Sepi Geliat Bisnis Pasar Tekstil Cipadu

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pasar Cipadu di Tangerang, Banten, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tekstil, kini mengalami penurunan aktivitas yang cukup signifikan. Jika dahulu pasar ini menjadi tujuan utama warga Tangerang dan sekitarnya untuk membeli berbagai jenis kain, mulai dari bahan pakaian hingga sprei dan hordeng, kini suasananya terlihat sepi pengunjung.

Pantauan kumparan di Pusat Tekstil Cipadu pada Kamis (15/1) sekitar pukul 10.58 WIB menunjukkan kondisi pasar yang lengang. Para pedagang lebih banyak menghabiskan waktu dengan minum kopi, merokok, atau mengobrol dengan sesama pedagang dibandingkan menawarkan dagangan.

Salah satu pedagang, Aril, mengatakan kondisi sepi ini telah berlangsung sejak pandemi COVID-19 dan belum terlihat tanda-tanda pemulihan. Salah satu penyebabnya adalah penjualan daring, hanya saja penjualan daring terhambat dengan produk yang kerap kali dikembalikan pembeli. Karena itu, Aril memilih tetap mengandalkan penjualan langsung di toko.

Di lapaknya, Aril menjual harga tertinggi sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per meter dan termurah Rp 15.000 per meter.

“Sepi. Sepinya kayak (keadaan) online kak. Dari corona-lah ya,” ucap Aril kepada kumparan di lapak dagangannya.

Keluhan serupa juga dirasakan Mahendra, yang menyebut lemahnya kondisi pasar terus memaksanya mengurangi jumlah karyawan. “Sekarang mulai ini sendiri. Ini kan gaji karyawan juga susah. Gaji pake apaan kan,” tuturnya.

Mahendra menuturkan pasokan kain yang sebelumnya rutin datang dari pabrik-pabrik di Bandung, Solo, dan sejumlah wilayah di Jawa, kini semakin jarang dari satu hingga dua kali dalam sebulan, saat ini pasokan tersebut nyaris terhenti.

Kemudian ada Edison, pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2005 itu menyebut suasana pasar kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.

“Untuk saat ini toko aja sekarang banyak yang kosong nih. Memang susah pasar sekarang itu kalau lihat dari kondisi ini kan, paling laris aja Rp 10 ribu, Rp 15 ribu, Rp 20 ribu. Kita bertahan saja di sini,” tutur Edison.

Untuk mempertahankan usahanya, Edison turut mencoba memasarkan dagangannya secara daring meski masih terbatas. Dia mengatakan pasokan kain yang dijualnya berasal dari industri rumahan dan pabrik garmen, namun kini banyak produsen kecil tersebut telah menghentikan operasionalnya.

Menjelang Lebaran 2026, Edison mengaku belum melihat adanya peningkatan permintaan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi pasar yang lesu disebabkan oleh menurunnya aktivitas produksi, sehingga kebutuhan akan bahan baku ikut merosot.

“Biasanya 1 mobil, sekarang 3 rol, 2 rol diantar. Nggak banyak, harga juga jauh. Dari harga Rp 10 ribu, (jadi) Rp 5 ribu sekarang. Ini bertahan karena butuh makan saja,” kata Edison.

Danantara Mau Bikin BUMN Tekstil Senilai Rp 101 T

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan untuk membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus bidang tekstil, seluruh investasi Danantara untuk berbagai sektor harus melalui kajian dan uji kelayakan (feasibility study) dengan berbagai parameter, termasuk dari sisi penciptaan lapangan pekerjaan meskipun profitabilitasnya rendah.

Danantara dikabarkan akan membuat BUMN khusus tekstil dengan nilai investasi USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun. Menurut Rosan pemerintah melihat potensi industri tekstil meskipun banyak aset bermasalah (distressed aset).

"Kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi. Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi pencapaian kita lapangan pekerjaan itu sangat besar," jelasnya usai konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan IV 2025, Kamis (15/1).

Danantara selama ini melakukan penyehatan kepada perusahaan BUMN, dari sisi permodalan juga kepastian pasar atau offtaker. Meski demikian, dia belum bisa memastikan pembentukan perusahaan tekstil tersebut berbentuk BUMN baru atau Danantara hanya berinvestasi.

"Kita masih lihat opsi-opsinya. Belum (definitif)," pungkas Rosan.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Presiden Prabowo Subianto dalam rapat pada Minggu (11/1) di Hambalang, Bogor memberikan arahan agar Indonesia memiliki BUMN baru khusus untuk tekstil.

“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Sehingga pendanaan USD 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga ditemui di Hotel Mulia, Jakarta Selatan pada Rabu (14/1).

Airlangga menjelaskan salah satu bahasan dalam rapat tersebut adalah sektor terdepan yang paling berisiko terkena tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) dan salah satunya tekstil.

Selain itu, Airlangga juga mengungkap saat ini pemerintah sudah membuat roadmap terkait peningkatan ekspor tekstil. Adapun pemerintah menarget ekspor tekstil meningkat dari USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun.

"Garis terdepan dalam trade tarif itu adalah yang risiko tertinggi itu di sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik. Nah terhadap industri ini Bapak Presiden minta defensif posisi kita seperti apa termasuk untuk mencarikan pasar-pasar yang baru dan salah satu kan dari EU-CEPA itu, tapi masih efektif di tahun 2027,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapolda Riau Ajak Gen-Z Tanam Pohon: Perubahan Besar Dimulai dari Aksi Kecil
• 20 jam laludetik.com
thumb
Wanita Tukar Kartu Tap JakLingko Penumpang, Ngaku untuk Beli Susu Anak
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Ijazah Habib Novel Alaydrus: Cara Mengamalkan Ayat 1000 Dinar agar Diguyur Rezeki Tak Disangka-sangka
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Waspada! BRIN Bongkar Fakta Air Sinkhole Sumbar, Mengandung Bakteri dan Logam Berat
• 20 jam lalugenpi.co
thumb
Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang Hilang Kontak di Maros Dikemudikan Pilot Kapten Andy Dahananto Bawa 3 Penumpang, 5 First Officer, dan 2 Awak Kabin
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.