INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut pengumunan groundbreaking enam proyek hilirisasi di Februari 2026 sebagai sinyal positif awal bagi pasar dan investor asing.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengungkapkan, hilirisasi masih dipersepsikan sebagai agenda struktural yang relevan karena menyentuh penciptaan nilai tambah, basis ekspor, dan penguatan industri domestik.
“Rencana groundbreaking dalam waktu dekat juga memberi pesan bahwa pemerintah ingin menunjukkan progres nyata, bukan sekadar janji kebijakan, dan ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar,” kata Rizal kepada Media Indonesia, Jumat (16/1).
Baca juga : Investasi Hilirisasi Tembus Rp 618 Triliun, Enam Proyek Segera Groundbreaking
Namun, katanya, bagi investor terutama asing, headline besar tidak otomatis cukup. Pasar akan menilai lebih dalam, apakah proyeknya bankable, bagaimana skema pembiayaannya, siapa pembeli akhirnya, serta seberapa konsisten aturan mainnya.
Jika proyek-proyek ini hanya kuat di narasi tetapi lemah di eksekusi dan tata kelola, menurut Rizal, dampaknya ke pasar modal cenderung sementara.
“Sebaliknya, bila benar-benar solid secara ekonomi, terhubung ke rantai pasok global, dan tidak menambah risiko fiskal tersembunyi, maka inisiatif ini bisa menjadi faktor penguat kepercayaan investor secara lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Baca juga : Pengusaha Tahan Ekspansi, Laju Investasi Asing Melambat di 2025
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Roeslani menyebut sejumlah proyek hilirisasi akan groundbreaking pada Februari 2026. Beberapa proyek strategis itu antara lain proyek bauksit, alumunium, bioavtur, refinery (kilang), hingga proyek budi daya unggas.
Dalam peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, baru-baru ini, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan arahan untuk melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi pada Februari 2026. Total nilai investasi mencapai US$6 miliar.
Prabowo menyebut proyek hilirisasi menjadi bagian dari strategi nasional untuk mempercepat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia.
"Dalam waktu berapa minggu ini, kita akan mulai. Kita harapkan minimal enam proyek hilirisasi, mungkin bisa sampai 11 (proyek). Nilainya adalah kurang lebih 6 miliar dolar (AS)," ujar Prabowo.
Ia menjelaskan bahwa proyek hilirisasi akan dibarengi dengan masuknya investasi besar-besaran dari luar negeri, sehingga pemerintah menaruh perhatian besar pada kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola proyek. (E-4)



