Pantau - Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jorge Moreira da Silva, menyatakan bahwa krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk dan memerlukan respons mendesak dari komunitas internasional.
“Saya baru saja kembali dari Gaza, di mana krisis kemanusiaan semakin memburuk,” ungkap Da Silva, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS).
Ia menggambarkan kondisi warga Gaza sebagai kelelahan, trauma, dan kewalahan, terutama saat harus menghadapi penderitaan ganda akibat musim dingin dan hujan lebat.
60 Juta Ton Puing, Sistem Dasar Lumpuh tanpa Bahan BakarMenurut Da Silva, tingkat kehancuran di Gaza sangat luar biasa, terutama bagi anak-anak yang hidup dalam kondisi kehilangan dan trauma berat.
“Gaza memiliki lebih dari 60 juta ton puing, setara kapasitas hampir 3.000 kapal peti kemas. Rata-rata setiap orang di Gaza saat ini dikelilingi oleh 30 ton puing,” ujarnya.
Diperkirakan dibutuhkan waktu lebih dari tujuh tahun untuk membersihkan seluruh puing tersebut.
UNOPS saat ini terlibat aktif dalam proses pembersihan puing, pemulihan energi, pengelolaan limbah, serta penyediaan tempat tinggal darurat bagi masyarakat Gaza.
Da Silva menegaskan pentingnya pasokan bahan bakar untuk menjalankan operasi kemanusiaan.
Tanpa bahan bakar, rumah sakit tidak dapat berfungsi, sistem air dan sanitasi lumpuh, distribusi bantuan pangan terhambat, serta komunikasi dan transportasi darurat terganggu.
“Tim kami juga bekerja sama dengan UN Mine Action untuk membantu masyarakat menghadapi risiko luas dari sisa-sisa bahan peledak yang belum meledak,” jelasnya.
Dorongan Pemulihan dan Harapan dari Gencatan SenjataDa Silva menyambut baik pengumuman Amerika Serikat terkait transisi ke fase kedua dalam rencana gencatan senjata di Gaza.
“Ini harus benar-benar menjadi awal dari rekonstruksi. Pemulihan awal harus segera dimulai, termasuk pemulihan akses terhadap layanan dasar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa permasalahan puing di Gaza bukan hanya karena volumenya yang besar, tetapi juga karena kandungan berbahaya di dalamnya, seperti asbes, sisa jasad manusia, dan bahan peledak aktif.
Situasi tersebut menambah lapisan risiko bagi warga sipil dan petugas kemanusiaan yang bekerja di lapangan.
PBB mendesak semua pihak untuk memastikan akses kemanusiaan yang aman dan berkelanjutan ke wilayah Gaza agar proses pemulihan dapat segera dimulai.




