Bisnis.com, MEDAN — Dalihan Na Tolu merupakan sistem adat yang menjadi landasan utama dalam mengatur hubungan sosial, kekerabatan, dan tata kehidupan masyarakat Batak.
Konsep ini tidak sekadar adat istiadat, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman etika yang menuntun perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Dalihan Na Tolu, masyarakat Batak membangun harmoni sosial yang berakar kuat pada rasa hormat dan tanggung jawab bersama.
Dikutip dari artikel yang terbit di Kemendikdasmen, Jumat (16/01/2026), Dalihan Na Tolu secara harfiah berarti “tungku berkaki tiga”. Sebuah simbol yang menggambarkan keseimbangan dan keterikatan antarunsur dalam struktur sosial Batak. Tiga kaki tungku tersebut melambangkan tiga kelompok kekerabatan utama, yakni hula-hula, dongan tubu, dan boru.
Ketiganya memiliki peran, hak, dan kewajiban yang berbeda, namun saling bergantung satu sama lain. Apabila salah satu unsur tidak berfungsi, maka keseimbangan sosial akan terganggu, sebagaimana tungku yang tidak dapat berdiri kokoh tanpa salah satu kakinya.
Hula-hula menempati posisi yang sangat dihormati dalam sistem Dalihan Na Tolu. Kelompok ini merupakan pihak pemberi perempuan dalam hubungan perkawinan dan dipandang sebagai sumber berkat serta kehormatan.
Sikap hormat kepada hula-hula diwujudkan melalui tutur kata yang sopan, pemberian penghargaan dalam upacara adat, serta kepatuhan terhadap nasihat yang disampaikan. Penghormatan ini mencerminkan nilai kesantunan dan pengakuan atas peran penting hula-hula dalam kesinambungan garis keturunan.
Dongan tubu adalah kelompok yang memiliki satu marga atau satu garis keturunan. Hubungan antar dongan tubu dibangun atas dasar kesetaraan, kebersamaan, dan solidaritas.
Dalam konteks adat, mereka berperan sebagai mitra diskusi dan penopang utama dalam berbagai kegiatan sosial maupun ritual adat. Prinsip saling menghargai dan menjaga persatuan menjadi kunci utama dalam relasi dongan tubu agar tidak terjadi konflik internal yang dapat merusak tatanan sosial.
Sementara itu, boru merupakan pihak penerima perempuan dalam perkawinan. Kelompok ini memiliki tanggung jawab besar dalam pelaksanaan teknis berbagai upacara adat. Boru dituntut untuk bersikap sigap, patuh, dan bekerja sama demi kelancaran acara.
Walaupun secara struktural berada pada posisi melayani, boru tetap dihargai karena perannya yang menentukan keberhasilan sebuah kegiatan adat. Hubungan timbal balik antara boru dan kelompok lainnya memperlihatkan nilai keadilan dan keseimbangan dalam Dalihan Na Tolu.
Dalihan Na Tolu tidak hanya berlaku dalam upacara adat, tetapi juga meresap dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak. Nilai-nilai seperti saling menghormati, gotong royong, musyawarah, dan tanggung jawab sosial tercermin dalam interaksi antarindividu.
Sistem ini berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk mencegah konflik, menyelesaikan perselisihan, serta memperkuat identitas kolektif masyarakat Batak di tengah perubahan zaman.
Di era modern, Dalihan Na Tolu tetap relevan sebagai sumber kearifan lokal. Meskipun masyarakat Batak kini hidup di lingkungan yang semakin heterogen, prinsip-prinsip dasar Dalihan Na Tolu masih dijadikan rujukan dalam menjaga etika sosial dan keharmonisan hubungan.





