Oleh: Ilham Hamid
(Ketua KBIHU Subulussalam)
- Rasulullah ﷺ tidak membawa oleh-oleh Isra’ Mi‘raj berupa benda, tetapi sebuah sistem peradaban: shalat yang melahirkan manusia
“tanha ‘anil fahsya’i wal munkar”
(مَنْ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)
QS. Al-‘Ankabut: 45
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Makna Tanha ‘Anil Fahsya’i wal Munkar, adalah bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar bukan berarti orang yang mengerjakan salat itu tidak lalu otomatis jadi baik, tetapi dengan ia melaksanakan dan atau menegakkan salat merupakan sistem membangun dan membentuk karakter, etika, adab,akhlak dan peradaban, inilah yang dimaksud Islam progresif…
- Mengapa Salat Ini Disebut Oleh-oleh Isra’ Mi‘raj?
Oleh karena salat:
Diterima langsung tanpa perantara malaikat, di luar ruang dan waktu dunia. Menurut Prof Nasaruddin Umar bahwa Isra adalah perjalanan horizontal Rasulullah SAW yang masih bisa dijangkau oleh akal.
Sementara Mi’raj Nabi adalah perjalanan vertikal yang tak bisa dijangkau oleh akal tetapi imanlah yang dapat menjangkaunya.
Sekali lagi oleh-oleh terbesar Rasulullah adalah salat. Salat bukan ritual statis, tapi mesin peradaban dan kemajuan umat.
Maka makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar hari ini bukan hanya soal maksiat individual, tetapi Fahsya’ Modern, Munkar Modern seperti Korupsi berjamaah, manipulasi data, kekerasan verbal & digital, Fitnah & hoaks, pelecehan jabatan, penyalahgunaan kekuasaan, hedonisme struktural & Ketidakadilan sistem.
Jika salat seseorang tidak membuatnya anti-korupsi, anti-hoaks, anti-kezaliman, maka salatnya belum naik ke langit Isra’.
Dalam Islam berkemajuan salat berfungsi sebagai: Revolusi Etika, Revolusi Mental, dan Revolusi Sosial.
Salat sebagai revolusi etika bermakna untuk ,disiplin waktu, kejujuran niat, pengendalian diri.
Salat sebagai revolusi mental maknanya bahwa setiap kita membaca Allahu Akbar berarti: kita membesarkan Allah tidak ada kekuasaan lebih tinggi dari kekuasaan Allah.
Salat sebagai Revolusi Sosial, yang diutamakan dalam salat adalah dengan berjamaah. Salat berjamaah akan menghapus: kelas sosial, status ekonomi, jabatan struktural, bahwa semua manusia sejajar di hadapan Tuhan.
- Oleh-oleh Isra’ Mi‘raj Bukan untuk Langit, tapi untuk Bumi
Rasulullah naik ke langit, tetapi oleh-olehnya diturunkan ke bumi, ketika Nabi mi’raj sesungguhnya Nabi sudah berada pada zona nyaman, apalagi sudah berjumpa dengan Allah, itulah kenikmatan yang paling puncak ketika seorang hamba bertemu dengan Rabb-NYA ( QS. Al-Kahafi 110)
Saking cintanya Nabi kepada umatnya, sehingga beliau turun kembali ke bumi, beliau selalu mengingat panggilan ummati.. ummati.. ummati.. sehingga buru-buru untuk kembali ke bumi.
Tentu tujuannya adalah agar ummatnya menegakkan salat 5 waktu, sehingga apabila salat benar-benar ditegakkan, maka dapat menghalangi tangan dari korupsi, menjaga lisan dari fitnah, menahan hati dari kesombongan, menguatkan kejujuran,keadilan dan harkat kemanusiaan yang merupakan nilai-nilai universal kehidupan. Umat tidak zalim, tidak memanipulasi agama,tidak membungkus kebatilan dengan simbol kesalehan.
Sebagai Penutup goresan di hari jumat yang penuh berkah, izinkan saya menyimpulkan bahwa, Jika Isra’ Mi‘raj hari ini terjadi, Nabi tidak akan bertanya:“Berapa rakaat salatmu?” Tetapi: “Apa yang berhasil kau hentikan dari kebatilan setelah salatmu?”
Inilah makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar dalam wajah Islam Berkemajuan..
Mari kita jadikan salat bukan sekadar kewajiban, tetapi kekuatan moral yang membangun peradaban dan karakter mulia akhlaqul karimah.
Walllahu a’llam.



