Ambon (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar melakukan napak tilas sejarah perjuangan bangsa dengan menyambangi sejumlah situs bersejarah peninggalan tokoh nasional di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku.
“Dalam napak tilas ini saya mengunjungi lima situs bersejarah, yakni rumah pengasingan Bung Hatta, rumah budaya Banda Neira, rumah pengasingan Sutan Syahrir, Perigi Rante, dan Istana Mini Banda Neira,” kata dia di Banda Neira, Jumat.
Saat melakukan kunjungan ke rumah pengasingan Bung Hatta, Menag menuturkan bangunan tersebut menjadi saksi bisu masa pembuangan Wakil Presiden pertama RI oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pasalnya, di tempat itulah Bung Hatta menjalani pengasingan pada 1936-1942, periode yang justru menguatkan gagasan tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.
“Di rumah sederhana ini kita belajar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya ditempa di medan pertempuran, tetapi juga melalui perenungan, keteguhan iman, dan komitmen moral,” ujar dia.
Menag menilai Bung Hatta sebagai sosok pemimpin yang menjunjung tinggi nilai etika, kejujuran, dan integritas, yang sejalan dengan ajaran agama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang berkeadaban.
Baca juga: Isra Mikraj, Menag ajak umat peduli alam dan sosial lewat nilai Shalat
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah budaya Banda Neira yang menyimpan berbagai artefak seni dan tradisi lokal, seperti alat musik tradisional, kain tenun, serta dokumentasi sejarah masyarakat Banda. Menag menyebut rumah budaya sebagai ruang pewarisan nilai dan identitas bagi generasi muda.
“Budaya adalah bagian dari cara beragama dan berbangsa. Di sinilah generasi muda belajar mengenali jati diri dan akar sejarahnya,” katanya.
Dari rumah budaya, Menag mengunjungi rumah pengasingan Sutan Syahrir. Di tempat itu, tokoh pergerakan nasional tersebut dikenal banyak membaca dan menulis, melahirkan gagasan-gagasan kritis tentang demokrasi dan kemerdekaan.
Kunjungan berlanjut ke Perigi Rante, sumur tua yang dahulu menjadi sumber air utama sekaligus ruang perjumpaan sosial warga. Menag melihat Perigi Rante sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan yang telah mengakar lama dalam kehidupan masyarakat Banda Neira.
Baca juga: Kemenag: Pendidikan agama Islam jadi fondasi karakter bangsa
Napak tilas sejarah diakhiri di Istana Mini Banda Neira yang menyimpan beragam artefak dan foto-foto lama tentang perjalanan sejarah Banda, termasuk perjumpaan berbagai suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan sejak masa lampau.
Di lokasi tersebut, Menag berdialog langsung dengan warga setempat dan mengajak masyarakat untuk menjaga serta merawat warisan sejarah bangsa.
Menag menegaskan Banda Neira merupakan contoh nyata bagaimana nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan tumbuh secara harmonis. Keberagaman yang terjaga sejak dahulu, menurutnya, menjadi fondasi kuat bagi persatuan bangsa hingga hari ini.
Baca juga: Menag: Kurikulum berbasis cinta landasan pendidikan Islam masa depan
Baca juga: Menag: Perayaan Natal momentum perkuat solidaritas nasional
“Dalam napak tilas ini saya mengunjungi lima situs bersejarah, yakni rumah pengasingan Bung Hatta, rumah budaya Banda Neira, rumah pengasingan Sutan Syahrir, Perigi Rante, dan Istana Mini Banda Neira,” kata dia di Banda Neira, Jumat.
Saat melakukan kunjungan ke rumah pengasingan Bung Hatta, Menag menuturkan bangunan tersebut menjadi saksi bisu masa pembuangan Wakil Presiden pertama RI oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pasalnya, di tempat itulah Bung Hatta menjalani pengasingan pada 1936-1942, periode yang justru menguatkan gagasan tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.
“Di rumah sederhana ini kita belajar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya ditempa di medan pertempuran, tetapi juga melalui perenungan, keteguhan iman, dan komitmen moral,” ujar dia.
Menag menilai Bung Hatta sebagai sosok pemimpin yang menjunjung tinggi nilai etika, kejujuran, dan integritas, yang sejalan dengan ajaran agama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang berkeadaban.
Baca juga: Isra Mikraj, Menag ajak umat peduli alam dan sosial lewat nilai Shalat
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah budaya Banda Neira yang menyimpan berbagai artefak seni dan tradisi lokal, seperti alat musik tradisional, kain tenun, serta dokumentasi sejarah masyarakat Banda. Menag menyebut rumah budaya sebagai ruang pewarisan nilai dan identitas bagi generasi muda.
“Budaya adalah bagian dari cara beragama dan berbangsa. Di sinilah generasi muda belajar mengenali jati diri dan akar sejarahnya,” katanya.
Dari rumah budaya, Menag mengunjungi rumah pengasingan Sutan Syahrir. Di tempat itu, tokoh pergerakan nasional tersebut dikenal banyak membaca dan menulis, melahirkan gagasan-gagasan kritis tentang demokrasi dan kemerdekaan.
Kunjungan berlanjut ke Perigi Rante, sumur tua yang dahulu menjadi sumber air utama sekaligus ruang perjumpaan sosial warga. Menag melihat Perigi Rante sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan yang telah mengakar lama dalam kehidupan masyarakat Banda Neira.
Baca juga: Kemenag: Pendidikan agama Islam jadi fondasi karakter bangsa
Napak tilas sejarah diakhiri di Istana Mini Banda Neira yang menyimpan beragam artefak dan foto-foto lama tentang perjalanan sejarah Banda, termasuk perjumpaan berbagai suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan sejak masa lampau.
Di lokasi tersebut, Menag berdialog langsung dengan warga setempat dan mengajak masyarakat untuk menjaga serta merawat warisan sejarah bangsa.
Menag menegaskan Banda Neira merupakan contoh nyata bagaimana nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan tumbuh secara harmonis. Keberagaman yang terjaga sejak dahulu, menurutnya, menjadi fondasi kuat bagi persatuan bangsa hingga hari ini.
Baca juga: Menag: Kurikulum berbasis cinta landasan pendidikan Islam masa depan
Baca juga: Menag: Perayaan Natal momentum perkuat solidaritas nasional



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474995/original/022131700_1768546891-PHOTO-2026-01-16-12-38-48.jpg)

