"Borobudur itu sakral, Bung! Dibandingkan dengan Batu Caves, itu tidak apple to apple!"
Begitu bunyi protes di kolom komentar saya. Seolah-olah membandingkan Borobudur dengan Batu Caves adalah dosa tak terampuni. Lho, tunggu dulu. Anda kira Batu Caves itu sekadar pasar malam yang kebetulan ada patungnya?
Bagi jutaan umat Hindu, gua batu kapur di Selangor itu sama sucinya dengan Candi Borobudur bagi umat Buddha. Bedanya cuma satu. Mentalitas pengelolanya. Kita hobi menjadikan 'kesakralan' sebagai tameng birokrasi yang menjauhkan candi dari rakyat, sementara Malaysia justru berhasil 'menikahkan' kesakralan dengan komersialisasi tanpa drama.
Lihat saja di sana. Eskalator modern dan tangga warna-warni instagramable bisa hidup rukun berdampingan dengan altar doa yang khusyuk. Tamparan keras bagi kita. Ini bukti bahwa wisata tak menodai kesucian, tapi justru membiayainya.
Sudahlah, kita simpan dulu perdebatan soal 'apple to apple' itu. Anggap saja kisah Batu Caves baru babak pemanasan. Karena pengalaman yang akan saya ceritakan ini, jaminannya bakal menampar ego pariwisata kita jauh lebih keras.
Usai liputan Festival Thaipusam, skenario saya sebenarnya sederhana. Pulang. Koper sudah terkunci. Tiket siap dipesan. Tapi Helmi, kawan Malaysia saya yang lidahnya memang 'berbisa' itu, mendadak memveto keputusan saya.
"Jangan balik dulu, Fit," cegahnya sambil menyeringai. "Kau belum sah injak Kuala Lumpur kalau belum ke Bukit Bintang".
"Duit menipis, Bos. Di sana mahal," tolak saya halus.
"Ah, tenang. Ada sepupu aku. Dia 'Sultan'. Namanya Rizal Hakim bin Abdul Zakir," jawab Helmi enteng.
Mendengar nama 'Hakim', nyali saya ciut. Saya bayangkan sosok pria tua, galak, bawa palu sidang, dan hobi menceramahi soal moral. Ternyata salah besar.
Rizal muncul dengan kaos oblong dan celana pendek. Orangnya pendiam. Irit bicara. Beda jauh sama Helmi yang nyerocos terus kayak petasan banting. Tapi begitu Rizal bicara, pedasnya ngalahin Samyang level 5.
"Jadi ini jurnalis Indonesia tu? Yang katanya negaranya luas tapi macet di mana-mana?" sapa Rizal datar.
Mak jleb. Belum apa-apa ulu hati saya sudah kena tonjok verbal.
Akhirnya, saya terseret juga. Kami menginap dua malam di kawasan Bukit Bintang. Di sanalah saya menemukan sebuah kegilaan tata kota yang bikin iri setengah mati. Bukit Bintang itu ajaib.
Bayangkan Anda punya blender raksasa. Masukkan Plaza Indonesia (Jakarta), Braga (Bandung), Malioboro (Jogja), Pasar Semawis (Semarang), Simpang Tunjungan (Surabaya), dan Legian (Bali), ke dalamnya. Tekan tombol ON. Hasilnya? Bukit Bintang.
Semua ada di sana. Tumpplek blek. Tanpa jeda. Tanpa sekat.
Sore itu, Rizal mengajak saya ke Pavilion KL. Mewah. Dingin. Isinya tas-tas bermerek yang harganya bisa buat bayar cicilan KPR setahun. Orang-orangnya wangi, jalannya cepat, wajahnya glowing kena pantulan lampu etalase.
"Ini kalau di Jakarta, namanya Bundaran HI," kata saya sok tahu.
Rizal cuma mengangguk. "Tunggu lima menit lagi. Kita pindah alam".
Benar saja. Cuma jalan kaki lima menit. Catat! Lima menit, tidak pakai naik ojek, kami sampai di Jalan Alor. Dunia terbalik 180 derajat.
Aroma parfum mahal di Pavilion seketika lenyap, diganti aroma asap sate, bawang putih goreng, dan sedikit bau got yang 'eksotis'. Lampion merah bergoyang-goyang. Ini Pasar Semawis! Persis!
Bedanya, kalau Pasar Semawis di Semarang buka cuma akhir pekan, Jalan Alor ini buka tiap hari. Non-stop. Asapnya ngebul terus kayak pabrik semen.
Rizal menunjuk sebuah meja di pinggir jalan. "Duduk sini, Fit. Pesan Sayap Ayam. Jangan tanya kolesterol. Liburan dilarang bawa dokter".
Kami makan di trotoar. Di sebelah saya ada turis Bule lagi berjuang pakai sumpit. Di depan ada turis Arab lagi sruput es kelapa muda. Riuh. Ramai. Berisik.
Belum kering keringat saya kena asap sate, Helmi dan Rizal menyeret saya lagi. Geser sedikit ke Changkat. Dan Boom! Suasana berubah lagi.
Deretan bangunan tua disulap jadi bar dan pub. Musik berdentum kencang jedag-jedug. Bule-bule tumpah ruah di jalanan memegang botol bir. Suasananya persis Jalan Legian Bali atau Braga di Bandung saat malam minggu.
Lalu kami jalan lagi ke persimpangan utama. Ada live music. Orang-orang duduk lesehan di trotoar. Pengamennya niat banget, bawa sound system lengkap kayak mau konser tunggal. "Nah, ini baru Malioboro!" teriak saya.
Tidak jauh dari situ, saya menyaksikan banyak turis tengah Street walking, foto-foto dengan latar gedung tua estetik (seperti Hotel Majapahit), dan nongkrong di coffee shop pinggir jalan. "Nah. Kalau ini sih, Simpang Tunjungan Surabaya," ucapku sambil geleng-geleng.
Rizal menatap saya sambil nyengir kuda. "Hebat kan? Di sini, kau mau jadi orang kaya (mal), mau jadi rakyat jelata (kaki lima), atau mau jadi anak dugem, jaraknya cuma sepelemparan sandal".
Dan dari situlah saya sadar. Kita di Indonesia ini menganut paham 'Wisata Mencicil'.
Kulineran Chinatown? Ke Semarang. Lesehan syahdu? Ke Jogja. Mal mewah dan hutan beton? Ke Jakarta. Dugem dan party liar? Ke Bali atau Bandung. Jalan-jalan sore nan estetik? Ke Surabaya.
Masalahnya satu. Jaraknya, Bos!
Di Indonesia, untuk pindah 'suasana' itu butuh tiket kereta. Butuh bayar tol. Butuh bensin. Dan yang paling penting, butuh pantat yang tahan banting duduk berjam-jam di perjalanan.
Di Bukit Bintang? Anda cuma butuh betis yang kuat.
Malaysia itu, khususnya Bukit Bintang menerapkan konsep 'Toserba' (Toko Serba Ada). Mereka tahu turis itu makhluk yang manja. Wisatawan itu malas gerak jauh-jauh. Maunya makan enak, belanja, hiburan, lalu tidur. Semuanya dalam satu radius jalan kaki.
Mereka memadatkan 'Vibes Jawa - Bali' ke dalam satu kilometer persegi. Efisiensi yang brutal tapi memanjakan.
Sementara kita? Kita menawarkan petualangan.
"Mau indah? Ya macet dulu ke Puncak!", "Mau eksotis? Ya naik kereta dulu 6 jam!"
Ada seninya memang. Ada romantisnya melihat sawah di jendela kereta. Tapi bagi turis yang cutinya cuma 3 hari? Itu penyiksaan. Itu namanya ospek, bukan liburan.
Puas tawaf mengelilingi kawasan ini, saya akhirnya 'gencatan senjata'. Saya menghempaskan badan di lobi hotel, ditemani segelas Air Mata Kucing (Mou Tak Teng). Namanya memang terdengar sadis, tapi rasanya manis menyegarkan, sedingin perlakuan mantan.
Sambil menyeruput cairan hitam pekat hasil kawin silang Luo Han Guo, kelengkeng, dan gula batu itu, tangan saya sibuk membalurkan minyak angin ke betis yang rasanya nyaris meledak. Kombinasi yang absurd namun nikmat. Mulut dimanja dinginnya herbal, kaki dihajar panasnya menthol.
"Kenapa muka kau masam? Tak senang?" seloroh Rizal.
"Senang. Tapi kakiku mau copot," keluh saya.
Rizal tertawa. "Itulah bedanya. Di sini kakimu pegal karena jalan-jalan. Di tempatmu, badanmu pegal karena duduk di jalan".
Skakmat! Saya diam. Rizal Hakim benar-benar 'menghakimi' saya tanpa palu sidang.
Di KL (Kuala Lumpur), betis saya yang jadi korban. Di Indonesia, pantat dan pinggang saya yang jadi korban. Sama-sama capek. Tapi beda hasil.
Di sana capek dapat banyak spot. Di sini capek dapat banyak pohon.
Ah, sudahlah. Saya mau cari tukang urut dulu. Siapa tahu dia bisa memijat betis saya, sekaligus memijat ego pariwisata kita yang lagi-lagi kalah set. Belajar dari tetangga itu tak ada salahnya, kok. Asal jangan sampai diklaim saja.
Sampai jumpa di cerita berikutnya. Salam Literasi!

:strip_icc()/kly-media-production/medias/2818452/original/068180400_1559103065-Screenshot_2019-05-13-17-09-10-899_com.miui.videoplayer.jpg)


