Jakarta, CNBC Indonesia - Beroperasinya Johor Bahru-Singapura Rapid Transit System (RTS) pada akhir tahun ini diperkirakan akan membawa perubahan besar pada pola mobilitas lintas negara.
Melansir Channelnewsasia, sejumlah pakar transport memperkirakan kehadiran RTS akan memangkas lalu lintas di pos pemeriksaan Woodlands dan Tuas hingga 25%.
Kendati menjadi kabar baik bagi banyak kalangan masyarakat, bagi pengusaha transportasi lintas batas ini mengkhawatirkan.
Salah satunya Pendiri Singapore Cab Booking Farid Khan yang menjalankan bisnis angkutan penumpang lintas Singapura Johor menggunakan sedan, maxi cab, hingga minibus.
Farid menjelaskan diirnya akan mengurangi biaya perjalanan untuk menjaga usahanya untuk tetap berjalan.
"Ada dampak besar pada bisnis saya karena adanya RTS ini - tetapi saya memiliki langkah pengurangan biaya. Jadi kami akan menurunkan harga untuk JB, dan pada saat yang sama kami akan meningkatkan layanan antar-jemput dari rumah mereka masing-masing," ujar Farid dikutip Jumat (16/1/2026).
Khan sedang mempertimbangkan untuk menurunkan harga sebesar 20 hingga 30% ketika saatnya tiba. Misalnya, perjalanan dengan mobil tujuh tempat duduk sekarang berharga sekitar S$180 hingga S$200 atau sekitar Rp 2.652.800 (Asumsi kurs Rp13.129/S$), yang bisa turun menjadi sekitar S$150 atau sekitar Rp 1.969.350.
Konsultan transportasi Kelvin Foo, direktur pelaksana TTS Group, memperkirakan bahwa hingga 25 persen pergerakan penumpang dapat beralih ke RTS Link.
Di Singapura, jalur ini akan terhubung langsung ke stasiun MRT Woodlands North di Jalur Thomson-East Coast.
Para penumpang kemudian akan turun di stasiun Bukit Chagar di Johor, dengan waktu tempuh sekitar lima menit antara kedua stasiun.
Menurut Otoritas Transportasi Darat, RTS Link akan memiliki kapasitas untuk melayani hingga 10.000 penumpang setiap jam di setiap arah selama jam sibuk.
"Akan ada pergeseran lalu lintas saat ini, yang sekitar 200.000 hingga 400.000 (penumpang setiap hari) untuk Second Link dan Causeway, ke sisi RTS," kata Foo.
Namun, ia mencatat bahwa berkurangnya kemacetan juga dapat mendorong pengguna baru untuk berkendara melintasi perbatasan.
"Mungkin jalanan akan menjadi lebih mulus, dan oleh karena itu akan ada peningkatan permintaan untuk menggunakan mobil sebagai moda transportasi lain. Jadi ini adalah penyeimbangan secara keseluruhan, semacam elemen-elemen kecil untuk menyeimbangkan kedua sisi," tambahnya.
Meskipun demikian, Foo mengatakan efek keseluruhannya tetap akan mengurangi kemacetan di Causeway dan Second Link, dengan waktu perjalanan yang lebih mudah diprediksi sebagai manfaat utama.
"Kita juga akan mengetahui secara kasar berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melewati bea cukai. Ini akan bagus untuk kita perkirakan. Tetapi satu hal yang pasti, waktu perjalanan akan berkurang."
(mij/mij)


