Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan investasi yang masif dari Danantara Indonesia menggerus porsi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2025, dan berpotensi akan lebih besar pada tahun 2026.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp 1.931,2 triliun. Porsi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) lebih besar yakni 53,4 persen, sementara investasi asing hanya 46,6 persen.
Realisasi PMDN yang mencapai Rp 1.030,3 triliun tersebut meningkat 26,6 persen dari periode yang sama tahun 2024 (year on year/yoy), sementara peningkatan PMA cenderung landai yakni 0,1 persen (yoy) menjadi Rp 900,9 triliun.
"Investasi dalam negeri peningkatannya lebih besar daripada luar negeri, kurang lebih 26,6 persen atau Rp 1.030,3 triliun, dan kami melihat ini akan terus meningkat lebih besar lagi, karena faktor Danantara. Sekarang kita sudah bisa berinvestasi lebih berjalan lagi," jelasnya saat konferensi pers, Kamis (15/1).
Danantara baru aktif berinvestasi mulai Oktober 2025, setelah merampungkan struktur organisasi dan berbagai regulasi sejak diluncurkan pada Februari 2025.
"Sekarang kita akan berinvestasi lebih banyak lagi di tahun 2026 ini, baik itu di bidang kesehatan, bidang hilirisasi, bidang chemical, dan yang lain-lain. Saya bisa memastikan bahwa dalam negerinya di tahun 2026 ini akan meningkat lebih tinggi secara year on year," ujar CEO Danantara itu.
Meski begitu, dia menilai Danantara juga akan menggaet berbagai mitra asing yang ingin berinvestasi di Indonesia. Menurutnya, Danantara bisa meningkatkan kepercayaan diri investor ke depannya.
"Kita sama-sama taking calculated risk, sehingga peningkatannya insyaallah akan terjaga walaupun menurut kami peningkatan year on year di dalam negeri akan lebih meningkat, karena akselerasi yang kita lakukan di Danantara," tutur Rosan.
Ditemui usai acara, meski masifnya rencana investasi Danantara akan menjadi faktor utama penurunan porsi investasi asing tahun ini, namun Rosan menilai pemerintah bukan berarti menyisihkan peran perusahaan swasta.
Dia mencontohkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy yang ditargetkan memulai konstruksi awal pada Maret mendatang, kepemilikan swasta akan lebih besar.
"Kita memang yang mendorong, tapi di situ kepemilikan kita hanya paling 30 persen. Jadi yang investor luar ada yang masuk, tapi di situ pun kita kasih tahu wajib mesti mengajak juga investor dalam negeri juga, di luar Danantara," tegas Rosan.
Faktor Investasi Asing MelandaiDi sisi lain, Rosan juga mengakui bahwa melandainya investasi asing ke Indonesia disebabkan ketidakpastian ekonomi dan faktor geopolitik yang terus memanas di berbagai negara.
"Kita lihat bersama memang faktor geopolitik, geokonomi, faktor economic tension yang masih ada itu juga tentunya mempengaruhi. Tetapi kalau kita lihat bahwa target yang masuk ini baik dari dalam maupun dari luar negeri masih align dengan rencana-rencana kita," ujar Rosan.
Rosan menyebutkan, dampak dari masalah geopolitik seperti yang terjadi antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS) bukan suatu hal yang bisa dicegah dan diperbaiki oleh pemerintah.
"Dalam kontrol kita itu yang coba kita selalu perbaiki, kita selalu tingkatkan. Terutama dari segi regulasi dan kebijakan supaya menjadi environment friendly untuk investasi," jelasnya.
Dirinya juga akan mengantisipasi dengan mendiversifikasi sumber investasi, sebab jika ada negara yang sedang bermasalah secara internal, otomatis keran investasi akan semakin menurun
"Kita sudah melihat alternatif-alternatif penyebaran investasinya kita selama ini sudah sangat baik, dan negara-negara yang masuk ke kita komitmennya juga masih terus tinggi," katanya.
"Mereka tidak suka apabila uncertainty-nya, ketidakpastiannya itu tinggi. Itu susah diukur oleh mereka dari segi mitigasi risikonya. Tapi saya melihatnya optimis investasi kita ini akan terus berjalan baik, meningkat baik dan sesuai dengan target," pungkas Rosan.




