Surabaya (beritajatim.com)- Isu kekerasan seksual terhadap anak kembali menjadi sorotan publik seiring terbitnya buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Buku ini membuka tabir kelam tentang pengalaman traumatis yang dialami penulis sejak usia anak-anak, termasuk praktik child grooming—sebuah kejahatan yang kerap luput dari pengawasan karena berlangsung perlahan, senyap, dan sering kali melibatkan orang terdekat korban.
Lewat narasi personal dan reflektif, Broken Strings tidak hanya menjadi karya sastra penyintas, tetapi juga alarm keras bagi masyarakat untuk memahami bahaya child grooming serta pentingnya upaya pencegahan sejak dini.
Apa Itu Child Grooming?
Melansir psikology.id, Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan anak, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi seksual. Berbeda dengan kekerasan seksual yang terjadi secara tiba-tiba, grooming berlangsung bertahap dan sistematis.
Pelaku bisa berasal dari lingkungan terdekat korban—keluarga, guru, pengasuh, tetangga, atau figur yang dianggap aman. Di era digital, grooming juga banyak terjadi melalui media sosial, gim daring, dan aplikasi pesan instan.
Tahapan Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
Child grooming umumnya terjadi melalui beberapa fase berikut:
Membangun Kedekatan Emosional
Pelaku bersikap sangat perhatian, memberikan pujian berlebihan, hadiah, atau menjadi “tempat curhat” bagi anak.
Menciptakan Ketergantungan
Anak dibuat merasa hanya pelaku yang memahami dan melindunginya, sehingga menjauh dari orang tua atau lingkungan aman.
Normalisasi Perilaku Tidak Pantas
Pelaku mulai melontarkan candaan seksual, sentuhan “tidak sengaja”, atau percakapan intim yang perlahan dianggap wajar.
Isolasi dan Ancaman
Anak diintimidasi dengan rasa bersalah, ancaman, atau ketakutan agar tidak bercerita kepada siapa pun.
Dalam Broken Strings, pola ini tergambar jelas melalui relasi kuasa yang timpang dan kondisi psikologis korban yang masih rapuh, membuat proses grooming sulit disadari sejak awal.
Contoh Kasus Child Grooming di Kehidupan Nyata
Kasus child grooming tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga marak di Indonesia. Beberapa pola kasus yang sering ditemukan antara lain:
Pelaku menyamar sebagai teman sebaya di media sosial, lalu mengajak korban berbagi foto pribadi.
Figur otoritas seperti pelatih, guru privat, atau pembina kegiatan memanfaatkan kepercayaan orang tua.
Anggota keluarga atau kerabat dekat yang memanfaatkan kedekatan emosional dan akses tanpa pengawasan.
Banyak korban baru menyadari bahwa mereka mengalami grooming bertahun-tahun kemudian, ketika dampak psikologis seperti trauma, gangguan kecemasan, hingga depresi mulai muncul.
Dampak Psikologis Jangka Panjang bagi Korban
Child grooming meninggalkan luka mendalam, antara lain:
Rasa bersalah dan malu berlebihan
Gangguan kepercayaan terhadap orang lain
Trauma berkepanjangan
Gangguan identitas diri
Kesulitan menjalin relasi sehat saat dewasa
Dalam buku Broken Strings, Aurelie Moeremans menggambarkan bagaimana trauma masa kecil dapat membentuk persepsi diri dan relasi hingga usia dewasa, sekaligus menegaskan bahwa penyintas bukanlah pihak yang bersalah.
Cara Mencegah Child Grooming Sejak Dini
Pencegahan child grooming membutuhkan peran aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat. Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:
Bangun Komunikasi Terbuka dengan Anak
Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan.
Edukasi Literasi Digital
Ajarkan anak batasan privasi, bahaya berbagi informasi pribadi, dan cara melapor jika merasa tidak nyaman.
Kenali Perubahan Perilaku Anak
Menarik diri, mudah cemas, atau perubahan emosi ekstrem bisa menjadi tanda peringatan.
Batasi dan Awasi Aktivitas Online
Gunakan kontrol orang tua dan dampingi anak saat menggunakan gawai.
Edukasi Seksualitas yang Sesuai Usia
Anak perlu tahu bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain dan berhak berkata “tidak”.
Broken Strings sebagai Ruang Kesadaran Publik
Lebih dari sekadar buku, Broken Strings menjadi medium advokasi untuk menyuarakan realitas child grooming yang selama ini tersembunyi.
Kisah Aurelie Moeremans menegaskan bahwa membicarakan kekerasan seksual bukan membuka luka, melainkan langkah awal penyembuhan dan pencegahan.
Kesadaran publik, empati terhadap penyintas, serta keberanian melapor adalah kunci untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak. [aje]



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474283/original/034228900_1768470967-IMG_8023.jpeg)
