Ketua Umum Kadin Indonesia Nilai Program MBG Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

eranasional.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki dampak ekonomi yang sangat besar dan berpotensi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Program tersebut bahkan diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 3,5 persen.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengatakan MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga membuka peluang besar bagi dunia usaha di berbagai sektor, khususnya pangan, pertanian, dan logistik.

“Kalau kita bicara kepentingan bangsa, terutama anak-anak sebagai generasi masa depan, dampaknya sangat jelas. Dari target 82 juta penerima, saat ini sudah menjangkau sekitar 55 juta anak. Ini sangat berarti karena kita menginginkan lebih banyak insinyur, doktor, guru, hingga atlet di masa depan. Inilah fondasi awalnya,” ujar Anindya dalam diskusi Kadin bersama Gabungan Pengusaha Makanan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) di Menara Kadin Indonesia, Jakarta.

Anindya mengungkapkan, pemerintah menargetkan pembangunan 30 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia. Hingga saat ini, lebih dari 20 ribu dapur telah terbangun dan beroperasi.

Dalam pelaksanaannya, Kadin turut berkontribusi dengan membangun sekitar 1.000 dapur MBG yang didukung oleh partisipasi para anggota Kadin. Total nilai investasi yang digelontorkan diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun.

“Program MBG ini adalah pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Ujung dari ketahanan pangan adalah hilirisasi. Hilirisasi pertanian hanya masuk akal jika ada kepastian permintaan, dan MBG memberikan kepastian itu,” jelas Anindya.

Menurut Anindya, kebutuhan pangan yang muncul dari program MBG sangat masif dan nyata. Dengan jumlah penerima yang terus meningkat dari sekitar 52 juta menuju target 82 juta orang, kebutuhan bahan pangan pun melonjak signifikan.

“Bayangkan, jika satu hari saja dibutuhkan sekitar 52 juta butir telur, ditambah ayam, sayuran, ikan, dan komoditas lainnya. Ini menciptakan ekosistem ekonomi yang luar biasa besar,” katanya.

Ia menambahkan, setiap daerah memiliki potensi protein unggulan masing-masing. Oleh karena itu, program MBG mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal. Tidak sedikit daerah yang berlomba mendapatkan titik dapur MBG agar bisa terlibat langsung dalam rantai pasok.

Anindya juga menyoroti potensi penyerapan tenaga kerja dari program MBG. Saat ini, mayoritas dapur MBG masih dijalankan dengan pendanaan mandiri dan menyerap banyak tenaga kerja lokal.

“Jika satu dapur membutuhkan sekitar 50 tenaga kerja, dan dikalikan 30 ribu dapur, maka ada potensi penyerapan hingga 1,5 juta tenaga kerja. Dari sisi ekonomi makro, ini bisa menambah pertumbuhan PDB hingga 3,5 persen,” ujar Anindya.

Menurutnya, angka tersebut bukanlah kontribusi kecil dan dapat menjadi salah satu pendorong utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih jauh, Anindya menegaskan bahwa program MBG membuka peluang luas bagi anggota Kadin dan asosiasi usaha di daerah. Peluang tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari pasokan ayam, telur, tahu, tempe, sayuran, buah-buahan, hingga susu.

Selain sektor hilir, peluang juga terbuka di sektor hulu dan pendukung, seperti cold chain, logistik pangan, koperasi, serta pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Protein untuk memastikan ketersediaan bahan pangan.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan, yang hadir mewakili Kepala BGN Dadan Hindayana, menekankan bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan MBG adalah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

“Target paling menantang bagi BGN adalah mencegah inflasi dan kelangkaan bahan pangan. Kami berharap Kadin, khususnya pelaku usaha pertanian dan peternakan, bisa memperbesar kapasitas produksi,” ujar Tigor.

Ia menyebutkan, kebutuhan beras untuk mendukung program MBG saja bisa mencapai 3 juta ton per tahun, sehingga kolaborasi dengan dunia usaha menjadi kunci keberhasilan.

Ketua Umum GAPEMBI, Alven Stony, menilai diskusi mengenai MBG merupakan hal strategis yang saat ini menjadi perhatian nasional. Menurutnya, MBG adalah salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan.

“Program MBG ini menjadi hot topic di Indonesia. Kami mendukung penuh sebagai program prioritas Presiden Prabowo. Tentu dalam pelaksanaannya akan ada kritik, dan itu penting sebagai bagian dari penyempurnaan ke depan,” kata Alven.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jika Latih Real Madrid, Ini Susunan Pemain Impian Juergen Klopp untuk Musim 2026-27
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Dunia Menatap ”Artificial Superintelligence”
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Full Senyum! Penjelasan Resmi Taspen Soal Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiun PNS Februari 2026
• 6 jam lalufajar.co.id
thumb
Seskab Teddy Terima Ketua Kadin, Bahas Program MBG hingga Kunjungan Prabowo ke Inggris
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
KAI tutup 316 perlintasan sebidang demi tingkatkan keselamatan
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.