Perang Hampir Meledak: Trump Hentikan Serangan ke Iran Saat Bom Sudah Siap Dijatuhkan

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita


EtIndonesia.
Sebuah operasi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan nyaris dilaksanakan, sebelum akhirnya dibatalkan hanya beberapa menit menjelang eksekusi, menyusul intervensi langsung Presiden Donald Trump.

Informasi tersebut diungkapkan oleh analis militer Wola, Bobert, yang menyebut bahwa keputusan pembatalan diambil secara mendadak di tingkat tertinggi. Tak lama setelah itu, ruang udara Iran yang sebelumnya ditutup kembali dibuka, sementara berbagai aset militer AS yang telah dikerahkan dalam keadaan darurat menerima perintah untuk kembali ke pangkalan dan tetap berada dalam status siaga.

Aset Militer AS Ditarik dari Al Udeid

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa sejumlah aset tempur yang diberangkatkan dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebelumnya telah berada dalam posisi siap operasi. Namun, setelah keputusan Presiden Trump, seluruh unit tersebut diperintahkan menghentikan manuver ofensif dan kembali ke posisi awal.

Pesan Trump ke Teheran: “AS Tidak Akan Menyerang”

Pada 15 Januari 2026, harian Dawn dari Pakistan melaporkan pernyataan Duta Besar Iran untuk Pakistan, Moghadam. Dia mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menyampaikan pesan langsung kepada Teheran bahwa Amerika Serikat tidak berniat menyerang Iran, sekaligus meminta pemerintah Iran untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.

Namun di sisi lain, seorang pejabat AS dan dua sumber internal pemerintahan menyampaikan narasi yang lebih kompleks. Mereka mengungkapkan bahwa Trump telah menegaskan kepada tim keamanan nasionalnya: jika aksi militer benar-benar dilakukan, maka serangan harus cepat, tegas, dan langsung menyasar inti rezim, bukan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang panjang yang memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Kekhawatiran Balasan Iran dan Opsi Serangan Terbatas

Para pejabat tersebut juga mengakui adanya kekhawatiran serius bahwa kekuatan militer AS di kawasan mungkin belum cukup untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan besar-besaran dari Iran. Karena itu, muncul pertimbangan bahwa Trump bisa saja menyetujui aksi militer terbatas sebagai langkah awal, sembari tetap membuka opsi eskalasi jika situasi memburuk.

Pernyataan Trump di Gedung Putih

Pada 14 Januari 2026, Trump berbicara kepada wartawan di Ruang Oval. Dia mengaku menerima laporan bahwa rezim Iran telah menghentikan kekerasan terhadap demonstran, serta menunda rencana eksekusi terhadap seorang demonstran berusia 26 tahun.

“Saya berharap itu benar. Siapa yang tahu?” ujar Trump singkat.

Ketika ditanya apakah hal tersebut berarti opsi militer telah dicoret, Trump menjawab dengan nada terbuka: “Kita lihat saja bagaimana situasinya berkembang.”

Ancaman Terbuka dari Media Negara Iran

Di saat yang sama, televisi nasional Iran menayangkan ulang cuplikan penembakan terhadap Trump saat masa kampanye, disertai pernyataan bernada ancaman: “Kali ini, pelurunya tidak akan meleset.”

Siaran tersebut memicu kekhawatiran luas di kalangan pengamat internasional mengenai eskalasi ancaman langsung terhadap kepala negara asing.

Unjuk Kekuatan Aparat dan Arus Dana Elite

Sejak dini hari 15 Januari 2026, pasukan keamanan Iran diperintahkan menggelar latihan unjuk kekuatan serentak di berbagai kota besar.

Sementara itu, laporan televisi Israel menyebutkan bahwa dalam 48 jam terakhir, elite Iran telah memindahkan sekitar 1,5 miliar dolar AS ke Dubai melalui mata uang kripto. Salah satu putra Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan sendiri mentransfer 328 juta dolar AS.

Pada saat yang sama, lima bank besar di Iran mulai menolak pencairan dana, memunculkan tanda-tanda bahwa sistem perbankan nasional berada di ambang keruntuhan.

Peringatan Keras dari Menteri Keuangan AS

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyampaikan pernyataan tajam: “Mereka seperti tikus yang melompat dari kapal yang sedang tenggelam—panik memindahkan uang yang dicuri dari rakyat Iran ke bank-bank di seluruh dunia. Tenang saja, kami akan melacak mereka, dan juga melacak Anda. Namun jika Anda memilih berdiri di pihak kami, kesempatan itu masih ada.”

Penutupan Wilayah Udara dan Aktivitas Mahan Air

Iran juga menutup wilayah udaranya, hanya mengizinkan penerbangan internasional tertentu dengan izin khusus. Data Flightradar24 menunjukkan bahwa pada periode tersebut, hanya dua pesawat Mahan Air yang melintasi wilayah Iran—masing-masing berasal dari Guangzhou dan Shenzhen, menuju Bandara Internasional Imam Khomeini.

Beberapa hari sebelumnya, media resmi Tiongkok merilis video promosi yang mengundang warga Tiongkok berwisata gratis ke Iran, dengan alasan tahun 2026 menandai 55 tahun hubungan diplomatik Tiongkok–Iran dan 10 tahun kemitraan strategis komprehensif. Bahkan, Mahan Air meluncurkan program 1.000 tiket pesawat gratis ke Iran.

Sejumlah pengamat menilai, meski dua pesawat tersebut tidak cukup untuk mengangkut minyak, penerbangan ini berpotensi menjadi kedok pengiriman dana dan bantuan militer dari Tiongkok ke Iran.

Bentrokan di Perbatasan dan Tuduhan ke Irak–Turki

Menurut Middle East Monitor, milisi bersenjata Kurdi yang berbasis di Irak baru-baru ini mencoba menyeberang ke wilayah barat dan barat laut Iran, memicu bentrokan bersenjata. Otoritas Iran menuduh kelompok tersebut dikirim dari Irak dan Turki, serta telah meminta kedua negara menghentikan aliran personel dan senjata.

Kesaksian Warga: “Seluruh Iran Sedang Dibantai”

Dalam dua hari terakhir, sinyal komunikasi di Iran mulai pulih sebagian. Banyak warga menghubungi keluarga mereka untuk memastikan keselamatan, sekaligus menyampaikan kesaksian mengerikan mengenai penindasan yang terjadi.

Seorang ibu menangis saat menelepon putrinya, mengatakan bahwa tentara menembaki warga sipil dengan senapan mesin, dan Isfahan, kota terbesar ketiga Iran, telah mengalami pembantaian. Dia menegaskan bahwa detail tidak bisa dibicarakan lewat telepon karena seluruh komunikasi diawasi ketat.

Dalam panggilan lain, seorang warga menyatakan: “Seluruh Iran sedang dibantai. Anak-anak muda dibunuh di depan rumah mereka. Tidak ada satelit, Iran seperti mundur seratus tahun. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Para penguasa Iran adalah penjahat perang.”

Dia menambahkan bahwa angka 12.000 korban tewas yang beredar di luar negeri “tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyataan di lapangan.”

Korban selamat juga mengungkap praktik pemerasan di rumah sakit. Seorang ayah yang hendak mengambil jenazah anaknya diminta membayar 19.000 dolar AS. Jika tak mampu, dia dipaksa menandatangani pernyataan bahwa anaknya tewas akibat “kerusuhan oleh preman”, bukan akibat tindakan aparat negara.

Banyak penelepon memperingatkan bahwa panggilan tidak boleh terlalu lama, karena risiko penangkapan sangat tinggi. Rakyat Iran berharap internet segera pulih agar dunia mengetahui kondisi sebenarnya.

Dukungan Internasional dan Seruan Reza Pahlavi

Menteri Luar Negeri Prancis mengonfirmasi bahwa Paris sedang mempertimbangkan penyerahan terminal satelit komunikasi Eropa kepada rakyat Iran, guna membantu mereka menembus pemblokiran internet hampir total.

Sementara itu, Reza Pahlavi, pewaris Dinasti Pahlavi, menyampaikan pidato yang menggambarkan visi Iran pasca runtuhnya rezim Khamenei—meski sebelumnya Presiden Trump sempat menyatakan keraguan terhadap kepemimpinannya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi Terbitkan SP3 untuk Eggi Sudjana dan Damai Lubis, Bagaimana dengan Roy Suryo?
• 4 jam lalusuara.com
thumb
OPPO Resmi Umumkan Brand Ambassador Baru, Iqbaal Ramadhan Jadi Face of Reno15 Series! Siap Temani Anak Muda #AuraFraming
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hidup dari Gaji ke Gaji? Ini 4 Kesalahan Keuangan yang Sering Terjadi di Usia 20-an
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Yohei Sasakawa Ajak Hentikan Stigma terhadap Penderita Kusta di Indonesia
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Terima Permohonan RJ Eggi Sudjana-Damai Lubis di Kasus Ijazah Jokowi
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.