Pantau - Digital detox dipahami bukan sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai upaya menggunakan teknologi secara bijak di tengah pesatnya kemajuan telekomunikasi yang membuat manusia selalu terhubung setiap saat.
Kemajuan internet, ponsel pintar, dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan bersosialisasi.
Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena ketergantungan digital yang ditandai dengan kebiasaan memeriksa notifikasi setiap beberapa menit dan kecemasan saat tidak segera membalas pesan.
Ketergantungan digital dinilai tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Paparan berlebihan terhadap media sosial dan komunikasi digital disebut dapat memicu stres serta rasa cemas.
Tekanan untuk selalu online dan merespons pesan dengan cepat membuat banyak individu mengalami kelelahan mental.
Konsep digital detox menjadi relevan sebagai respons atas kondisi ketergantungan digital yang semakin mengkhawatirkan.
Cal Newport dalam buku Digital Minimalism menekankan bahwa solusi utama bukan menolak teknologi, melainkan memilih secara sadar aktivitas digital yang benar-benar mendukung nilai pribadi.
Pendekatan tersebut memungkinkan seseorang untuk dengan sukarela melewatkan aktivitas digital lain yang tidak esensial.
Nicholas Carr dalam buku The Shallows mengingatkan bahwa arus informasi cepat di internet mendorong manusia mencari stimulasi dangkal dan mengikis kemampuan untuk hening serta kontemplatif.
Kondisi hening dan kontemplatif tersebut dinilai esensial bagi kesehatan psikologis manusia.
Multitasking digital disebut menguras energi otak dan menurunkan kemampuan fokus akibat seringnya perpindahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Carr menggambarkan perubahan pola perhatian ini sebagai pergeseran dari menyelam di lautan kata menjadi meluncur di permukaan seperti jet ski.
Nir Eyal dalam buku Indistractable menambahkan bahwa distraksi digital kerap berawal dari ketidaknyamanan internal seperti bosan, cemas, dan gelisah.
Dengan mengurangi distraksi tersebut, digital detox dinilai mampu memulihkan konsentrasi dan mengembalikan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, baik dalam konteks pekerjaan maupun kehidupan pribadi.


