Oleh: Buya Anwar Abbas*)
Isra' berarti berjalan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha. Adapun Mi'raj berarti naik ke langit, tepatnya dari Masjid al-Aqsha ke Sidratul Muntaha.
- Bandara Samarinda Lanjutkan Layanan Enam Rute Perintis ke Daerah 3TP
- Kuota Produksi Dipangkas, Vale Jamin Pasokan Nikel untuk Smelter Tetap Aman
- Usaha Terlarang Ozan di Pinggiran Bandung Barat Dibongkar Polisi
Dari peristiwa ini, terlihat adanya dua bentuk perjalanan yang dilalui Nabi Muhammad SAW, yaitu yang bersifat horizontal dan vertikal. Keduanya pun kita jalani dalam kehidupan ini.
Perjalanan horizontal adalah perjalanan duniawi. Ini dapat kita maknai dalam kehidupan kita, semisal dengan bekerja dan berusaha untuk mencukupi nafkah sehari-hari. Di sisi lain, substansi maknanya dihubungkan dengan perintah Allah SWT.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dalam menjalani kehidupan ini, di bidang apa pun itu, termasuk ekonomi dan politik, kita harus "mi'raj." Kita mesti mengaitkannya dengan Tuhan. Kita harus berusaha untuk membuat semua yang kita lakukan dan kerjakan tidak bertentangan dengan perintah-Nya.
Dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj dialami Rasulullah SAW, salah satu tugas mulia yang dijemputnya ialah perintah shalat wajib. Umat Nabi SAW diharuskan untuk mengerjakan ibadah tersebut lima kali dalam sehari semalam.
Tidak peduli apa pun jabatan kita serta sesibuk bagaimanapun kita dalam urusan-urusan duniawi ini. Bila telah tiba waktu shalat, kita harus mengerjakannya.
Tuhan sudah menyatakan dalam firman-Nya, surah al-'Ankabut ayat ke-45. "Sesungguhnya, shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar." Jadi, orang yang sudah mengerjakan shalat diharapkan akan bisa meninggalkan segala perbuatan keji dan munkar.
Bagaimana halnya jika hidup masih dihiasi oleh perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta'ala? Itu suatu pertanda bahwa iman kepada-Nya belum kokoh.
Imam Syafii berkata, iman yang ada dalam diri seseorang itu "yazid wa yanqush", masih turun-naik. Bahkan, terkadang iman benar-benar menghilang dari dalam diri seseorang, untuk kemudian datang dan muncul kembali.
Hal itu terlihat jelas dalam hadis Nabi SAW yang menegaskan, bila ada seorang Mukmin mencuri atau korupsi, maka ketika dia melakukan praktik tercela itu, iman telah terbang dari dalam dirinya.
Di situlah kita lihat hikmahnya. Kita diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan shalat wajib lima kali dalam sehari-semalam agar kita dapat menjaga hubungan dengan Allah SWT. Dengan begitu, kita tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang tidak disukai-Nya.
Jika bisa melakukan hal demikian dengan baik, tentu saja kita tidak hanya akan dicintai oleh Allah. Kita pun akan dicintai oleh makhluk-Nya yang ada di bumi, termasuk sesama manusia.
*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup.




