Pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado mengunjungi Gedung Putih dalam agenda makan siang tertutup dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kepada wartawan, Machado mengatakan bahwa dia telah "menyerahkan" medali Hadiah Nobel Perdamaian miliknya kepada Trump "sebagai pengakuan atas komitmen khusus terhadap kebebasan kami."
Dalam pernyataan singkat, dia menambahkan bahwa pertemuan yang berlangsung pada Kamis (15/01) itu berjalan baik dan para pendukungnya dapat "mengandalkan" presiden AS.
Kantor berita Reuters dan CNN melaporkan bahwa seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi kalau Donald Trump berniat menyimpan medali tersebut.
Trump secara terbuka menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian dan menanggapi penobatan Machado sebagai peraih Nobel pada Desember 2025 dengan nada meremehkan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Machado berhati-hati untuk tidak menyinggung Trump dan bahkan sebelumnya menawarkan untuk berbagi hadiah perdamaiannya dengan Trump. Padahal hal tersebut tidak diperbolehkan menurut Institut Nobel.
Setelah pertemuan tersebut, Trump menyebut Machado sebagai "perempuan luar biasa".
"Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk bertemu Mara Corina Machado, dari Venezuela, hari ini. Dia adalah perempuan luar biasa yang telah melalui begitu banyak hal. Mara menyerahkan kepada saya Hadiah Nobel Perdamaian miliknya atas pekerjaan yang telah saya lakukan. Sebuah sikap saling menghormati yang sangat indah," tulis Trump di platform Truth Social miliknya. "Terima kasih, Mara!"
Penggulingan Presiden Nicolas Maduro setelah serangan AS di Caracas pada 3 Januari 2026 sempat memunculkan harapan di kalangan oposisi pro-demokrasi Venezuela pimpinan Machado, yang menyerukan "berakhirnya tirani" di Venezuela.
Namun, Trump dengan cepat menyingkirkan Machado setelah AS menculik Maduro. Trump mengatakan bahwa Machado tidak "punya dukungan dan tidak dihormati di dalam negeri" untuk memimpin.
Pihak oposisi Venezuela menyatakan bahwa Maduro mencuri suara partai Machado pada pemilu 2024. Klaim tersebut juga didukung oleh Washington.
Pada Kamis (15/01), Gedung Putih mengatakan bahwa Trump tidak mengubah pandangannya terhadap Machado.
Pemimpin oposisi itu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2025 atas advokasinya untuk demokrasi di Venezuela di tengah ancaman dari Maduro.
Putri Machado, Ana Corina Sosa, menerima hadiah tersebut atas nama ibunya dalam sebuah upacara di Oslo pada Desember 2025.
Pertemuan dengan Trump ini merupakan sebuah penampilan publik yang jarang bagi Machado. Keberadaannya sebagian besar tidak diketahui sejak dia meninggalkan Venezuela tahun 2025 setelah sempat ditahan singkat di Caracas.
Delcy Rodriguez serukan "diplomasi"Meski menyebut Machado sebagai "pejuang kebebasan" dan "perempuan yang sangat baik," Trump dan para penasihatnya terlihat jelas lebih memilih wakil Maduro, Delcy Rodriguez, bersama tokoh-tokoh lain dari lingkaran dalam pemimpin yang digulingkan, untuk memimpin operasional pemerintahan di Venezuela saat ini.
Pada Rabu (14/05), Trump berbicara melalui telepon dengan Rodriguez untuk pertama kalinya. Trump menyebut Rodriguez sebagai "orang hebat" dan memuji ada "kemajuan luar biasa" sejak Maduro digulingkan.
"Banyak topik yang dibahas," ungkap Trump di media sosial, "termasuk soal minyak, mineral, perdagangan, dan tentu saja keamanan nasional."
Rodriguez mengatakan panggilan tersebut "produktif dan sopan," serta ditandai oleh "saling menghormati."
Dalam pidato nasional pada Kamis (15/06), Rodriguez mengkritik langkah-langkah pemerintahan Trump, sekaligus menyerukan kerja sama yang lebih erat dengan Washington. Hal tersebut menandai sebuah perubahan nada yang tajam dibandingkan para pendahulunya.
"Jangan takut terhadap diplomasi" dengan AS, kata Rodriguez. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Venezuela mulai membebaskan ratusan tahanan politik yang ditahan selama pemerintahan Maduro.
Venezuela incar investasi minyak ASSejak Rodriguez mengambil alih, Trump mengatakan AS berencana mengendalikan sumber daya minyak Venezuela tanpa batas waktu, dan memperkenalkan rencana senilai 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1,5 kuadriliun) untuk mengembangkan industri minyak negara tersebut. Bagian dari rencana itu juga mencakup pengendalian minyak ilegal yang keluar dari Venezuela melalui pencegatan di laut.
Kapal-kapal tanker minyak yang dicegat sejauh ini berada di bawah sanksi Amerika Serikat atau merupakan bagian dari "armada bayangan", yakni kapal-kapal yang menyamarkan asal-usulnya untuk memindahkan minyak dari produsen besar yang dikenai sanksi, seperti Venezuela.
"Satu-satunya minyak yang akan keluar dari Venezuela adalah yang dikoordinasikan secara tepat dan sah," tegas Komando Selatan AS dalam pernyataan pada Kamis (15/01).
Pada hari yang sama, Rodriguez mengatakan dia telah mengajukan reformasi undang-undang hidrokarbon Venezuela untuk menarik lebih banyak investasi.
Rodriguez menambahkan bahwa reformasi tersebut akan "memungkinkan aliran investasi ini dimasukkan ke sektor baru, sektor yang belum pernah menerima investasi, dan ke sektor yang tidak memiliki infrastruktur."
Dana yang diperoleh dari penjualan minyak, kata Rodriguez, akan dialokasikan untuk proyek kesehatan publik dan perbaikan infrastruktur.
Pekan lalu, Trump memaparkan rencananya dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak, yang sebagian di antaranya skeptis terhadap pengembangan minyak Venezuela.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, bahkan mengatakan bahwa Venezuela saat ini "tidak layak diinvestasikan" tanpa perubahan besar pada kerangka hukum dan komersial.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Muhammad Hanafi
width="1" height="1" />
(ita/ita)




