Las Vegas Buka Cabang di Negara Syariah

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jam enam pagi. Matahari Kuala Lumpur jelas belum sikat gigi. Tiba-tiba, Dok! Dok! Dok! Pintu kamar digedor saat betis saya masih pesta denyutan sisa tawaf (berkeliling) di Bukit Bintang.

Saya buka pintu dengan mata setengah terpejam. Di balik pintu, Helmi dan Rizal berdiri klimis, wangi, dan rapi. Tapi senyum itu... ah, senyum itu sungguh mencurigakan.

"Bangun, Fit! Kita naik gunung," kata Helmi semangat.

"Ke mana? Kinabalu? Ogah. Kakiku masih mogok," jawab saya sambil memeluk guling.

Rizal menyela, datar seperti biasa. "Bukan. Kita ke Puncak. Tapi Puncak yang ini isinya bukan kebun teh atau vila esek-esek. Ini Puncak tempat orang buang duit secara legal".

TKP berikutnya. Genting Highlands.

Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu jam. Jalannya mulus mirip pantat bayi. Menanjak, membelah hutan hujan tropis yang lebat. Mirip jalur ke Puncak, Bogor, tapi minus macet dan tukang jagung bakar.

Sampai di stasiun Awana SkyWay, kami naik kereta gantung (cable car). Tinggi sekali. Kabut tebal menyelimuti kaca. Di bawah, hutan belantara terlihat samar-samar.

"Di Indonesia, kalau ada gunung dingin begini, isinya pasti warung Indomie dan Vila Angker," celetuk saya.

"Di sini beda," sahut Rizal. "Di atas sana, setan dan malaikat duduk satu meja".

Begitu sampai di puncak, rahang saya jatuh. Bengong.

Jangan sebut ini gunung. Ini lebih mirip kota metropolitan yang salah alamat, nyasar ke tengah awan. Mal raksasa, theme park indoor, dan hotel berkapasitas ribuan kamar berdiri angkuh. Dan yang paling mencolok di antara semuanya: Kasino. Tunggu, jangan salah sangka. Ini bukan Kasino sahabat Dono dan Indro dari Warkop DKI. Bukan. Ini murni rumah judi.

Ya, Kasino. Tempat judi. Legal. Terbuka. Terang benderang.

Satu-satunya hal yang tidak dimiliki Indonesia, tapi justru ada di Malaysia. Negara yang katanya Syariah. Dan ini memicu korsleting di otak saya. Tiba di depan pintu masuk 'Casino de Genting' saya berhenti. Penjagaannya ketat. Orang-orang antre masuk.

"Tunggu," kata saya menahan lengan Helmi. "Ini serius? Malaysia kan negara Islam? Konstitusinya bilang Islam agama resmi. Polisi moralnya galak. Kok ada kasino segede gaban begini?"

Di Indonesia, negara yang asasnya Pancasila (bukan negara agama), judi itu haram mutlak. Pasal 303 KUHP siap penjarakan siapa saja yang main gaple pakai uang receh, apalagi slot. Polisi kita sibuk gerebek markas Judol (Judi Online).

Lha ini? Di negara tetangga yang hukum syariahnya kuat, malah ada markas judi offline terbesar di Asia Tenggara?

Rizal tertawa kecil. Tawa yang penuh sarkasme. "Kau lihat penjaga pintu itu?" tunjuk Rizal.

Saya melihat sekuriti berbadan tegap memeriksa identitas pengunjung.

"Di pintu itu, hukum Tuhan dan hukum Negara bernegosiasi," kata Rizal puitis tapi sinis. Rizal menjelaskan mekanismenya. Sederhana, tapi brutal secara logika.

Warga negara Malaysia yang beragama Islam? Dilarang masuk. Haram. KTP mereka (MyKad) ada keterangan agamanya. Kalau Islam, pintu tertutup. Balik kanan, main bom-bom car saja di taman hiburan.

Tapi bagi warga Malaysia non-Muslim (Chinese, India)? Silakan Masuk. Bagi turis asing (seperti saya)? Karpet merah. Paspor adalah kunci surga dunia ini.

"Itulah bedanya kami sama kalian," sambung Rizal. "Kalian di Indonesia itu idealis. Hukum dipukul rata. Semua dilarang judi. Hasilnya? Judi tetap ada, tapi sembunyi-sembunyi, lewat HP, servernya di Kamboja, pajaknya nol. Duitnya lari ke luar negeri".

"Kami di Malaysia?" Rizal mengangkat bahu. "Kami pragmatis. Kami tahu judi itu penyakit tua peradaban. Susah dimatikan. Jadi daripada duitnya lari entah ke mana, kami lokalisir. Kami taruh di atas gunung. Jauh dari pemukiman warga muslim".

"Yang mau dosa, silakan naik ke awan. Tapi pajaknya turun ke bumi, buat bangun jalan tol dan subsidi rakyat," tambahnya.

Saya terdiam. Logika ini menampar ulu hati.

Genting Highlands didirikan oleh mendiang Lim Goh Tong. Konon, ia melobi Perdana Menteri pertama Malaysia, Tunku Abdul Rahman, di tahun 60-an. Idenya gila, menyulap hutan belantara jadi resor judi. Izin diberikan dengan syarat ketat. Muslim dilarang main.

Jadi, Malaysia menerapkan standar ganda yang dilegalkan. Satu negara, dua sistem. Bagi umat Islam, hukum moral ditegakkan. Bagi non-muslim dan turis, keran ekonomi dibuka lebar-lebar.

"Tapi Zal," tanya saya penasaran. "Apa ulama di sini nggak demo?"

"Bising sikit-sikit biasalah," jawab Rizal. "Tapi selama kasino ini tertutup tembok tebal, tidak kelihatan dari jalan, dan orang Melayu dilarang masuk, ya aman. Mata tak melihat, hati tak sakit".

Kami berjalan berkeliling tanpa masuk ke area meja judi karena Helmi dan Rizal haram masuk, dan saya... yah, dompet saya haram kalau sampai kosong.

Saya melihat bus-bus pariwisata menurunkan ribuan turis. Banyak dari Tiongkok, Singapura, dan ironisnya, Indonesia.

"Banyak orang Indonesia main di dalam," bisik Helmi. "Orang kaya Jakarta, Surabaya, Medan. Mereka lari ke sini karena di rumah sendiri takut ditangkap polisi".

Saya tersenyum kecut.

Benar juga. Indonesia sibuk memberantas judi online dengan memblokir situs yang besoknya muncul lagi dengan nama baru. Sementara Malaysia membangun gedung megah untuk menampung hasrat purba manusia itu, lalu memungut pajaknya untuk membangun negara.

Di Indonesia, judi adalah kriminalitas murni. Di Malaysia, judi adalah komoditas pariwisata yang disegmentasi.

"Jadi, kami ini munafik atau cerdas?" tanya Rizal tiba-tiba, membuyarkan lamunan saya.

"Entahlah," jawab saya. "Mungkin cerdas. Atau mungkin munafik yang terorganisir".

Rizal terbahak. "Istilah bagus. Munafik Terorganisir. Boleh aku pakai buat judul skripsi, tak?"

Siang itu, di tengah kabut dingin Genting Highlands, saya belajar satu hal lagi tentang tetangga kita. Mereka tidak terjebak pada simbol. Mereka bermain di ranah fungsi.

Mereka bisa menjadi negara yang sangat Islam di Kelantan atau Terengganu, tapi bisa menjadi sangat Las Vegas di Genting. Sementara kita? Kita sibuk berdebat di medsos soal halal-haram mengucapkan selamat hari raya, tapi triliunan rupiah ludes dimakan situs judi online antah-berantah.

"Ayo turun," ajak Helmi. "Aku lapar. Kita cari Nasi Kandar. Itu satu-satunya judi yang halal".

"Kenapa judi?" tanya saya.

"Iyalah. Judi harga. Kita ambil lauk yang sama, porsi sama, hari ini bisa sepuluh ringgit, besok bisa dua puluh. Tergantung mood si Mamak pas lagi kira (menghitung)," selorohnya.

Kami pun turun kembali ke bumi. Meninggalkan kasino yang terus berdenyut di atas awan, menyedot uang dari saku-saku manusia yang berharap kaya mendadak, demi menyumbang devisa bagi negara yang melarang warganya sendiri untuk masuk ke sana. Sebuah paradoks yang menguntungkan.

Sampai jumpa di cerita berikutnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mulai Lepas Beberapa Pemain, jadi Sinyal Kuat Perombakan di Tim PSM Makassar
• 23 jam lalufajar.co.id
thumb
Fakta di Balik Film The Mummy 4, Kembalinya Kutukan Teror Setelah Hilang 2 Dekade
• 19 jam lalumerahputih.com
thumb
Greenland Jadi Lokasi Latihan Militer NATO, AS Turut Diundang
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Komisi VII DPR Tekankan Partisipasi Publik dalam Pembahasan RUU Kawasan Industri
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Dro Fernandez Putuskan Hengkang dari Barcelona Jelang Penutupan Bursa Transfer Januari 2026
• 8 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.