- Pesawat ATR 42 registrasi PK-THT milik IAT hilang kontak dalam penerbangan Yogyakarta-Makassar pada Sabtu (17/1/2026).
- Kontak terputus setelah pesawat tidak mengikuti arahan pendekatan pendaratan di wilayah Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan.
- AirNav menetapkan status darurat DETRESFA, memicu pengerahan tim SAR Makassar untuk mencari delapan kru dan tiga penumpang.
Suara.com - Sebuah pesawat ATR 42 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Pesawat bernomor registrasi PK-THT itu terakhir terpantau di wilayah Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, sebelum komunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara terputus. Hingga saat ini, pesawat belum mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Informasi dari AirNav Indonesia menyebutkan, pesawat sempat diarahkan untuk melakukan pendekatan pendaratan di landasan pacu Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, pesawat terdeteksi tidak berada pada jalur pendaratan yang seharusnya.
Petugas Air Traffic Control (ATC) kemudian memberikan sejumlah arahan untuk mengembalikan pesawat ke jalur yang benar. Setelah arahan terakhir diberikan, komunikasi dengan pesawat mendadak terputus.
Menyusul kejadian tersebut, AirNav Indonesia menetapkan status darurat DETRESFA, menandakan fase bahaya yang memerlukan pencarian dan pertolongan segera.
Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Makassar langsung mengerahkan dua tim SAR dengan total 15 personel ke area yang diduga menjadi lokasi terakhir pesawat. Pencarian dilakukan dengan dukungan kendaraan operasional serta pemantauan menggunakan drone.
Pesawat ATR 42 tersebut dioperasikan Indonesia Air Transport dan disewa oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Di dalam pesawat terdapat delapan kru dan tiga penumpang.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih berlangsung dan pihak berwenang terus berkoordinasi untuk melacak keberadaan pesawat. Informasi terbaru akan disampaikan seiring perkembangan di lapangan.
Baca Juga: Ketika Bangkai Pesawat Bekas Jadi Peluang Usaha Bernilai Ekonomi


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4980621/original/093451800_1729924771-WhatsApp_Image_2024-10-26_at_13.23.50.jpeg)
