FAKTA baru terungkap dalam penyelidikan kebakaran maut di Bar Le Constellation, Crans Montana, Swiss, yang menewaskan 40 orang pada malam tahun baru lalu. Cyane Panine, 24, staf bar yang menjadi salah satu korban tewas, dikabarkan tidak pernah menerima pelatihan keselamatan kerja sebelum insiden terjadi.
Kuasa hukum keluarga Panine, Sophie Haenni, mengungkapkan kliennya tidak menyadari risiko material pada langit-langit bar yang mudah terbakar. Dalam sebuah video yang viral, Panine terlihat mengenakan helm dan memegang botol sampanye dengan kembang api (sparkler) yang menyala, sesaat sebelum api menyambar plafon bar.
"Bukan Cyane yang memutuskan untuk memakai helm ini, itu atas permintaan atasannya. Dia hanya melakukan pekerjaannya," tegas Haenni. "Sangat mengejutkan untuk meletakkan tanggung jawab atas kegagalan mereka sendiri kepada Cyane, seorang perempuan berusia 24 tahun yang merupakan karyawan mereka sendiri."
Baca juga : Otoritas Crans-Montana Akui Lalai tak Periksa Keamanan Bar Lokasi Kebakaran Maut Selama 5 Tahun
Tuduhan Kelalaian Pemilik BarPihak berwenang Swiss telah menetapkan pemilik bar, Jacques dan Jessica Moretti, sebagai tersangka. Mereka dikenakan tuduhan pembunuhan tidak berencana karena kelalaian, menyebabkan luka fisik, serta pembakaran akibat kelalaian.
Investigasi awal menunjukkan api dipicu oleh percikan kembang api yang menyambar busa peredam suara di langit-langit bar. Tragisnya, otoritas setempat mengakui bahwa bar di resor ski populer tersebut belum menjalani pemeriksaan keselamatan selama lima tahun terakhir.
Jessica Moretti sempat berdalih kepada penyidik bahwa penggunaan kembang api pada botol sampanye sudah dilakukan selama 10 tahun. Ia bahkan mengklaim aksi Panine dilakukan atas inisiatif sendiri. Namun, pernyataan ini dibantah keras oleh pengacara keluarga.
Baca juga : Kebakaran Bar Swiss, Pengunjung Mungkin Gagal Temukan Pintu Keluar Darurat
"Cyane tidak pernah diberitahu tentang bahaya langit-langit tersebut dan tidak menerima pelatihan keselamatan," tambah Haenni. Ia juga menyebut Panine sempat merasa "dimanfaatkan" dan menderita akibat kondisi kerja yang berat sebelum kematiannya.
Respons Vatikan dan Langkah HukumBencana yang melukai 116 orang lainnya ini menarik perhatian dunia, termasuk Paus Leo XIV. Dalam pertemuan dengan kerabat korban di Vatikan, Paus mengaku "sangat tergerak dan quat" mendengar kesaksian mereka.
"Di mana seseorang bisa menemukan pelipur lara yang setara dengan apa yang Anda alami?" tanya Paus kepada keluarga korban.
Saat ini, pengadilan Swiss telah memberlakukan larangan perjalanan bagi Jessica Moretti dan mewajibkannya melapor ke polisi setiap hari karena dianggap berisiko melarikan diri. Sementara itu, suaminya, Jacques Moretti, ditahan selama 90 hari untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Sebagai dampak dari tragedi ini, kanton Valais di Swiss kini resmi melarang penggunaan perangkat piroteknik di semua tempat umum dalam ruangan. Pemerintah juga menyiapkan dana darurat sebesar 10.000 franc (sekitar Rp180 juta) bagi setiap keluarga korban tewas. (BBC/Z-2)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F15%2F289d0b33efc5007de7d42c32cd65a55b-cropped_image.jpg)