FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat dilaporkan meminta Indonesia membeli drone pengawasan maritim buatan AS. Permintaan ini disebut sebagai salah satu syarat penurunan tarif impor oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Informasi tersebut diungkap media The Strait Times pada 14 Januari 2026. Media tersebut mengutip dokumen internal Pemerintah Amerika Serikat yang memuat daftar tuntutan kepada Indonesia.
Kebijakan ini menjadi sorotan karena berkaitan langsung dengan keputusan AS menurunkan tarif impor dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen. Penurunan tarif itu disebut tidak diberikan secara cuma-cuma.
Indonesia diwajibkan memenuhi sejumlah komitmen dagang sebagai imbal balik. Salah satunya adalah pembelian drone pengawasan maritim buatan Amerika Serikat.
Sebagai negara adidaya, AS dinilai memiliki posisi tawar kuat dalam hubungan internasional. Indonesia pun memiliki kepentingan ekonomi besar terhadap AS sebagai salah satu mitra dagang utama.
Selain pembelian drone, AS juga meminta Indonesia membeli minyak mentah senilai 15 miliar dolar AS. Tidak hanya itu, Indonesia juga diwajibkan mengimpor gandum dan kedelai dari AS senilai 4,5 miliar dolar AS.
Tuntutan lainnya adalah pembelian 50 unit pesawat Boeing. Namun pembelian tersebut lebih diarahkan untuk pesawat jet komersial guna memperkuat armada maskapai Garuda Indonesia.
Permintaan penggunaan drone maritim di perairan dekat Laut China Selatan dinilai memiliki makna strategis. AS disebut ingin Indonesia memiliki sistem pengawasan laut yang terintegrasi dengan teknologi Barat.
Wilayah tersebut diketahui berbatasan langsung dengan klaim sembilan garis putus-putus China. Hal ini menjadikan kawasan itu rawan konflik dan aktivitas kapal asing.
Meski dokumen hanya menyebut istilah “drone maritim”, spekulasi mengarah pada jenis drone seperti ScanEagle atau MQ-9B SeaGuardian. Drone tersebut memiliki jangkauan luas untuk memantau pergerakan kapal di ZEE Indonesia.
Sebelumnya, pada 2020, AS pernah menghibahkan 14 unit drone ScanEagle kepada Indonesia. Drone senilai 28,3 juta dolar AS itu digunakan oleh TNI Angkatan Laut.
Sementara itu, Indonesia juga telah menerima drone ANKA dari Turki. Drone tersebut bahkan sudah terlihat dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara.
Selain itu, Indonesia dikabarkan berminat membeli drone Shahpar dari Pakistan. Drone ini akan melengkapi armada CH-4 Rainbow dari China dan Anka-S dari Turkiye.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini juga gencar membeli alutsista dari berbagai negara. Di antaranya 42 jet tempur Rafale dari Prancis yang rencananya akan ditambah 18 unit lagi.
Indonesia juga tengah menjajaki pembelian jet tempur dari Turkiye, China, Pakistan, hingga Korea Selatan. Namun pembelian 24 jet tempur F-15EX dari AS hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti.
Di tengah masifnya belanja pertahanan dari berbagai negara non-AS, tuntutan Washington dinilai sebagai sinyal kuat. Amerika Serikat disebut mulai “menyentil” Indonesia agar kembali membuka peluang kerja sama militer.
(Arya/Fajar)





