Penulis: Fityan
TVRINews - Bogor, Jawa Barat
Siswa madrasah integrasikan nilai agama dan teknologi AI hingga solusi lingkungan di ajang internasional.
Gelombang inovasi teknologi yang lahir dari institusi pendidikan Islam berbasis agama mulai mendominasi panggung riset remaja.
Sejumlah Madrasah di bawah naungan Kementerian Agama memamerkan beragam terobosan mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga rekayasa lingkungan dalam ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) yang berlangsung di Kampus IPB, Bogor, pada 15–18 Januari 2026.
Kehadiran institusi seperti MTsN 6 Jakarta hingga MAN 6 Jakarta ini menandai pergeseran paradigma pendidikan madrasah. Tidak lagi hanya fokus pada penguatan spiritual, madrasah kini bertransformasi menjadi laboratorium riset yang adaptif terhadap tantangan keberlanjutan global.
Rekayasa Lingkungan dan Ekoteologi
Salah satu sorotan utama datang dari MTsN 6 Jakarta Timur melalui tim Environmental Engineering.
Mereka memperkenalkan solusi praktis berbasis limbah, termasuk bioplastik dari kulit pisang dan biji alpukat, serta deterjen ramah lingkungan.
(Siswa & Siswi MAN 2 Padang Sidimpuan dalam ajang pameran Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) dan Indonesia Young Moslem Inventor Award (IYMIA), di Kampus IPB Bogor (Foto: Kemenag RI))
"Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah," ujar Haryati, guru pembina riset MTsN 6 Jakarta, yang dikutip Biro Pers Kemenag RI sabtu 17 Januari 2026.
Menurutnya, seluruh ide berasal dari siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) dengan pendampingan intensif selama empat bulan.
Langkah ini selaras dengan program 'Ekoteologi' Kementerian Agama, sebuah inisiatif yang menanamkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab religius atau 'khalifah' di muka bumi.
Kecerdasan Buatan dan Mitigasi Bencana
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi tingkat tinggi juga terlihat pada karya MAN 6 Jakarta. Mereka mengintegrasikan sistem sensor LORA dan Artificial Intelligence (AI) untuk pemantauan suhu otomatis.
Keikutsertaan mereka dalam ajang internasional ini merupakan bagian dari budaya riset yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Sementara itu, menjawab tantangan urban di ibu kota, MTsN 40 Jakarta meluncurkan Flame Guard. Ini merupakan prototipe robot pendeteksi dini kebakaran yang dirancang khusus untuk kawasan padat penduduk di Jakarta Barat.
"Anak-anak berinisiatif membuat robot ini karena melihat realitas di lingkungan sekolah yang rawan kebakaran," kata Rana Maulani, pembina MTsN 40 Jakarta. Robot tersebut dikembangkan menggunakan platform Arduino dengan bahasa pemrograman yang disusun secara mandiri oleh siswa.
Transformasi Digital dalam Kesehatan
Kolaborasi lintas sekolah antara MTsN 42 Jakarta dan SMP Islam Al Azhar 22 juga memukau pengunjung melalui aplikasi Skin Intel.
Aplikasi berbasis bahasa pemrograman Python ini mampu melakukan deteksi dini kanker kulit melalui pemindaian foto.
Meski bukan alat diagnosis medis utama, inovasi ini diproyeksikan sebagai langkah deteksi awal bagi masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan spesialis.
Partisipasi luas dari berbagai madrasah, termasuk MAN 2 Padang Sidimpuan dan MAN 13 Jakarta, mempertegas visi Asta Protas Kementerian Agama.
Fokusnya jelas: membangun ekosistem riset yang kokoh dan transformasi digital tanpa meninggalkan akar nilai keislaman.
Pameran GYIIF dan Indonesia Young Moslem Inventor Award (IYMIA) 2026 ini membuktikan bahwa integrasi antara iman, ilmu, dan amal dapat menghasilkan solusi nyata bagi tantangan kemanusiaan masa kini.
Editor: Redaksi TVRINews



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472706/original/076773100_1768373788-7.jpg)
