”. Belakangan ada 8 geng kriminal serupa asal Venezuela yang dimasukkan ke dalam daftar yang dalam bulan-bulan berikutnya dianggap sebagai kombatan.

Cap kombatan seolah makin sempurna setelah  komunitas intelijen AS menuding Presiden Maduro punya hubungan dengan geng kriminal asal Venezuela. Maduro dituduh berperan mengarahkan penyelundupan narkoba dan imigran gelap ke AS. 

Selama periode ketegangan Washington-Caracas menyusul naiknya Trump ke kursi kepresidenan masa jabatan kedua dan naiknya kembali Presiden Maduro ke tampuk kekuasaan tertinggi Venezuela, situasi terus menerus panas. Eskalasi berujung pada pengerahan militer AS di perairan lepas pantai Venezuela. 

Awalnya, tiga kapal perusak AL AS dikirim menghadapi kapal boat milik kartel narkoba pada bulan Agustus 2025. Dalam hitungan minggu, jumlah aset laut yang dikerahkan memblokade perairan Venezuela meningkat pesat. Selama 6 bulan berikutnya, puluhan kapal boat diduga milik kartel narkoba ditenggelamkan oleh militer AS dengan korban tak sedikit.

Caracas merespons dengan memobilisi pasukan dan sukarelawan. Washington menanggapinya dengan mengerahkan gugus tempur kapal induk nuklir USS Gerald Ford. Selain itu, sejak Oktober 2025, Trump sudah memerintahkan CIA menggelar operasi rahasia di dalam wilayah Venezuela. Hasilnya, kurang dari dua bulan kemudian, terjadi serangan pertama kalinya terhadap fasilitas kapal boat kartel narkoba di wilayah teritorial Venezuela. 

Penulis : Gading-Persada

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • amerika serikat
  • donald trump
  • serangan
  • venezuela
  • iran
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
SDM Kunci Utama Transformasi AI di Dunia Kerja, Bukan Sekadar Teknologi
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
PSIM Berhitung untuk Amankan Posisi di BRI Super League: Bidik 42 Poin untuk Jauhi Zona Degradasi
• 2 jam lalubola.com
thumb
AS Tegaskan Pengerahan Pasukan NATO Tak Ubah Rencana Trump Caplok Greenland
• 6 jam laludetik.com
thumb
[FULL] Polisi Tangkap 5 Terduga Pelaku Pencurian Toko Emas Senilai Rp 1 Miliar di Magetan
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Efek Penurunan Obesitas di AS, Maskapai Hemat Biaya Avtur Rp9,7 Triliun!
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.