Media, Perempuan, dan Warisan Patriarki

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, media sering dipandang sebagai ruang netral yang sekadar menyampaikan realitas. Namun, di balik narasi yang ditampilkan, media kerap membawa warisan nilai lama, termasuk patriarki, yang masih membentuk cara perempuan direpresentasikan. Perempuan sering kali muncul sebagai objek visual, korban, atau pelengkap cerita, sementara suara dan agensinya tersisih. Representasi semacam ini tidak hanya mencerminkan ketimpangan gender, tetapi juga berpotensi melanggengkan cara pandang masyarakat yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Dalam pemberitaan, perempuan kerap diberi label yang berbeda dibandingkan laki-laki. Ketika perempuan menjadi korban kejahatan, fokus media sering bergeser pada cara berpakaian, kehidupan pribadi, atau pilihan hidupnya. Alih-alih menyoroti pelaku dan struktur sosial yang memungkinkan kekerasan terjadi, perempuan justru kembali diposisikan sebagai pihak yang “patut dipertanyakan”. Pola ini menunjukkan bahwa logika patriarki masih bekerja dalam praktik jurnalistik, baik disadari maupun tidak.

Di ranah hiburan dan iklan, tubuh perempuan juga masih menjadi komoditas utama. Media kerap menampilkan standar kecantikan tertentu yang sempit seperti putih, langsing, muda, dan menarik secara visual. Perempuan diposisikan sebagai objek yang dinilai dari penampilan, bukan dari kapasitas, pemikiran, atau perannya sebagai subjek sosial. Representasi semacam ini menciptakan tekanan tersendiri, terutama bagi perempuan muda, untuk menyesuaikan diri dengan standar yang dibentuk media.

Media sosial yang sering dianggap sebagai ruang baru yang lebih demokratis pun tidak sepenuhnya bebas dari warisan patriarki. Meski memberi peluang bagi perempuan untuk bersuara dan membangun narasi sendiri, media sosial juga menjadi ruang baru bagi penghakiman, pelecehan, dan kontrol terhadap tubuh serta pilihan perempuan. Algoritma dan budaya viral sering kali justru memperkuat konten yang mereproduksi stereotip gender.

Situasi ini menunjukkan bahwa media bukan sekadar cermin realitas, melainkan aktor aktif dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Oleh karena itu, upaya menciptakan representasi yang lebih adil tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah perempuan di media, tetapi juga menuntut perubahan cara media membingkai cerita. Kesadaran gender dalam produksi media menjadi penting agar media tidak terus mewariskan nilai patriarki, melainkan berperan sebagai ruang yang lebih setara dan inklusif.

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Ketika media mulai memberi ruang pada suara perempuan sebagai subjek, bukan sekadar objek, maka warisan patriarki perlahan dapat dipertanyakan dan dilemahkan. Di sinilah peran media seharusnya berpihak bukan pada pelanggengan ketimpangan, melainkan pada keadilan dan kemanusiaan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pilkada Melalui DPRD tak Hapus Politik Uang
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pihak Penggugat Sebut Adly Fairuz Ingkar Janji soal Pengembalian Uang
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
BRI Super League: Kemungkinan Debut Alaeddine Ajaraie dan Fajar Fathur Rahman Bersama Persija di GBK Pekan Depan
• 3 jam lalubola.com
thumb
KKP: Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros adalah Pesawat Patroli
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Terlibat di Series Algojo, Arya Saloka Ketagihan Main Genre Action
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.