Teriknya matahari siang tak menyurutkan langkah warga menuju dermaga Kampung Kabare, Distrik Waigeo Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Di ujung dermaga, sebuah kapal tongkang berukuran 900 meter persegi dengan bobot 726 gross ton tampak bersandar. Logo palang merah besar terpampang di pintu masuk kapal yang dikenal sebagai Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II.
Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II merupakan kolaborasi Yayasan Dokter Peduli (DoctorShare) bersama PT Pertamina International Shipping (PIS). Selama dua bulan beroperasi sejak 10 Juni 2025, RSK Nusa Waluya II mampu melayani sekitar 4.000 pasien di daerah terpencil di sekitar Waigeo Utara.
Managing Director DoctorShare, Tutuk Utomo, mengatakan RSK Nusa Waluya II didukung 35 tenaga medis yang terdiri atas dokter umum, perawat, analis laboratorium, apoteker, bidan, radiografer, serta tenaga administrasi. Selain itu, terdapat dokter spesialis relawan, mulai dari spesialis obstetri dan ginekologi hingga penyakit dalam, yang bergantian setiap pekan.
Dari sisi fasilitas, RSK Nusa Waluya II dilengkapi ruang rawat inap berkapasitas 21 tempat tidur, ruang nifas, ruang bersalin, ruang operasi, instalasi gawat darurat, poli gigi, poli umum, poli spesialis, apotek, laboratorium, radiologi, hingga fasilitas bank darah.
Manajer Corporate Social Responsibility (CSR) PT PIS, Alih Istik Wahyuni, menjelaskan kerja sama PIS dengan DoctorShare didasarkan pada kesamaan bidang, yakni dunia perkapalan, serta sejalan dengan tiga pilar CSR PIS yang berfokus pada sektor kesehatan, lingkungan, dan pendidikan.
Menurut Alih, kolaborasi ini sebenarnya telah dimulai sejak 2023 melalui bantuan medis di Seget, Papua Barat Daya. Keberhasilan program tersebut mendorong kelanjutan kerja sama melalui pelayanan kesehatan RSK di Waigeo Utara, yang masuk kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).




