Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat ekspor perdana durian beku asal Indonesia berhasil menembus pasar China dengan nilai mencapai US$123,84 ribu atau setara Rp2,08 miliar.
Adapun, sebanyak 23 ton durian beku produksi PT Amerta Nadi Agro Cemerlang dari Sulawesi Tengah itu tiba di Pelabuhan Qinzhou, China, pada Selasa (6/1/2026).
Atase Perdagangan RI Beijing Budi Hansyah menyebut bahwa keberhasilan ekspor durian beku ini menjadi bukti diterimanya standar kualitas hortikultura Indonesia di pasar global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok produk hortikultura berkualitas tinggi di pasar internasional.
“Ekspor langsung ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar global. Durian beku yang dikirimkan telah memenuhi berbagai standar yang ditetapkan otoritas China mulai dari keamanan pangan, kesehatan tumbuhan, hingga persyaratan mutu produk,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (16/1/2026).
Budi menambahkan, masuknya durian beku Indonesia ke pasar Negeri Tirai Bambu itu telah memperoleh persetujuan Badan Karantina Indonesia (Barantin) serta diproses sesuai ketentuan kepabeanan dan melalui pengawasan karantina yang berlaku di China.
“Hal ini menegaskan kepercayaan otoritas China terhadap sistem karantina serta jaminan mutu produk pertanian Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga
- Raja Juli Tanam Bibit Trembesi hingga Durian di TN Tesso Nilo
- Menko Pangan Zulhas Tegaskan Durian Buah Asli Indonesia, Bantah Klaim Malaysia
- Buah Durian Mau 'Dibajak' Malaysia, Zulhas Bilang Begini
Durian beku asal Indonesia tersebut selanjutnya akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti durian potong bercangkang, daging durian beku, durian kering, durian kering beku, hingga pasta durian untuk didistribusikan ke berbagai wilayah di China.
Lebih lanjut, Budi menyebut Kemendag terus mendorong pelaku usaha nasional mengembangkan produk olahan bernilai tambah, seiring tingginya minat pasar China terhadap varian seperti durian kering dan pasta durian untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Di samping itu, sambung dia, Kemendag juga akan terus memfasilitasi promosi dan penguatan jejaring bisnis agar semakin banyak produk unggulan Indonesia mampu bersaing di pasar China.
Budi menyatakan Kemendag terbuka untuk berdiskusi, berbagi informasi, serta menghubungkan pelaku usaha, sekaligus mengundang mitra China untuk bekerja sama dengan Indonesia untuk membangun hubungan yang kuat dan meningkatkan nilai perdagangan kedua negara.
Menurut Budi, kehadiran durian beku Indonesia di pasar China juga mendukung pengembangan Pusat Perdagangan Buah China—Asean yang berlokasi di Qinzhou. Pelabuhan ini merupakan simpul logistik utama Asia Tenggara yang didukung layanan kepabeanan cepat serta fasilitas pemeriksaan dan pengujian terintegrasi.
Menurutnya, dukungan infrastruktur Pelabuhan Qinzhou, kawasan berikat, serta jaringan logistik laut dan kereta barang yang menjangkau wilayah pedalaman China mampu memperkuat daya saing produk hortikultura bernilai tambah Indonesia.
“Memperkuat ekspor melalui pelabuhan Qinzhou tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok produk hortikultura dari Asia Tenggara, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar ke berbagai wilayah strategis di China,” tuturnya.
Untuk diketahui, Pelabuhan Qinzhou merupakan gerbang internasional Koridor Baru Darat—Laut Barat yang pada 2025 mengoperasikan 44 rute pelayaran ke negara-negara Asean.
Pada 2026, seiring dibukanya proyek Terusan Pinglu, pelabuhan ini diproyeksikan menjadi jalur laut paling strategis bagi wilayah barat daya China dan berpotensi menurunkan biaya logistik produk pertanian dari Indonesia dan Asean hingga 30%.
Adapun pada Januari—November 2025, total perdagangan Indonesia—China tercatat mencapai US$138,34 miliar atau tumbuh 12,52% secara tahunan. Kemendag mencatat ekspor Indonesia ke China pada periode tersebut mencapai US$60,30 miliar, sementara total perdagangan kedua negara pada 2024 tercatat sebesar US$136,59 miliar.




