Suatu negara dan sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan suatu bangsa di dunia rata-rata bertahan selama 250 tahun. Teori tersebut diungkapkan oleh Sir John Bagot Glubb, tokoh militer dan sejarawan Inggris dalam bukunya yang berjudul The Fate of Empires and Search for Survival.
Pada 2026 ini, Amerika Serikat akan genap memasuki usia 250 tahun. Jika mengacu pada teori yang disampaikan Sir Bagot, pada usia seperempat abad ini suatu negara akan memasuki usia kemerosotan (decadence). Lantas, apakah teori ini akan berlaku bagi AS?
Menurut Sir Bagot, era kemerosotan suatu negara ditandai oleh tujuh hal. Terdiri dari sikap defensif yang mementingkan diri atau negara sendiri; tumbuhnya sikap pesimisme dan sinisme; semakin kuatnya paham materialisme; dan sikap sembrono dalam pengambilan keputusan. Selain itu, menghadapi persoalan imigran yang membebani negara; masalah kesejahteraan nasional; serta melemahnya peran agama dalam kehidupan masyarakat.
Beragam kondisi yang ditulis Sir Bagot dalam bukunya itu berdasarkan fakta sejarah selama 3.000 tahun peradaban manusia. Ia meneliti dan mendalami proses perjalanan kebangkitan suatu bangsa hingga era keruntuhannya.
Di antaranya, bangsa Siria yang muncul pada 856 SM dan limbung pada 612 SM, hingga yang terkini Sir Bagot memasukkan Kerajaan Inggris (1700-1950) sebagai kasus terbaru. Secara garis besar, usia pemerintahan negara tersebut berkisar di angka 250 tahun.
Penyebab kemunduran suatu bangsa pun ada polanya. Kehancuran acap kali dimulai dari dalam negeri, seperti konflik sosial horizontal, polarisasi politik serta perebutan kekuasanan, yang diperparah dengan masalah ekonomi serta kesejahteraan warganya. Faktor eksternal, seperti serangan dari negara lain, justru bukan menjadi penyebab utama, melainkan hanya sebagai salah satu faktor pendukung.
Buku karya Sir Bagot menjadi sangat relevan sebagai bingkai perspektif untuk menilik kondisi dan manuver AS dalam masa pemerintahan Presiden Trump saat ini. AS sebagai negara superpower telah secara lengkap melalui enam fase peradaban bangsa, meminjam kacamata Sir Bagot.
Fase pertama adalah era perintis (age of pioneers) yang dijalani oleh sekelompok imigran dari Eropa yang mencari peruntungan di tanah yang begitu menjanjikan, yakni Amerika.
Fase kedua yakni era penaklukan (age of conquests) yang pada konteks sejarah AS para imigran merebut tanah dari penduduk asli, yakni suku Indian. Selain merebut tanah, era penaklukan juga terjadi ketika Perang Revolusi. Pasukan Inggris berhasil diusir dari tanah Amerika.
Berikutnya, fase ketiga adalah era perdagangan (age of commerce). Setelah bebas dari kungkungan Inggris, perekonomian AS berkembang pesat. Bergulir bersamaan dengan revolusi industri yang ditenagai oleh berkembangnya mesin uap. Pelabuhan dibangun, area industri dan pertambangan dikembangkan, jalur kereta api menjadi nadi ekonomi Amerika yang seluruh wilayahnya berupa daratan luas.
Era keempat, era kemakmuran (age of affluence) dan, era kelima, era intelektual (age of intellect) berlangsung beriringan, yakni seusai Perang Dunia II. Sejak tahun 1950-an hingga awal 1970-an Amerika mengalami booming ekonomi.
Bidang intelektual di AS terbilang moncer, salah satunya ditandai dengan dimenangkannya atomic race oleh pihak Sekutu yang dimotori AS. Dilanjutkan space race antara Blok Barat dan Blok Timur. Perkembangan teknologi dunia pun banyak yang dipantik oleh ilmuwan dari AS.
Fase terakhir, fase kemunduran AS mulai muncul gejalanya di awal milenium kedua. Pada 11 September 2001 pagi, dua pesawat penumpang menabrakkan diri ke dua menara World Trade Center di New York. Peristiwa yang kebenarannya hingga sekarang masih menjadi kontroversi tersebut mengubah kehidupan masyarakat AS dan tatanan geopolitik dunia.
Sikap defensif AS seketika mencuat pascaperistiwa yang dijuluki ”911” itu. Atas nama keamanan nasional, menjadi legitimasi AS untuk menggelar kampanye militer di negara-negara Islam di Timur Tengah. Menjaga kemanan nasional adalah hal yang wajib dilakukan penyelenggara negara. Menjadi bencana ketika alibi tersebut menjadi tabir untuk menunaikan agenda tersembunyi. Menguasai sumber daya alam negara lain, misalnya.
Sikap defensif semakin menjadi-jadi ketika Donald Trump masuk dalam bursa Pilpres AS tahun 2016 dengan slogan MAGA. Make America Great Again.
Nuansa tersebut diusung kembali dalam kampanye di periode kedua. Ketika Trump terpilih, jargon America First seolah melandasi banyak kebijakan domestik ataupun luar negeri AS. Salah satunya diwujudkan melalui perang tarif berkepanjangan dengan China, yang kini meluas ke negara-negara lain dengan pengenaan tarif resiprokal.
Menurut pandangan Trump, neraca perdagangan AS tidak boleh defisit terlalu besar. Menurut dia, banyak negara ”mengisap” kekayaan AS dengan neraca yang tidak adil.
Merujuk data dari bank sentral AS, The Fed, neraca perdagangan AS sejak tahun 2000 hingga 2024 mengalami defisit kian besar. Nilai defisit terkecil terjadi pada 2001 dengan nilai 360,4 miliar dolar AS. Nilai terbesarnya mencapai 923,7 miliar dolar AS pada 2022, di era pemerintahan Joe Biden.
Trump berpandangan bahwa defisit neraca tersebut merupakan ancaman besar bagi AS. Perlu ada perombakan radikal melalui kebijakan eksekutif yang dikeluarkan oleh presiden.
Kondisi kedua yang menurut Sir Bagot menjadi penanda kemunduran negara adidaya adalah munculnya sikap pesimisme dan sinisme yang salah satu variasinya berwujud polarisasi masyarakat. Keterbelahan terjadi karena dipantik kondisi yang mengecewakan. Mengambinghitamkan pihak yang dipandang merongrong perekonomian AS.
Polarisasi diperuncing dengan gaya retorika Trump yang terbilang kontroversial dan vulgar. Salah satu yang kena tuding sebagai biang keladi melemahnya kondisi kesejahteraan warga adalah karena banyaknya imigran yang berbondong-bondong mengadu nasib di AS.
Fenomena maraknya imigran yang dianggap sebagai ancaman yang menurunkan kesejahteraan warga AS itu disikapi Pemerintah AS secara represif. Trump memerintahkan Immigration and Customs Enforcement (ICE) untuk menyapu bersih imigran dan memulangkan ke negara asalnya.
Beroperasinya ICE pun menyulut keterbelahan sikap warga AS. Sebagian warga menentang kehadiran ICE di negara bagian mereka. Kasus penembakan yang menewaskan seorang perempuan di Negara Bagian Minnesota pada 7 Januari 2026 menyulut aksi protes besar-besaran.
Mencuatnya konflik terkait imigran dipicu oleh kondisi kesejahteraan masyarakat yang tidak kunjung membaik. Warga AS menuntut adanya lapangan pekerjaan yang layak. Sementara itu, sebagian kelompok berpandangan bahwa sulitnya mencari kerja karena sudah diisi oleh para imigran yang mau diupah secara murah.
Sekumpulan persoalan AS yang tertimbun puluhan tahun menjadi batu loncatan bagi Trump untuk merebut hati masyarakat supaya dapat memenangi pemilu. Memainkan sederet faktor yang disebut oleh Sir Bagot sebagai faktor kemerosotan peradaban negara, Trump kini melengkapi faktor kunci yang hanya bisa dilakukan kepala negara. Faktor tersebut adalah kebijakan dan keputusan yang sembrono atau kebijakan yang memiliki risiko tinggi, baik secara internal ataupun eksternal.
Tahun 2026 dibuka dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya dalam operasi militer senyap pada 3 Januari lalu. Tanpa malu, Trump berucap tentang niatnya menguasai Venezuela, lebih tepatnya mengangkangi sumber minyak di negara tersebut.
AS belakangan sedang berupaya dengan berbagai cara untuk mengurangi beban utang negara. Proporsi utang federal AS pada 2023 mencapai 122 persen dari PDB nasional. Situasi itu terbilang lebih buruk dibandingkan pada 1946 seusai Perang Dunia II. Kala itu, proporsi utang AS sebesar 118,9 persen.
Belum reda soal Venezuela, Trump memunculkan sinyal bahwa ia berhasrat untuk mencaplok Greendland. Rencana ini sontak memicu isu yang memanas karena berkaitan dengan sekutu AS sendiri dalam payung NATO.
Tidak lama berselang, Trump kembali mengusik Iran. Trump mengumumkan, Senin (12/1/2026) waktu setempat, negara-negara yang berbisnis dengan Iran akan dikenai sanksi berupa tarif ketika berdagang dengan AS. ”Berlaku segera, negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan membayar tarif 25 persen untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat. Perintah ini bersifat final dan mengikat,” (Kompas, 13/1/2026).
Dalam bukunya, Sir Gabot menuliskan bahwa kemerosotan suatu negara dipicu oleh faktor internal, yakni kekayaan, kemakmuran, dan kekuasaan yang berlebihan, yang justru mengarahkan manusia atau masyarakat pada kondisi semakin ingin memenuhi hasrat yang lebih tinggi.
Sikap matrialisme semakin menjadi inti dari setiap pengambilan keputusan. Demi keuntungan, demi kekuasaan. Bukan lagi berlandas nilai-nilai kemanusiaan dan agenda perdamaian dunia.
Sir Gabot mengingatkan bahwa, meski peradaban terus maju, teknologi kian berkembang, karakter dan perilaku manusialah yang menentukan nasib suatu bangsa.
Seperti Tsar Nicholas II yang ditumbangkan melalui Revolusi Bolsheviks. Atau Kaisar Agustus yang mengubah wajah Romawi yang semula republik demokratis, tetapi penuh intrik politik dan korup, menjadi kekaisaran dengan kekuasaan terpusat. Pada akhirnya, kekuasaan terpusat itu juga tumbang digulingkan pihak lawan.
Meminjam perspektif Sir Gabot sebagai sejarawan, perilaku Donald Trump memiliki kemiripan yang tidak jauh berbeda dengan para pemimpin negara yang menghantarkan bangsanya menuju gerbang keruntuhan. Terdapat jejak pola sejarah yang jelas. Atau, setidaknya bagi kasus AS saat ini, tindak tanduk Trump berpotensi membuka lembar baru era konflik antarnegara yang lebih masif. (LITBANG KOMPAS)





