jpnn.com, JAKARTA - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku sebanyak enam calon petugas haji dipulangkan dari pendidikan dan pelatihan (diklat) di Asrama Haji Pondok Gede.
Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan, dipulangkannya enam calon petugas haji karena tidak jujur soal kondisi kesehatannya.
BACA JUGA: Gus Yaqut Tersangka Korupsi Haji, Ketua PBNU Ini Mengaku Tak Terima Uang
"Laporan yang saya terima sudah ada yang berguguran. Ada setidaknya enam orang. Tiga di antaranya karena sakit," ujar Dahnil dikutip Jumat (16/1).
Dahnil menyoroti ketidakjujuran peserta sejak awal seleksi.
BACA JUGA: Astagfirullah! Haji Khusus 2026 Terancam Gagal Terlaksana
Sebab, beberapa peserta diketahui menyembunyikan riwayat penyakit serius yang berisiko menular atau memberatkan tim, seperti Tuberkulosis (TBC) dan gangguan ginjal.
"Sejak awal masuk tidak jujur menyatakan bahwasanya dia ada sakit. Misalnya TBC atau ginjal yang justru bisa mencelakai teman-teman sekalian. Penyakit seperti TBC itu menular, maka kami memutuskan untuk memulangkan dan menggugurkan haknya," kata dia.
Keputusan tersebut menegaskan bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar kesempatan beribadah gratis, melainkan tugas berat yang menuntut kondisi fisik prima atau memenuhi syarat kesehatan (istitha'ah).
Petugas haji harus siap bekerja di bawah tekanan cuaca ekstrem dan kelelahan fisik saat melayani jamaah lansia.
Jika petugas sendiri sakit, maka pelayanan kepada jamaah dipastikan akan terganggu.
Dahnil pun mengingatkan peserta yang tersisa untuk menjaga kesehatan hingga akhir pelatihan pada tanggal 30 Januari nanti.
Dia menekankan filosofi 'satu keluarga' yang saling menjaga, yang berarti tidak boleh ada satu pun petugas yang menjadi sumber bahaya bagi petugas lainnya.
"Kita ingin semuanya tetap sehat dan bugar untuk memastikan nanti pada bulan April dan Mei kita bisa bertugas dengan baik," ujarnya.
Standar kesehatan dan kejujuran menjadi harga mati bagi calon petugas haji.
Ketegasan tersebut menjadi sinyal bahwa Kemenhaj tidak akan mentolerir ketidaksiapan fisik yang ditutupi oleh manipulasi data kesehatan.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




