Waktu masih pagi. Di sebuah rumah berhalaman luas di Desa Barengkok, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 27 November 2025, beberapa anak muda tampak sibuk menyiapkan peralatan memanggang atau menyangrai kopi. Sebuah kompor satu tungku dinyalakan untuk memanasi wajan berbahan gerabah yang digunakan untuk memanggang atau menyangrai kopi.
Setelah dirasa cukup, biji kopi mentah jenis robusta dimasukkan ke dalam wajan gerabah. Pemanggangan kopi pun dimulai. Pemanggangan berlangsung 25 hingga 35 menit tergantung jenis biji kopinya. Wangi kopi yang khas tercium kuat.
Namun, ada yang menarik. Alat sangrai kopi itu tidak seperti alat sangrai pada umumnya yang terbuat dari logam. Alat sangrai buatan M Arifin (51), petani sekaligus pemilik Patani Coffee itu, berbahan gerabah. Dua wajan gerabah dipasang berhadapan ke atas dan ke bawah memberikan ruang panas untuk mematangkan bagi biji kopi.
Kedua gerabah dipasangkan ke dalam sebuah kerangka besi yang dimodifikasi sedemikan rupa yang memungkinkan keduanya bisa tertutup rapat saat penyangraian berlangsung.
Sementara di porosnya dipasang sendok aduk yang berfungsi untuk membolak-balikkan biji kopi secara konsisten saat disangrai. Sendok aduk hasil modifikasi ini berputar menggunakan dinamo yang bisa disesuaikan kecepatannya.
Menurut M Arifin, ia membuat mesin sangrai berbahan gerabah sejak 2007. Pria yang pernah bekerja sebagai pengajar praktik di Institut Pertanian Bogor ini melakukan riset selama sepuluh tahun. Ia mengikuti tradisi nenek moyang yang menyangrai kopi menggunakan gerabah tanah liat. Penggunaan tanah liat sebagai media pemanggangan diyakini menciptakan panas lebih merata dibandingkan dengan media yang terbuat dari bahan lain.
Selain itu, penyerapan air dari biji kopi jauh lebih cepat. Gerabah juga diyakini mampu memisahkan zat radikal bebas yang ada di biji kopi. Pria asal Batang, Jawa Tengah, itu sejak awal melakukan pemrosesan kopi pascapanen secara natural sehingga penyangraian menggunakan alat ini mampu membuat cita rasa kopi lebih maksimal.
Selain itu, keresahan Arifin yang melihat dunia kopi jadi berbiaya mahal karena doktrinasi ”kopi enak” dengan standardisasi tertentu, mempercepat tekadnya untuk mewujudkan teknologi tepat guna berupa alat sangrai berbahan gerabah. Tujuannya sederhana, menaikkan nilai ekonomi petani kopi serta semua orang bisa menikmati kopi enak dan murah.
Ia sering diremehkan saat membuat alat sangrai buatannya yang dianggap tidak sesuai standar. Namun, ia tak pernah menggubrisnya. Pria bertubuh kurus itu tetap fokus dengan keyakinannya bahwa sejak zaman dahulu penyangraian kopi itu pakai gerabah.
Menariknya, alat sangrai dari gerabah ini bisa memunculkan rasa manis dari kopi robusta. Padahal, kopi robusta selama ini identik dengan rasa pahit saja.
Arifin menuturkan, untuk membuat satu alat sangrai gerabah berkapasitas 2 kilogram (kg), ia menghabiskan biaya Rp 4 juta. Ia juga membuat ukuran lain mulai 1 kg, 5 kg, dan 20 kilogram. Sebanyak 10 unit telah terjual ke beberapa daerah dan luar negeri seperti Mesir.
Di kedainya, Arifin membuka kesempatan bagi siapa pun untuk belajar teknik sangrai yang ia kembangkan. Bahkan, para peneliti kopi dari Jerman pernah datang untuk melihat dan mempelajari mesin sangrai ini pada 2019. Arifin membuka seluas-luasnya kedai dan kebunnya untuk ladang ilmu bagi yang ingin belajar.


