Fajar baru saja menyingsing, sekelompok anak dengan semangatnya sudah beranjak dari kasur memulai aktivitas di lingkungan asrama yang telah ditempati selama beberapa bulan terakhir.
Derap Langkah kaki berlomba menyusuri lorong memecah hening, menuju masjid asrama untuk menunaikan Salat Subuh berjamaah. Hal itu menjadi awal dari rutinitas yang tak asing lagi bagi setiap siswa beragama Islam yang mengenyam pendidikan di 166 Sekolah Rakyat rintisan.
“Sekolah Rakyat adalah kawah Candradimuka, tempat penjaga asa keluarga, (mereka) digembleng, dididik, dan disiapkan untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mengubah masa depan keluarganya,” ucap Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat melaporkan capaian penyelenggaraan Sekolah Rakyat semester pertama tahun ajaran 2025-2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Di Sekolah Rakyat, rutinitas harian yang berjalan tidak hanya terbagi ke dalam jam pelajaran semata. Ia mengalir sepanjang hari menjelma menjadi pembelajaran setiap saat. Mulai dari cara bangun pagi, beribadah, makan bersama, merapikan kamar dan lingkungan asrama, hingga belajar mengenali diri sendiri dan menata emosi. Dari situ, maka Sekolah Rakyat pun dapat disamakan dengan Kawah Candradimuka: tempat penggemblengan, bukan sekadar pengajaran di atas meja.
Anak-anak yang kini mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat adalah mereka yang selama ini nyaris tak terlihat. Mereka sebelumnya berasal dari keluarga dengan penghasilan tak menentu. Sebagian anak bahkan tumbuh dalam kenyataan yang lebih sunyi: keluarga orang tua tunggal, rumah tangga penuh kekerasan, dan kehidupan yang memaksa mereka bekerja sebelum sempat bermimpi.
Dulu, saat awal penjangkauan calon siswa, deretan angka pada data yang berhasil dihimpun oleh Kementerian Sosial menjadi saksi bisu, dengan 454 siswa Sekolah Rakyat sebelumnya tidak pernah mengenyam pendidikan, sementara 298 lainnya putus sekolah. Sebagian lainnya bahkan belum lancar membaca padahal telah berusia SMA. Ada pula yang sejak kecil terbiasa mengalah pada keadaan, bekerja di usia dini.
Kini, di Sekolah Rakyat, mereka dipetakan potensinya lewat tes talenta berbasis teknologi: DNA Talent, yang memandang setiap anak adalah unik, bukan dari apa yang kurang, tetapi dari apa yang bisa tumbuh dan dikembangkan.
“Pendidikan formal dijalankan dengan kurikulum yang sangat personal. Dibimbing oleh guru-guru yang tersertifikasi. Di asrama, anak-anak dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama dalam pembiasaan hidup sehat, tertib, disiplin, dan mandiri,” ucap Gus Ipul.
Enam bulan berjalan, perubahan baik mulai tampak. Para siswa membaik dari sisi kesehatannya. Namun lebih dari itu, lahirnya ribuan asa-asa baru dari tiap sudut ruang Sekolah Rakyat menjadi hal yang ditunggu-tunggu.
“Ketika anak-anak merasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh. Tadi, Bapak Presiden, yang tampil di atas panggung itu semuanya adalah siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul kala memamerkan bakat para penampil yang berasal dari berbagai siswa Sekolah Rakyat seluruh Indonesia pada acara Peluncuran Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Tak hanya sampai di situ. Perubahan baik juga bergema hingga ke rumah para siswa. Para orang tua mengirim kabar-kabar yang menggetarkan setiap ada kesempatan siswa pulang ke rumah.
“Banyak pesan mengharukan yang kami terima dari para orang tua. (seperti) Terima kasih sekarang anak kami lebih rajin beribadah, bangun pagi tanpa dibangunkan, mau membantu pekerjaan rumah, tidak lagi menyendiri, mau bermain dengan teman sekitar di rumah, dan lebih percaya diri,” sambung Gus Ipul.
Gus Ipul meyakini bahwa lahirnya Sekolah Rakyat semakin bisa dirasakan dampaknya bagi siswa dan turut memulihkan harapan satu keluarga akan kehidupan di masa mendatang. Sekolah Rakyat sebagai episentrum berbagai program pemerintah telah membentuk suatu ekosistem tempat suburnya harapan anak bangsa yang telah ditanam. Hingga di tahap tersebut, Negara telah memilih keputusan tepat dengan menanam harapan, bukan sekadar mengelola angka saja.
“Kelak ketika anak-anak di tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: di masa itu pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,” ucap Gus Ipul dengan lirih disambut tepuk tangan haru dari seluruh peserta yang hadir.
Sekolah Rakyat merupakan program unggulan yang digagas langsung Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas dengan konsep asrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tak sekadar akses pendidikan, Sekolah Rakyat juga didesain sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu karena mengintegrasikan berbagai program unggulan pemerintah. Di antaranya Cek Kesehatan Gratis, Makan Bergizi Gratis, jaminan kesehatan PBI-JKN, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa penerima manfaat.
Sekolah Rakyat juga menjangkau keluarga siswa. Selain menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan, sembako, dan Program ATENSI, keluarga siswa juga didorong mengikuti Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi agar mampu mandiri dan meningkatkan taraf hidup.
Hingga saat ini, Kementerian Sosial yang menggawangi program ini telah berhasil menyelenggarakan 166 titik Sekolah Rakyat rintisan dengan kapasitas 15.945 siswa dan didukung oleh 2.218 guru serta 4.889 tenaga kependidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Sumatra 35 lokasi, Jawa 70 lokasi, Bali dan Nusa Tenggara 7 lokasi, Kalimantan 13 lokasi, Sulawesi 28 lokasi, Maluku 7 lokasi, dan Papua 6 lokasi.
Pada tahap awal, 166 Sekolah Rakyat rintisan ini masih memanfaatkan fasilitas milik Kementerian Sosial, Balai Latihan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, dan aset pemerintah daerah. Namun, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat akan dimulai tahun ini. Ke depan ditargetkan akan berdiri 500 sekolah rakyat dengan daya tampung tiap sekolah 1.000 siswa.
Sekolah Rakyat juga memiliki keunggulan tersendiri. Siswa tidak hanya dibekali pengetahuan tapi juga pendidikan karakter dan keterampilan. Proses hilirisasi telah disiapkan sejak siswa masuk ke Sekolah Rakyat melalui DNA Talent Mapping.
Para siswa dibimbing, diarahkan, dan difasilitasi sesuai dengan minatnya, baik yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun yang ingin bekerja sesuai keterampilan dan keahlian.
Kemensos telah bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi untuk memfasilitasi beasiswa bagi siswa berprestasi dari Sekolah Rakyat yang ingin melanjutkan pendidikan. Beberapa di antaranya Universitas Ary Ginanjar (UAG) dan ESQ Business School yang telah memfasilitasi beasiswa untuk lulusan Sekolah Rakyat ke depan.
Di samping memfasilitasi beasiswa, Kemensos juga memfasilitasi siswa yang ingin bekerja setelah lulus, kolaborasi dilakukan dengan pihak terkait seperti Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Kemudian untuk siswa Sekolah Rakyat jenjang Menengah Pertama yang memiliki kemampuan akademik yang memadai akan difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Garuda. (LAN)





:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-07-Suporter-PSM-Makassar-saat-menyaksikan-laga-melawan-Malut-United-2.jpg)