jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala kusta.
Hal ini demi menghapus stigma sekaligus mempercepat penanganan penyakit tersebut.
BACA JUGA: Yohei Sasakawa Minta Penderita Kusta Jangan Didiskriminasi
Imbauan tersebut disampaikan Menkes Budi dalam diskusi media bertajuk 'Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia' yang digelar The Habibie Center di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).
Tak bisa dipungkiri, kusta masih menjadi momok di masyarakat karena kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis.
BACA JUGA: Ribuan Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis Dexa Medica di Tangsel
Padahal, kusta adalah murni masalah medis yang bisa disembuhkan.
“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” kata Menkes Budi.
BACA JUGA: Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas, Langkah Awal Cegah Penyakit Jantung
Sebagai langkah konkret mengejar target eliminasi kusta pada tahun 2030, pemerintah menerapkan strategi baru.
Mulai tahun ini, skrining kusta akan diintegrasikan ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
“Kami tinggal ubah sedikit isinya, tadinya belum ada screening lepra. Sekarang kami masukin screening lepra mulai tahun ini,” ungkap Budi.
Tidak hanya itu, Kementerian Kesehatan berkomitmen mencari penderita secara agresif, termasuk penggunaan tes PCR di wilayah Indonesia Timur serta pemberian penghargaan bagi daerah dan puskesmas yang aktif menemukan kasus.
Data saat ini mencatat kisaran 13 ribu hingga 15 ribu kasus kusta, tetapi angka riil di lapangan diprediksi lebih tinggi.
Oleh karena itu, fokus penanganan meliputi pengobatan tuntas (6-12 bulan) serta pencegahan bagi orang-orang di sekitar pasien.
“Nomor tiga, semua kontak eratnya, sekeluarga, kita kasih profilaksis,” imbuh Menkes.
Upaya eliminasi kusta di Indonesia menghadapi tantangan berat, mulai dari lambatnya deteksi dini hingga kuatnya stigma sosial yang memukul kondisi penderita dan keluarganya.
Merespons hal tersebut, The Habibie Center memperkenalkan inisiatif pengembangan model intervensi berbasis bukti untuk mendukung deteksi dini dan pengurangan stigma terhadap kusta.
Program ini bekerja sama dengan Kemenkes, The Nippon Foundation, dan Sasakawa Health Foundation.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori menjelaskan pihaknya tengah melakukan riset di empat wilayah, yakni Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata.
Harapannya, model ini kelak dapat diadopsi menjadi kebijakan publik.
Menurut Hasan, pemberantasan kusta tidak cukup hanya dengan kebijakan medis, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan agama.
Dia menekankan pentingnya melihat kusta dari dua sisi agar penanganannya lebih komprehensif.
“Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya dua aspek, yaitu medis aspek dan sosial aspek,” kata Hasan. (mcr31/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Petrokimia Gresik Beri Pelatihan Kegawatdaruratan dan Cek Kesehatan Gratis untuk Nelayan
Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah



